Kemenangan Perdana Bianconeri di 2016

Kemenangan Perdana Bianconeri di 2016

Juventus mengawali tahun 2016 dengan kemenangan perdananya melawan Helass Verona di Juventus Stadium. 3 gol bersarang di gawang Gollini. Paolo Dyballa menorehkan namanya di papan skor melalui tendangan bebas yang menakjubkan.

Masih bersama dyballa yang menjadi eksekutor tendangan bebas, melalui kakinya mengantarkan Bonucci menanduk bola yang menghujam gawang Gollini untuk kedua kalinya. Babak pertama Juventus unggul 2 : 0.

Pada menit 82, giliran Zaza yang turut menyumbangkan skor untuk Juventus. Hingga peluit panjang Juventus berhasil membungkus 3 poin manis kemenangan perdananya di 2016. Skor 3 : 0 untuk Juventus.

Dari statistik pertandingan Juventus berhasil menguasai bola sebanyak 53 % dengan jumlah tembakan akurat 6 dari 15 total tembakan.

Awal yang baik.

yk-06/01/2016
anakwayang

nb:

  1. Gambar bersumber dari akun twitter @JCIndoneisa
  2. data statistik bersumber dari goal.com

Pil Kalah

Baru saja laga antara AS Roma melawan Juentus berakhir. Juve kembali menelan pil kalah. Dua gol roma dicetak oleh pjanic dan dzeco. Sedangkan gol juve dipersembahkan oleh Dybala. 

Babak pertama roma terus menekan. Situasi itu membuat Juventus nyaris tak membuat peluang. Barisan tengah Juve yang dikawaal oleh pogba sturaro dan padoin tak bisa mengimbangi permainan cepat Roma sehingga membuat pertahanan Juve harus bekerja keras meredam serangan. Buffonpun dibuat jatuh bangun.

Babak kedua, Juve mulai membangun serangan. Namun roma lebih dulu mendapatkan hasil saat mendapat tendangan bebas. Pjanik sebagai eksekutor berhasil melesakkan bola ke gawang Juventus. Buffon dibuat tak berkutik. Dan dzeko menambah nafas kemenangan untuk roma melalui sundulannya. 

Tempo Permainan roma mulai menurun. Dybala memanfaatkan umpan pereyra sehingga menjadi gol untuk Juventuk.

Telat mengganti dan kartu merah

Allegri, menurut saya telat memasukkan pemain pengganti. Baru Padahal dalam pertandingan tersebut tampak jelas alur bola ke depan tidak lancar karena barisan tengah yang timpang dan tidak kreatif. Kondisi ini diperparah dengan dikeluarkannya evra karena mendapat kartu kuning kedua. 

Awal yang berat. Dua kali mengalami kekalahan. Perjalanan kompetisi masih panjang. Ruang yang ditinggalkan vidal dan pirlo begitu terasa. Tentunya allegri punya skema yang berbeda. Tidak seperti musim lalu. Pemain-pemain Juve adalah “warisan” Conte. Musim ini banyak nama baru. Mudah-mudahan allegri mampu meramu formula yang tepat. Dan juve bisa mengejar ketinggalan. 

FORZAJUVENTUS!

Gedongan. Awal senin.
Anakwayang

Nonton

Liga Inggris telah dimulai. Liga itali minggu depan akan bergulir. Tayangan sepakbola akan kembali menjadi sorotan para pecinta bola, mengisi waktu tengah pekan dan akhir pekan.

Hari ini bersama kawan-kawan JCI Jogja akan berkunjung ke JCI Klaten untuk menonton bareng Final Supercoppa Itali antara Juventus VS Lazio di stadion Olympico kota Roma. Pertandingan akan berlangsung Senin pukul 01:45 WIB.

Semoga Juventus meraih kemenangan. Forza Juventus!

jalansolo, 18agu13

*zn
anakwayang

Bola-bola Beterbangan

Kesal? ah biasa, kalau menonton maupun membaca berita, baik lewat media televisi maupun berita versi digital. Sama saja sajiannya. Bukannya kita sudah sering dibuat begini.? *kita? mendadak lupa ingatan*

Statuta Makan Bola :p

Sepak Bola, Bal-balan, Football, Soccer. Apa-lah itu sebutannya, cabang olahraga yang banyak penggemarnya di dunia termasuk di Negeri Kesatuan Bola Indonesia. Kemarin(20/05) ada Kongres yang tujuannya mereformasi organisasi sepakbola PZZI, memilih ketua baru. Selama kongres pertentangan pendapat berlangsung alot, sudah biasa hal tersebut terlihat ketika terjadi perbedaan pendapat di negeri yang katanya menganut demokrasi ini, apalagi kalau diliput media secara langsung. Eh ujung-ujungnya ricuh, kongres itu tidak selesai, ketua baru PZZI belum jadi dipilih. Peserta kongres ada yang ngotot gak ketulungan. Ketua kongres dan sejajarnya (ada wakil dari PIPA juga) pun meninggalkan ruangan. Kongres (sementara) masuk ke gang buntu.

“Makan tuh bola” kata Adalah. Bola-bali ricuh. “Ini persoalan kok nggak selesai-selesai. Sebenarnya pengen selesai gak sih?” tanya Adalah kepada Si Asbak. Katanya demi kepentingan para pecinta bola se-Indonesia,  tapi kok yang terlihat sepertinya hanya pada golongan-golongan tertentu saja. “Ah mungkin cuaca lagi tidak bersahabat kali ya, sampai-sampai keluar pendapat murni bersifat pribadi dan berumur dini dari pikiran saya” lanjut Adalah.

.. Tanah lapang tinggal cerita, yang nampak hanya para pembual saja..

Iwan Fals – Mereka Ada di Jalan

Di lapangan hijau, warga lapangan sering ricuh, dari pemain dengan wasit, maupun official tim, penonton sama penonton, penonton sama pihak berwajib, ada juga pedagang kacang yang rusuh sama penonton, (ya-iya-lah secara penonton ambil kacang kagak bayar, kan doi jualan bukan sedekah di stadion). :)

Di ballroom hotel yang “wah” pun tidak mau kalah, ikut-ikutan ricuh. Pada merasa benar sendiri. Sepak bola, ya bola yang disepak bukan “numpak bola”, bola ditumpaki atau ditunggangi. Mumet perwakilan dari PIPA yang hadir bersama koleganya, habisnya orangnya eh organisasi induknya “ra genah juga“. Ini maunya itu, itu maunya ini. Habis tenaga ini membahas hal yang hanya membundar tersebut, tapi tak ada habis tenaga untuk bernyanyi dan berharap:

“.. Sepak bola menjadi barang yang mahal..
Milik mereka yang punya uang saja..
Dan sementara kita disini..
Di jalan ini..

Bola kaki dari plastik..
Ditendang mampir ke langit..
Pecahlah sudah kaca jendela hati..
Sebab terkena bola tentu bukan salah.. mereka”..

Iwan Fals – Mereka Ada di Jalan.

Oh Ya Tuhan Yg Maha Juara. Berilah assistMu yg matang kepada mereka-mereka itu yang katanya mewakili keinginan semua pecinta bola negeri ini, agar tercipta gol yang cantik dan prestasi yang menawan. Pokokmen demi Endonesea Jaye.

Selamat ya, kalian patriot-patriot bangsa yang sudah latihan keras semi-militer. Lumayan jika dibanned, persiapkan amunisi kalian bukan untuk menembak bola ke target gawang lawan, tapi kalian akan menembak tenanan, angkat senjata melawan kezaliman PIPA dan para penganutnya.

Karangan ini diketik dalam situasi yang kencot-sekencotnya. Es Teh manis 2 gelas tak mampu mendinginkan kepala dan perut ini.

Horas Nusantara I-IX!

*kencot: lapar, tenanan:benar-benar, ra genah: tidak jelas, mumet:pusing, ngotot: tidak mau kalah.

Anak Wayang (2105)

Bola Sudah (sedikit) Besar

Ketika bola masih kecil kembali memenuhi isi kepala ini. Sedikit kembali mengenang akan cerita bundar itu. Bercerita kisah hidup tentang sepak bola yang sempat menjadi impian. Dan ketika permainan digital dari makhluk bernama Sega dan Nintendo masih menjadi momok bagi orang tua. Permainan nyata jadilah kebiasaan.

bagi bola bagi cerita

Waktu sekolah dasar dulu, tampilan sudah bisa dibilang terinspirasi dengan pemain sepak bola. Sepatu (harus) hitam dengan kaos kaki putih yang panjang, itulah keseharian tampilan ke sekolah.

Disana sekolah merah putih pertama. Bermain bola sebelum bel masuk kelas, atau pas ketika sedang waktu istirahat. Bermain Bola di pekarangan lebih tepatnya, bukan lapangan, tapi tetap saja disebut lapangan. Lapangan SDN 3 Tomalima, Passo-Ambon, tidaklah persegi persis, tidak simetris. Gawang kawan dan lawan seringkali tidak sejajar. Lapangan yang tidak rata, menanjak disalahsatu sisinya, lebih banyak kerikilnya ketimbang rumput. Kondisi itu lagi-lagi bukanlah halangan untuk tetap berlari mengejar bola.

Keterbatasan tetap saja menjadi nikmat tersendiri dan bisa menjadi cerita. (aw)

Sekolah yang bertingkat hingga lantai dua. Di sekelilingnya banyak rumah abadi dari semen, terkadang hanya tanah, belum banyak yang menggunakan keramik saat itu, beratapkan seng selayaknya rumah biasa, yang jika siang hari dengan panasnya Ambon daerah pesisir yang khas,  begitu terasa kilaunya memantul. Sering kali bola menyasar kesana dan kami yang kecil sering saling tunjuk untuk mengambil bola karena takut melangkahi rumah abadi tersebut. toh  agar permainan berlanjut tetap saja bola diambil sambil bergumam permisi-permisi, entah permisi dengan siapa.

Olahraga jadi mata pelajaran yang ditunggu-tunggu, Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan), apalagi kalau bukan alasan sepak bola adalah olahraga. Walau bahasan guru olahraga tidak melulu sepak bola.

Dan kebiasaan itu berlanjut ketika pindah sekolah, dari Ambon ke Jakarta. Tepat kelas 5 SD cawu (caturwulan) ke 2. November 1998, 2 bulan sebelum kerusuhan di Ambon terjadi. Kata Si Nyak, di Jakarta pendidikan lebih baik, meskipun di Ambon banyak yang baik-baik. Dan harus meninggalkan yang baik-baik itu. Rumah Bu’De menjadi rumah sementaraku sampai dinyatakan lulus sekolah dasar.

Pagi-pagi lebih sering berkeringat ketimbang terlihat segar, di kelas buku-buku catatan dan LKS (Lembar Kerja Siswa) menjadi kipas. Komplek sekolah dasar, SDN Wijaya Kusuma 05 Pagi dan tetangga SDN Wijaya Kusuma 07 Pagi. Kami sering beradu bola karena lapangan yang harus dibagi,  ketimbang harus beradu tinju lebih baik berbagi lapangan.

Bola plastik digunakan kenapa bola plastik? bukanya tak mau apalagi tak mampu, hanya untuk menghindari pecahnya kaca jendela, dan juga kalau diambil guru tidak rugi-rugi amat. Terkadang menjadi kiper, kadang-kadang jadi striker-penyerang. Lebih sering tidak menjadi apa-apa alias apa saja boleh posisinya yang penting bermain bola. :D

Sekolah dari pagi hingga siang hari, siang hari sekolah dipakai lagi oleh SDN lain, kode mereka 06 siang dan 08 siang. Pada sore hari dengan teman-teman dirumah yang kebanyakan adalah saudara sendiri, kami sering bermain bola di jalan kampung, dengan got comberan dipinggir-pinggirnya, kalau bola nyemplung, kaki tangan kepala  pasti bau comberan juga.

.. Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja..

“Mereka Ada Di Jalan – Iwan Fals”

Kalau lagi mau, kami pergi ke perumahan Bank Dagang Negara (BDN) Pesing. Disana jalanannya lebar, banyak lahan yang enak buat bermain bola. Sering bertemu dengan teman sekolah juga lalu bergabung bermain bola. Ada stadion juga disana, tapi hanya untuk mereka yang mendaftar di Sekolah Sepak Bola saja. Jadi kami hanya bisa bermain di pelataran parkir stadion tetap tanpa alas kaki.

Hingga cerita, Sepatu bola berwarna merah dan sedikit putih dengan pull yang berjumlah 12, seragam Juventus dengan sponsor D+ bernama punggung Del Piero nomor 10, dan seragam Inter dengan sponsor Pirelli dengan nomor punggung 10 bernama Baggio itulah paket hadiah dari anaknya Bu’de, Si Mbak dengan kekasihnya. Senang bukan main-main. Akhirnya saya punya seragam sepak bola lengkap dengan sepatu nge-jreng. Tak lama berselang seragam AC Parma juga menjadi koleksi, namanya Buffon bernomor punggung 1.

Hingga suatu saat Jakarta pun harus ditinggalkan, Tangerang menjadi tujuan, sempat tidak mau pindah ke Tangerang. Dengan segala bujuk rayu, iming-iming dan salah satunya dijanjikan akan disekolahkan di Sekolah Sepak Bola. Akhirnya mengerti dan menerima pindah tanpa bola maupun dengan bola.

Tidak mudah memang membuat jarak dengan yang baik-baik. Tapi cerita seperti jarak, layaknya huruf-huruf dengan spasinya. (aw)

Pedagang roti sudah lewat, dan geliat kendaran bermotor sudah terdengar lalu lalang. Pagi sudah datang sepertinya, lampu-lampu penerang harus dimatikan, pemanas air sudah dihidupkan, segelas kopi gelap segera hadir. Sampai berlanjut di gelap berikutnya.

Anak Wayang (1905)

Ketika Bola Masih Kecil

Lapangan yang khusus diniatkan untuk menjadi tempat latihan voli itu. Kurang lebih 15 tahun yang lalu.

Dulu ketika Ambon masih menjadi alamat pada tanda pengenal dan surat-surat berharga. Rumah plat merah yang berderet rapi, rumah-rumah yang ditempati kami dan sejawat kerjanya bapak. Tidak jauh dari rumah saya ada lapangan berikut.

Bukan Lapangan Ini

Lapangan tanah yang berpasir, sekelilingnya tumbuh rumput-rumput hijau. Lapangan yang ditakdirkan menjadi lapangan voli, tapi oleh kami lapangan tersebut menjadi lapangan bermain serba boleh, boleh dipakai bermain bola, lompat tali, bermain galasin (gobak sodor), bermain gundu, bermain tinju dan bermain-main lainnya, yang tak boleh hanya bermain-main membangun rumah apalagi istana beneran disana.

Lapangan yang sering membuat koreng (luka) di lutut dan sikut. Telapak dan jari kaki baret (lecet). Karena kami sering bertelanjang kaki menjamah lapangan tersebut, dan sekitarnya yang hidup tumbuhan putri malu berduri. Waktu itu sepatu hanya untuk pergi ke sekolah. Kami bermain bola.

Sebelahnya persis berjarak 2,5 meter, ada lapangan berwarna hijau dengan garis-garis putih, lapangan yang keras, lapangan teruntuk olahraga memukul dan menangkis–bulu tangkis. Lapangan ini digunakan ketika lapangan voli sedang dipakai latihan oleh orang-orang tua.

Disanalah sepakbola mulai menjadi rutinitas tiap sore hari sekolah kami, hari libur bisa pagi dan sore. Tak hanya sepak bola, disanalah pusat kegiatan bermain/berkumpul  anak kecil, anak tanggung, anak besar komplek. Terkadang jauh menjelang sore ketika mentari sedang gagah kami tak menghiraukanya, kami bermain bola. Orang tua kamilah yang hirau.

Bola yang berbahan plastik, dengan gawang yang lebarnya dibuat 3 langkah paksa bocah, dengan penanda disetiap ujungnya menggunakan sendal jepit terkadang batu, penjaga gawang tak paham betul resikonya. Lebar gawang yang mengecil ketika harus bermain di lapangan bulu tangkis, bola gawang kecil tanpa penjaga gawang.

Kami berbagi orang-orang menjadi 2 tim dengan cara mufakat, atau dengan cara suit/gambreng, tergantung yang terlihat batang hidung kakinya di lapangan, jika kurang kami akan menyambangi rumah teman kami, dan berteriak serempak namun tak kompak “namanyaaa, main bola yuukk.”

Kami punya semacam tradisi atau lebih tepatnya perjanjian permainan, dimana kalau tim yang berhasil menjebol gawang lawan dengan cara meng-kopeng (menyundul) bola maka tim lawan yang kejebolan mau tidak mau harus menggendong anggota tim yang membuat skor, menggendong dengan gaya kuda-kudaan, dari gawang satu ke gawang lainnya.

Seakan tak peduli seberapa besar badan mereka. Saya yang dulu kecil dan selalu ramping sering kali dikerjai oleh orang berbadan besar, satu yang saya tebak mungkin karena saya sering mengganggu adiknya. Dengan tergopoh-gopoh menggendongnya, kami selalu gembira riang. Entah kenapa.

Disamping 2 lapangan tersebut berdiri pohon-pohon yang tidak teramat besar tapi cukup untuk sekedar berteduh. Dan sekarang saya pun berteduh dalam kenangan akan kedua lapangan yang mengajarkan untuk terus bergerak. Jika kamu jatuh, segera bangkit, bolehlah sedikit menangis agar mata-mu itu lebih bersih, lalu bergeraklah, tak harus terus berlari.

Bola sedang dalam jari-jari kepala ini siap diumpan esok atau lain hari. Karena teh hangat dan roti kampung rasa coklat pisang keju seharga Rp 1500 sudah siap dinikmati pagi ini. “Syukurlah” ujar Pink Floyd.

Anak Wayang (1805)

Gambar dari sini