Di Balik Diamnya

DSC_6252x

Di balik diamnya terselip jawabanku.
Aku mencarimu.
Dari ruang itu
dari waktu yang berlalu.

Di balik diamnya terhujam lipatan tanyaku
aku mengupasmu
dengan kegelisahan itu
cukup dengan sunyi yang satu

di balik diamnya terjebak heranku
aku aku mencibirmu
berbagai cara pikirku
lubang-lubang dalam jiwaku

di balik diamnya aku begitu rindu
menyebut namamu
luas raga berjingga-jingga
tak berbatas biru samudera

jurugsari,
anakwayang

Advertisements

Sajak Seorang Kawan 2

Ku melintas di dalam alam kegelapan
Ada seorang berdiri di pinggir jalan
Ia tersenyum padaku
Dingin benar benar dingin
Walau ku tak bersentuhan dengannya
Wajahnya
Lukanya
Senyumnya
Tegurnya

Aku melintas di alam malam
Sworang kawan di pinggir jalan
Ia bersuara diam-diam
Bersatu dalam alam kelam
Ia jatuh dalam keluhan
Ia lepas dalam rampasan

Ia tersenyum di pinggir jalan
Seorang kawan yang
Bersatu
Berseberangan
Di pinggir jalan
Ia larut
Larut dalam kenangan

Kopi sophia, 2sep13

*zn
Anakwayang

Sajak Seorang Kawan

Berbaring ia di kasur
Telanjang badannya
Berbaring ia di penghujung malam
Tajam pikirannya
Diam dalam keramaian

Seorang pejalan ia kata
Menempuh satu rimba ke rimva lainnya
Hanya untuk mengejar matahari yang lepas
Terbit atau tenggelam

Rimbanya adalah tempat baringnya
Teduh dan membuat nyaman saja
Rimbanya adalah pikirannya
Memotong, membelah, menghujam
Semua
Yang tak disukainya

Ia berbaring
Masih berbaring
Rimbanya kini kering
Hujan tak ada dari kemarin

Ia masih berbaring
Di dalam pikirannya banyak kata sanding
Badannya rebah
Katanya lemah

Telanjang ia menertawakan
Terluka ia di pelukan
Putar putar putar
Kakinya terua berputar

Putar putar putar
Otaknya terus berputar
Melingkar dan lagi melingkar
Terbaring ia telanjang
Dengan kepala hangus terbakar

kamarhitam, 1Sep13

*zn
Anakwayang

Ia Ternyata Pura-pura

Bertemu dengannya setengah jam lalu.
Senyumnya manis.
Suaranya jangan tanya.
Aku tak pernah menyangka.
Mungkin hanya berbaik sangka.
Kalau memang jodoh harusnya tak ke mana.

Bercerita ia tentang negara
Aku tak pernah menyangka
Bahkan tak juga menduga
Ke sanalah obrolan mengarah
Aku tal ingin ia marah
karena tentu senyumnya
Aku sungguh tak mengerti negara
Apa itu?

Ia terus bercerita
Tentang negara tempat tinggalnya
Yang damai dan bersahaja
Yang petaninya makmur dan merdeka
Yang gurunya pandai bercerita
Yang alamnya punya beribu senja
Yang langitnya berjuta warna
Yang lautnya berjuta sumber daya
Yang mana aku merasa pernah mendengarnya
Tentang cerita tentangnya
Ia yang manis senyumnya
Ternyata hanya berpura-pura
Negara yang diceritakannya
Hanya karangan belaka

Negara mana?
Aku tak pernah mengingatnya
Yang ku ingat hanya senyumnya
Yang merekah jelas di bibirnya
Namun matanya menyimpan luka
Air dari mata menetes, membasahi pipinya.

Kamarhitam, 24sep13

*zn
Anakwayang

Dua Tiga

Dua tiga waktu yang lalu
Ada harap yang terpanjat
Karena ilmu dan pembuka jalab
Melewati belukar
Menepi di lautan

Dua tiga waktu yang lalu
Ada puja yang terungkap
Karena sederhana
Karena baik sangka
Menembus dingin
Mendobrak dinding

Dua tiga waktu yang akan datang
Harapnya masih sama
Bergerak pada jalurnya
Bersuara pada nadanya
Sesederhana saja
Semesta redup
Menikmati hidup

kamarhitam, 18sep13

*zn
Anakwayang