Tiga Langkah Setelah Instalasi Ubuntu

Jadi beberapa hari ini melakukan perbaikan alat kerja teman-teman di Selatan yakni instalasi ulang  komputer mereka yang terpasang sistem operasi Ubuntu. Dalam melakukan instalasi Ubuntu (OS Sumber terbuka lainnya) ada empat pembagian partisi yang sering saya gunakan.

  • swap (primary) 2x RAM
  • /boot (primary) 500MB, ext4
  • / root ini logical minimal 4GB, ext4
  • dan sisanya bisa dijadikan partisi penyimpanan tetap dengan ekstensi EXT4 maupun NTFS

Setelah instalasi rampung dianjurkan untuk melakukan update melalui terminal dengan mengetikkan:

sudo apt-get update

sudo apt-get upgrade (opsional).

Kalau koneksi terbatas yang diupdate cuma firefox dan thunderbird saja melalui software updater.

Setelah itu dilanjut dengan menginstall aplikasi pendukung utama lainnya yang tidak termasuk dalam paketan Ubuntu.

Audio-video player
Pemutar audio ubuntu menyertakan rhythmbox dan pemutar video menyertakan Videos
Kalau saya rasanya perlu memasang vlc (soal selera saja sebenarnya). untuk instalasi VLC cukup mengetikkan:

sudo apt-get install vlc

Ekstensi media pendukung

ketikkan:

sudo apt-get install ubuntu-restricted-extras

Opsional – Pengolah gambar berbasis pixel

sudo apt-get install gimp

Opsional – Pengolah gambar berbasis vektor

sudo apt-get install inkscape

Opsional – Untuk  remote melalui jalur ssh

sudo apt-get install openssh-server openssh-client

Jadi sebenarnya ntuk teman-teman yang alat kerjanya untuk penggunaan perkantoran standar, hanya ada tiga langkah setelah instalasi. update, vlc, dan ubuntu-restricted-extras.

Sekian. Segitu dulu mula menulisnya. :D

Advertisements

Panggil;

Panggil;

Sudah lama aku tak melihatnya. Mungkin sudah ribuan kata lamanya. Ia yang selalu hadir dengan warna jingganya. Menggelayut di cakrawala bersama gores-gores awan. Di berbagai kesempatan ketika waktu begitu rumit dan hari begitu pelit. Sekedar untuk melangkahkan kaki menuju lantai dua dan menyambutnya adalah hal yang nihil. Padahal dulu kami selalu merayakannya berdua, bertiga, berlima, dan berdiri sendiri.

Sudah lama juga aku tak menyebut namanya. Dalam rangkaian kata-kata yang kususun. Bukannya aku lupa, hanya saja ada yang menarikku ke dalam dan payahnya aku tak mampu untuk melawannya. Aku biarkan ia mulai merasuk dalam kepala jemariku, masuk ke dalam mata telingaku. dan akhirnya hari ini aku bisa menentramkan itu semua. Setelah sepi mengurasku habis.

Sekarang sudah kusiapkan sebuah mantra untuk mengundangnya. Dalam lamunan dan aksara. Dalam ingatan dan ketakutan. Mantra yang akan men-jingga-kan semua langit-langit ruangku. Men-jingga-kan semua langit-langit tamanku. Membuatku terbang bersama pekat alunan musik tanpa vokal, dan menari-nari bersama ketukkan janggal Sang Skenario.

Sudah lama aku tak melihatnya, namun kini aku memanggilnya.

jogja 15/05
anakwayang

Malam;

Malam;

Lekaslah datang malam. Aku sedang tak pas dengan pagi menjelang sore. tak lagi ku sapa senja yang jingga. Dialah malam yang selalu membawaku ke tempat yang ku inginkan. Mendengar suaranya adalah cara untuk menerima keriuhan. Mendengar cerita-cerita adalah membuang kekhawatiran. Dan aku tak pernah tahu sampai kapan, ini akan terjadi.

Siang menjelang sore, ketika riuh manusia sedang menunjukkan siapa dirinya, merebut panggung di berbagai media; dari kertas, elektronik hingga dalam genggaman. Mereka tak sempat lagi menikmati pedasnya sambal nasi padang yang mulai terasa main-main. Mereka tak mempertanyakan kenapa soto lebih banyak kuahnya ketimbang isinya, atau mereka sudah tidak lagi mengantuk setelah menyantap makan siang.

Cemas yang diaduk dalam secangkir kopi, atau mungkin bercangkir-cangkir kopi, itupun terasa ketika malam sudah meninggi. Dengan hanya melihat raganya ada di sampingku. Kurasakan malam yang sedang. Meski yang terjadi adalah aku tak terlalu peduli apa yang sedang terpikirkan, tapi yang terlakukan.

Benar-benar ku dengar apa yang terceritakan, terkeluhkan. Mari malam, latihlah telingaku hingga datang letih waktu.

Jogja, 14/05
anakwayang

Dalam Benak

Apa yang membuat mereka bertahan bermacet-macetan seperti ini, saban hari? Kekuatan apa yang sudah memengaruhi mereka untuk menerimanya (karena belum/tidak ada alternatif) atau jangan-jangan kegiatan bermacet-macetan sudah masuk dalam kegiatan rutinitas dalam keseharian mereka?

daftar apa yang akan dikerjakan hari ini

07.00 – sarapan


17.00 pulang
18.00 macet 1
19.00 macet 2


22.00 berusaha tidur
00.00 tidur

Ini yang terbesit dalam benak ketika menjebakkan diri dalam lautan kendaraan ketika melewati Bandung, jalur dari Cicalengka menuju Cimahi.

Menempuh Jarak Lagi

Berangkat lebih pagi, satu jam lebih awal dari perjalanan berkendara motor Desember kemarin. Dengan berangkat awal, jam 06.00 WIB saya bisa sampai di tujuan jam 21.00, lebih cepat. Jarak yang ditempuh kurang lebih 497 KM.
Mungkin ini kekuatan rindu, halah :D. Jadi badan tidak sepegal kali pertama. Mungkin juga istirahat yang cukup malam harinya berpengaruh pada kondisi badan di hari keberangkatan.

Menempuh Jarak Lagi (diatasbumi)
Menempuh Jarak Lagi (diatasbumi)

Perjalanan dari tengah hingga Banjar ditemani matahari yang terik. Memasuki Ciamis sore hari. Langit mulai gelap, awan berkumpul, dan hujan sering turun. Seperti yang dipesankan ibu melalui pesan pendeknya bahwa biasanya di sore hari jawa barat sering turun hujan .

Selepas Nagrek memasuki Cicalengka, ban dalam si roda dua mengalami pecah ban. tidak berjarak jauh saya menemukan bengkel untuk memeriksa ban. Menurut pak Ade, pandai ban, ini ban goreng (jelek dalam bahasa sunda). Maka digantilah ban tersebut, biayanya pun bersahabat, dengan membayar 40.000 saya mendapatkan ban dalam “unggulan”, meski ujar Pak Ade di tempat lain bisa sampai 75.000. Dia menduga kondisi ban panaslah yang menjadi penyebab ban goreng itu mudah pecah.

pecah ban (diatasbumi)
pecah ban (diatasbumi)

Tantangan berikutnya adalah ketika memasuki Bandung, macet bukan main. Dari Cicalengka hingga Cimahi saya harus menempuh waktu lebih dari dua jam. Edan.

Mengenai persiapan si roda dua sehari sebelumnya masuk ke bengkel untuk; mengganti aki, mengganti kanvas rem depan dan juga mengganti kabel spedometer. dengan begitu, si Yama bisa di nyalakan hanya dengan menekan tombol, tidak seperti kemarin-kemarin yang harus menggunakan kick starter – selah kaki.

Lilik, mekanik yang menangani si Yama beranggapan kondisi Yama siap menempuh jarak jauh. Sebagai catatan kopling segera diganti sebaliknya dari perjalanan.

 

25/03/16
anakwayang

Yang-demikian

Yang-demikian selalu senang memelihara ketakutan. Lalu mengumbarnya dengan cara yang dikira menakutkan pula. Agar siapaun juga merasakan ketakutan yang sama, minimal terkena resonansi rasa khawatir berlebih. Sebaik-baiknya ketakutan tetaplah ketakutan. Akan terus menggerus rasa berani berangsur kerdil.

Kenapa macam ketidaktahuan terus merenggut kepala? Tidakkah sekarang mudah dan dipermudah untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Atau jangan-jangan sudah pekak telinganya mendengar untaian kata manis yang jelas-jelas membuat mual karena terlampu manis, dan kebohongan tetap saja menjadi bohong besar. Atau sudah hilang rasa ingin terus berjuang memperbaiki daya pikir. Mudah menyerahkah pada laman-laman pengetahuan yang dengan gegabah bisa menjadi labirin tanpa akhir.

Jelas ada yang membiarkan itu terus terjadi. Ketakutan sengaja dipelihara, ditumbuhkembangkan. Tajam bilah tetap mengancam. Dan kesempatan olah tanya dan olah jawab menjadi pintu penghalang. Yang akan menghambat terbukanya cakrawala cerah. Pintu yang makin ditutup makin menjadi sered dan menyebalkan, atau memang jangan-jangan pintu tersebut sudah tertutup juga terkunci. Ditambah kuncinya yang bisa membantu sengaja disembunyikan dibuat hilang.

Tidakkah sesuatu yang dibuat-buat adalah kekosongan. Mulai bertahap meninggalkan tata cara serampangan. Menggalinya lebih dalam, tanam pertanyaan-pertanyaan yang mengakar kuat untuk menagih janji-janji berupa omong besar.

Sejarah dan pengalaman sudah banyak yang menceritakan dengan baik, lisan dan tulisan. Mempelajarinya dengan hati senang. Berguru pada pengalaman baik maupun buruk sekalipun. Agar baik tetap menjadi baik dan buruk berguguran. Semoga menikmati proses adalah kenikmatan nyata yang ada.

Jauhkan kami dari keterbatasan yang-demikian.

Bangku yang Biasa

bangku-yang-biasa
bangku yang biasa

Dia coba menebak dari sudut yang sulit meski dia tahu bangku panjang yang basah karena hujan sore hari tak bisa mendekatkannya pada pertautan pikir dan tindakan di malamnya yang pendar.

Di dekat depot makanan yang ia sambangi selepas menyanti seharian  dituliskannya sebuah pesan pendek.

“Tidakkah kau jengah?”

Tapi ia bingung harus ke mana atau lebih tepatnya kepada siapa pesan pendek itu akan dikirimkannya.
Sebagai penyanyi yang biasa-biasa saja, ia sadar bahwa kehadirannya hanya sebagai pelengkap struktural. Tak lebih. Agak janggal kalo posisinya itu digantikan dengan sosok serupa kodok saat malam berair, atau kawanan jangkrik yang bersahut-sahutan. Suaranya dibutuhkan memang untuk menyembunyikan sunyi yang lebat.

Sampai ketika ia harus duduk lagi di bangku panjang yang masih saja basah. Hingga ia pun berpikir bahwa hujan telah membangunkannya dari bengong yang jenak. Syahdan dibalik muka yang masih saja menerewang angin malam. Ia mendapat jawaban dari pertanyaan yang ia ketikkan untuk pesan singkat yang  tersimpan sebagai konsep. Diketikkan nomor yang ia hafal dan menyentuh perintah kirim.

Nomor yang ternyata adalah nomornya sendiri. Pesan yang ia kirim sebagai jawaban tidak pernah akan sampai. Dan pertanyaan yang ia ketikkan tetap tersimpan dalam kotak konsep.

“Sampai kapan?”

Sampai aku benar-benar tak mampu mengeja dan bernada bahkan tak bersuara.

Masa iya, karena dia hanya penyanyi yang biasa-biasa saja.

Pakualaman, 18/03

Anakwayang