Dalam Benak

Apa yang membuat mereka bertahan bermacet-macetan seperti ini, saban hari? Kekuatan apa yang sudah memengaruhi mereka untuk menerimanya (karena belum/tidak ada alternatif) atau jangan-jangan kegiatan bermacet-macetan sudah masuk dalam kegiatan rutinitas dalam keseharian mereka?

daftar apa yang akan dikerjakan hari ini

07.00 – sarapan


17.00 pulang
18.00 macet 1
19.00 macet 2


22.00 berusaha tidur
00.00 tidur

Ini yang terbesit dalam benak ketika menjebakkan diri dalam lautan kendaraan ketika melewati Bandung, jalur dari Cicalengka menuju Cimahi.

Menempuh Jarak Lagi

Berangkat lebih pagi, satu jam lebih awal dari perjalanan berkendara motor Desember kemarin. Dengan berangkat awal, jam 06.00 WIB saya bisa sampai di tujuan jam 21.00, lebih cepat. Jarak yang ditempuh kurang lebih 497 KM.
Mungkin ini kekuatan rindu, halah :D. Jadi badan tidak sepegal kali pertama. Mungkin juga istirahat yang cukup malam harinya berpengaruh pada kondisi badan di hari keberangkatan.

Menempuh Jarak Lagi (diatasbumi)
Menempuh Jarak Lagi (diatasbumi)

Perjalanan dari tengah hingga Banjar ditemani matahari yang terik. Memasuki Ciamis sore hari. Langit mulai gelap, awan berkumpul, dan hujan sering turun. Seperti yang dipesankan ibu melalui pesan pendeknya bahwa biasanya di sore hari jawa barat sering turun hujan .

Selepas Nagrek memasuki Cicalengka, ban dalam si roda dua mengalami pecah ban. tidak berjarak jauh saya menemukan bengkel untuk memeriksa ban. Menurut pak Ade, pandai ban, ini ban goreng (jelek dalam bahasa sunda). Maka digantilah ban tersebut, biayanya pun bersahabat, dengan membayar 40.000 saya mendapatkan ban dalam “unggulan”, meski ujar Pak Ade di tempat lain bisa sampai 75.000. Dia menduga kondisi ban panaslah yang menjadi penyebab ban goreng itu mudah pecah.

pecah ban (diatasbumi)
pecah ban (diatasbumi)

Tantangan berikutnya adalah ketika memasuki Bandung, macet bukan main. Dari Cicalengka hingga Cimahi saya harus menempuh waktu lebih dari dua jam. Edan.

Mengenai persiapan si roda dua sehari sebelumnya masuk ke bengkel untuk; mengganti aki, mengganti kanvas rem depan dan juga mengganti kabel spedometer. dengan begitu, si Yama bisa di nyalakan hanya dengan menekan tombol, tidak seperti kemarin-kemarin yang harus menggunakan kick starter – selah kaki.

Lilik, mekanik yang menangani si Yama beranggapan kondisi Yama siap menempuh jarak jauh. Sebagai catatan kopling segera diganti sebaliknya dari perjalanan.

 

25/03/16
anakwayang

Yang-demikian

Yang-demikian selalu senang memelihara ketakutan. Lalu mengumbarnya dengan cara yang dikira menakutkan pula. Agar siapaun juga merasakan ketakutan yang sama, minimal terkena resonansi rasa khawatir berlebih. Sebaik-baiknya ketakutan tetaplah ketakutan. Akan terus menggerus rasa berani berangsur kerdil.

Kenapa macam ketidaktahuan terus merenggut kepala? Tidakkah sekarang mudah dan dipermudah untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Atau jangan-jangan sudah pekak telinganya mendengar untaian kata manis yang jelas-jelas membuat mual karena terlampu manis, dan kebohongan tetap saja menjadi bohong besar. Atau sudah hilang rasa ingin terus berjuang memperbaiki daya pikir. Mudah menyerahkah pada laman-laman pengetahuan yang dengan gegabah bisa menjadi labirin tanpa akhir.

Jelas ada yang membiarkan itu terus terjadi. Ketakutan sengaja dipelihara, ditumbuhkembangkan. Tajam bilah tetap mengancam. Dan kesempatan olah tanya dan olah jawab menjadi pintu penghalang. Yang akan menghambat terbukanya cakrawala cerah. Pintu yang makin ditutup makin menjadi sered dan menyebalkan, atau memang jangan-jangan pintu tersebut sudah tertutup juga terkunci. Ditambah kuncinya yang bisa membantu sengaja disembunyikan dibuat hilang.

Tidakkah sesuatu yang dibuat-buat adalah kekosongan. Mulai bertahap meninggalkan tata cara serampangan. Menggalinya lebih dalam, tanam pertanyaan-pertanyaan yang mengakar kuat untuk menagih janji-janji berupa omong besar.

Sejarah dan pengalaman sudah banyak yang menceritakan dengan baik, lisan dan tulisan. Mempelajarinya dengan hati senang. Berguru pada pengalaman baik maupun buruk sekalipun. Agar baik tetap menjadi baik dan buruk berguguran. Semoga menikmati proses adalah kenikmatan nyata yang ada.

Jauhkan kami dari keterbatasan yang-demikian.

Bangku yang Biasa

bangku-yang-biasa
bangku yang biasa

Dia coba menebak dari sudut yang sulit meski dia tahu bangku panjang yang basah karena hujan sore hari tak bisa mendekatkannya pada pertautan pikir dan tindakan di malamnya yang pendar.

Di dekat depot makanan yang ia sambangi selepas menyanti seharian  dituliskannya sebuah pesan pendek.

“Tidakkah kau jengah?”

Tapi ia bingung harus ke mana atau lebih tepatnya kepada siapa pesan pendek itu akan dikirimkannya.
Sebagai penyanyi yang biasa-biasa saja, ia sadar bahwa kehadirannya hanya sebagai pelengkap struktural. Tak lebih. Agak janggal kalo posisinya itu digantikan dengan sosok serupa kodok saat malam berair, atau kawanan jangkrik yang bersahut-sahutan. Suaranya dibutuhkan memang untuk menyembunyikan sunyi yang lebat.

Sampai ketika ia harus duduk lagi di bangku panjang yang masih saja basah. Hingga ia pun berpikir bahwa hujan telah membangunkannya dari bengong yang jenak. Syahdan dibalik muka yang masih saja menerewang angin malam. Ia mendapat jawaban dari pertanyaan yang ia ketikkan untuk pesan singkat yang  tersimpan sebagai konsep. Diketikkan nomor yang ia hafal dan menyentuh perintah kirim.

Nomor yang ternyata adalah nomornya sendiri. Pesan yang ia kirim sebagai jawaban tidak pernah akan sampai. Dan pertanyaan yang ia ketikkan tetap tersimpan dalam kotak konsep.

“Sampai kapan?”

Sampai aku benar-benar tak mampu mengeja dan bernada bahkan tak bersuara.

Masa iya, karena dia hanya penyanyi yang biasa-biasa saja.

Pakualaman, 18/03

Anakwayang

Kematian yang Ke-sekian-kali-nya

IMG_5140x

Seperti pernah menjerembabkan kepala dalam kubangan cerita yang tak berkesudahan. Waktu terus berputar dan melindas. Meninggalkan kepala yang baru saja dibilas dengan air hangat yang menyegarkan. Bersegera membuka pori-pori kulit kepala, mengajak mata memejam dalam dan melotot segera. Namun apa disangka, kepala yang mudahnya dihempaskan asap dari kalori yang berlimpah.

Namun sudah kiranya kita menerka bahwa kepala yang bergerak tak beraturan. kadanga mengalun, kadang mengguncang, mudah baginya untuk memuntahkan lembar-lembar pertanyaan yang akan dijawab dengan ditemani segelas sirup aroma.

Dirasa perlu untuk menenggelamkan kepala lembek ke dalam kubangan cerita yang itu-itu lagi. atau cerita yang itu-itu saja. Hingga malas juga menjawab pertanyaan absurd dengan siraman materi ceramah keagaamaan yang lebih sering membuat kantuk. Karena tidak menarik, bahkan melenakan.

Bergerak menuju lantai dua, akan membawa kepala semakin dekat dengan loteng kayu rapuh dimakan rayap. Bisa diprediksi angin berkekuatan goyang-goyang pohon kelapa bisa membawa loteng itu ambruk dengan kejap kedipan. jadi kepala yang lembek dan hampir kosong itu pun bentuknya koyak. koyakannya membelalakan lembar-lembar kosong yang sudah dikumpulkan entah dari kapan. Dan kematian datang lagi. Bunga bersamanya, merah pucat kelopaknya. Untuk ke-sekian-kali-nya karena kepala tak bisa menelurkan bentuk-bentuk kepala lainya.

Pertemuan Rukun Tetangga

Malam yang basah setelah seharian diguyur hujan. Saya menghadiri undangan pertemuan bulanan Rukun Tetangga (RT). Ini merupakan pertemuan perdana saya dengan para tetangga satu RT meski sudah hampir 1 tahun menempati rumah sewa.

Dalam pertemuan tersebut saya dikenalkan oleh Ketua RT kepada bapak-bapak yang hadir. Ketua RT juga meminta saya untuk menjadi pranata acara sementara dikarenakan sekretaris RT (yang disebut sekjen) pamit datang terlambat.

Pertemuan dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan Pancasila. :) Baru dilanjut dengan sambutan dari ketua RT dan ketua Rukun Warga (RW), pembacaaan laporan bendahara, arisan.

Adapaun tema yang menjadi bahasan pertemuan adalah kebersihan, perbaikan jalan dan keamanan lingkungan. Kebersihan, mengenai pengecatan ulang tembok di lingkungan karena ulah vandal, masalah sampah (sedang mencari petugas sampah). Kumpul ide tentang perbaikan konblok jalan/gang. Keamanan, tentang keturutsertaan menjaga keamanan lingkungan dalam ronda rutin.

Ketua RW juga menyampaikan beberapa informasi program seperti penerbitan Kartu Identitas Anak (KIA), membuat Akta Kelahiran (pemutihan) dan usulan dari ibu-ibu tentang kegiatan bulan April memperingati hari kartini.

Bulan depan di rumah ketua RW pertemuan akan berlangsung. Minggu depan saya ikut ronda. :)

MXTP GRPSNG

IMG_5203.PNG

Sabtu dan minggu kemarin saatnya kami kembali ke Deles, Ringin, dan Girpasang Klaten. Meski malam berjalan cepat, tidak lupa membuat mixtape untuk mengiring perjalanan maupun ketika bersandar. Langsung saja, mixtape Girpasang:

1. Blur – The Universal
2. Burgerkill – Lanknat
3. Cherry Bombshell – Langkah Peri
4. Deadsquad – Horror Vision
5. Duo Kribo – Neraka Jahanam
6. Elpamas – Memori
7. Fstvlst – Akulah Ibumu
8. God Bless – Kehidupan
9. Jhonny Cash – If I were a carpenter (feat June Carter)
10. Koil – Aku Lupa Aku Luka
11. Komunal – Blues Menuju Trash
12. Leo Kristi – Gula gulagu Suara Nelayan
13. Metallica – The Unforgiven
14. New Rollies – Kemarau
15. Pas Band – Impresi
16. Pink Floyd – Echoes (part 2)
17. Puppen – Atur Aku
18. Radiohead – Lucky
19. Rage Against The Machine – Calm Like a Bomb
20. The Brandals – 24.00 Lewat

Sewon,160301

anakwayang