Ayo Ayo Ayo

“Ayo menulis. Menulislah.”

Di kepala gaung itu terus-terusan ada. Mereka seperti berkelahi, ramai sendiri. Dan saya cuma bisa buka terminal ketik password, buka terminal ketik sandi, buka aplikasi teks. bolak-balik peramban. Baca-terapkan how-to how-to.  Bolak-balik baca tulisan serius. Buka sublime kembali, terus si aplikasi teks tetap hanya berisi kata-kata yang tak terangkai. Tak ada paragraf yang selesai.

Kalau bilang ndak ada topik yang bisa dibahas, itu jelas alasan belaka. Topik banyak, jenisnya macam-macam, dari daftar putar lagu-lagu baru yang saya dengarkan. Situasi terkini dari liga-liga lokal dan eropa khususon bagian perpindahan pemain dari satu klub ke lainnya. Atau membaca analisis pertandingan kompetisi pemanasan yang sedang berlangsung.

Sekarang yang paling sering adalah bagaimana membuat dan mengelola mesin jadi aman. Dari cara sederhana mengembalikan sandi basis data. Hingga cara yang berliku dalam mengatur ijin untuk pengguna maupun grup.

Ada juga hal yang terus-terus menjadi pertanyaan. Yakni satu hal yang terus menurun soal ketahanan untuk membaca cerita pendek yang sempat saya gandrungi. Apa yang sedang terjadiiii, haha.

Dari pada menduga-duga. Sekarang satu cerpen perhari untuk dibaca mungkin adalah terapi untuk kembali merutinkan kegemaran membaca karya sastra yang mati suri ini. Jadi kalau ada yang tanya karya sastra terakhir yang benar-benar tuntas tas tas dibaca? Jawabnya bisa dipastikan tidak ada. Hmm.

Kalau begitu bagaimana mau….
Ini nih namanya menulis?

Ya. Jason Ranti bilang, “Aku selalu berdoaaaa”.

Advertisements

Memulai Cerita dari Tanaman

Sudah beberapa kali mencoba untuk menulis di ruang ini, beberapa kali juga cerita-cerita tersebut masuk dalam kotak draft. Setelah memutuskan untuk membuat segar diri dengan mandi. Akhirnya dapat juga apa yang ingin diceritakan, tentang tanaman.

Ada sepetak teras. Di sana saya mulai mencoba menanam cabai, yang bibitnya boleh dapat dari menyemainya. Setelah tumbuh begitu banyak sampai saat ini belum juga -dari sekian tanaman cabai itu- berbuah.

Tanaman cabai termasuk ringkih, mereka berkali-kali terserang kutu putih. Hama tanaman yang menyebalkan dan bandel. Saya sudah mencoba menggunakan pestisida dari olahan bawang putih. Tetap saja kutu tersebut balik lagi dan lagi. Ingin rasanya menggunakan pestisida yang lain. Namun pertimbangannya adalah ramah tidaknya terhadap kucing-kucing.

Selain cabai. Ada juga tanaman bunga. Bunga matahari dan melati. Bunga matahari yang saya dapatkan di PASTY dengan harga 15.000. Kini sudah mulai mekar bunganya. Sedangkan bunga melati yang berharga sama sudah beberapa kali berbunga meski tak banyak.

Tanaman buah tinggal jeruk entah jenis apa. Sirsak boleh dapat karena merupakan suvenir pernikahan kawan kantor.

Tanaman hias ada lidah mertua. Ada banyak lidah buaya. Ada rumput jepang yang saya tanam menggunakan media nampan plastik dan dirijen bekas, rumput-rumput tersebut untuk konsumsi kucing, karena kucing butuh rumput. Ada Spider Plant yang katanya juga disukai kucing selain spider plant adalah sekian banyak tanaman yang telah diteliti NASA kehandalannya dalam menjernihkan udara.

Terakhir, tanaman yang bergabung adalah sirih gading mendapatnya di PASTY. Rencananya tanaman ini akan saya pindahkan ke dalam botol-botol kaca berisi air, kemudia meletakkannya di dalam ruangan. Sebagai penjernih udara.

Segitu dulu, kapan-kapan dilanjut lagi cerita tentang tanamannya.

Yang Luka Telinganya

Ia terus bicara. Terus bicara. Ia yang tak pernah menyadari sesuatu yang terjadi di sekitarnya ternyata akibat dari mata dan mulutnya.

Sosok yang tak pernah lagi menyukai bising, mulai menjauhkan dirinya dari gempita suara. Ia berlatih saban petang setiap hari. Ia melatih dirinya untuk tidak peduli. Dan tidak akan mau peduli pada senja yang meraung-raung menahan pedih.

“Aku tidak merasakan sakit. Aku merasa baik-baik saja. Mengapa ada jingga yang menggumpal di ujung sana.” Dengan nada protes, ia berbicara pada dirinya sendiri.

Sebuah protes yang kesekian kalinya, dengan kalimat dan nada yang sama. Hal yg yang berulang dilakukannya sehabis malam tenggelam menyambut pagi yang masih muda datang.

Keesokkannya begitu juga. Hal yang selalu sama.

“Aku tidak merasakan sakit. aku merasa baik-baik saja. mengapa ada jingga yang menggumpal di ujung sana.” dengan nada protes ia berbicara pada dirinya sendiri.

Ia tunjukan ketidaksukaannya kepada kondisi yang dibuatnya sendiri. Diprotesnya, dicacinya. Dinikmatinya, setiap hari.

Ia duduk jongkok merangkul kedua kakinya, dagunya menyentuh dengkul. Sambil bergoyang konstan ke depan ke belakang. Matanya mengarah ke cakrawala yang luas, menyantap senja dengan matanya, mengusir terang ke peraduan. Ia tahu, ternyata ada gumpalan darah jingga yang mengering, menyumbat telinganya. Ia pun berkata-kata:

“Senja yang sering kulihat itu. Marah. Marah besar padaku. Aku hanya mau melihatnya, hanya mau menikmatinya dengan keterlaluan. Dan tak pernah mau peduli apa yang terjadi padanya. Pada jingga yang luka. Pada raungnya yang menderita.”

“Aku tak pernah mendengarnya. Mataku memperdalam luka. Mulutku melebarkan luka. Tak kunjung reda. Tak lekas lega. Telingaku luka.”

gedongan

anakwayang

Karib yang Sore

Ada yang mati pagi ini. Dalam segelas kopi yang didapatnya dari kekasih hari. Setiap waktunya berlalu. Bergegas dan berlari. Memang atau mungkin tak banyak yang bisa dipilihnya. Ada kedahagaan yang mendorongnya untuk terpacu. Lagi dan kini.

fART simfoni 1.20
fART shemfowni 1.20

Sadar tentang apa yang akan terjadi. Pilihan itu terus menghantui. Bukan! Bukan tak ingin menginjak santun tapak yang berduri. Sudah mengadu dalam deretan angka dan sangka, sudah juga tak merubah apa-apa. Dikuburnya ingatan semakin dalam. Terus menikam dalam. Menyumbulah derik-derik yang tertata. Menantang yoni dengan lingga jati. Bergelut dengan diri. Diulanginya, lagi.

Semakin jauh dan penuh. Melangkahkan kakinya pada pematang yang rapuh. Di sekitarnya hanya lumpur yang merah layaknya darah. Hati-hati betul. Dan siapakah yang memandangnya dari selatan sini. Melihatnya dengan mencuri-curi. Karena jalannya sudah dipilih. Tak mulus dan lurus. Tak terpojok dan berkelok.

Masih terekam suaranya ini. Yang melantun ngeri, sengaja membuat bergidik nuansa dekatnya. Aroma degup tak melulu menjadi gugup. Rajang-merajang senyum yang terbelah.

Terjaga pada malam yang turut menyimpan senja di kepalanya. Irama-irama gelisah jadi melotot mata. Langit ungu, pagi dini di kepalannya. Pagi kini rampang yang coba digenggamnya. Berkariblah dengan takut dan celaka saat sore berjelaga.

Sekilas, Kesendirian Pikir antara Mulut yang Masih Enggan dan Telinga yang Rusak

kumasih tak dapat memahami
hanya pagi mencoba
awali semua dalam tanda tanya
sesaat namun menyiksa jiwa

Selamat malam kisah waktu. Darimu aku ingin mendengar cerita, baik dan buruk, tetap cerita. Dan aku selalu ingin mendengar ceritamu. Karena aku tahu kamulah lebih memahami bagaimana bercerita itu.

Dari pertemuan kita yang rumit di dalam sebuah ruang tanpa sekat yang sempit dan singkat. Kini kita sudah tahu, bahwa aku tak lagi akan berada di sana untuk waktu. Namun ketika kamu masih bercerita, percaya boleh tidak juga boleh. Aku sedang berada di sana. Mendengarmu dan juga meledekmu. Kamu tahu bahwa kita tercipta dari sebuah reruntuhan peradaban purba. Yang mana saat ini kamu adalah kamu dengan mulut yang sedikit bercerita. Dan Aku adalah aku, telinga yang telah sering mendengar banyak jenis cerita. Dan terkadang kamu bilang itulah mengapa telingaku rusak sebelah. Namun toh aku bisa mendengarkan bukan? Dan kini kamu telah menjadi seorang pandai—Bercerita.

Peradaban saat itu, dan harusnya juga kini, selalu mengajarkan kita untuk tidak berdiam diri. Pada hal yang tak pernah kita mengerti. Mengajak langkah-langkah kecil yang tertatih menuju pemahaman tak kurang tak lebih.

Entah besok. Bisa jadi kebalikan kamu menjadi aku, aku menjadi kamu. Dan kita tak pernah menjadi mereka, tak akan pernah. Tak akan pernah mau juga. Buat apa menjadi yang bukan kita! Katamu dan sedikit saja sepakatku pada hal ini.

Tentang semua yang pernah coba kita tukar dengan beberapa lembar kegembiran tak bisa menjawab pertanyaan juga tentang lembar-lembar keanehan yang berulang. Yang coba kita jawab seperti teka-teki silang. Yang entah mengapa hanya menurun dan mendatar? Kenapa tidak menaik atau menanjak.

Sekira hal-hal demikin itu yang suka menyanderamu dalam kesendirian pikir, mendera jiwamu yang ingin terbang melayang saat ini. Maka seperti yang sudah-sudah. Aku siap mendengarkan ceritamu.

datang dan pergi aku tak mengerti
dari jalanan sepi seperti mereka
menatap malam penuh curiga

Ceritamu waktu itu begini. Aku yang pergi terlalu sering dengan diriku sendiri, mendapati ribuan bahkan ratus ribuan pertanyaan, yang sekarang malah membuatku kenyang tapi bingung. Ketika aku mencuri kesempatan untuk menjaga jarak dengan diriku sendiri, larut di dalam suasana yang jauh dari jangkauan mulut-mulut lebar. Aku semakin menumbuhkan anak-anak itu. Ya anak-anak yang bernama biar saja, apa peduli. Dan kini aku tak bisa mengendalikan mereka, mereka menguasai imajinasiku. Untuk selalu berbuat seperti nama anak-anak itu. Inginku redam kekuatan mereka namun.

“Kamu tahu?” Kamu mengambil nafas jeda.

“Tidak.” jawabku. Kamu membuang nafas yang kamu ambil barusan.

Kamu tidak akan tahu. Karena ia bergerak di luar kendaliku. Menganggap remeh pada telingamu yang rusak. Dan kini anak-anak itu ingin mempunyai anak lagi. Mereka sudah siap menjadi banyak karena diriku sendiri yang terlampau asik membuat istana bagi bukan kita. Padahal aku sudah sering diingatkan oleh siapa saja, siapa mereka itu. Diingatkan oleh mereka yang terjaga, para penjaga. Namun aku selalu pura-pura mendengar, karena aku menghabiskan energi untuk mulutku, ya mulutku, agar pasti wanginya, agar pasti lihainya lidahku menari, ketika di hadapan mereka. Namun herannya ketika bertemu dengan telingamu yang menurutku rusak itu. Kendali kebali ada di tanganku sepenuhnya. Anak-anak itu tidur pulas. Oh ya anak-anak yang akan lahir sudah mereka berika nama biar saja tandaseru, peduli apa tandatanya tandaseru. Aku benar-benar curiga anak-anak itu akan melahirkan curiga berikutnya. Pada siapa saja, siapa mereka itu. Malam pagi, siang hari, senja pergi.

kau mencoba..
Memaksaku bicara
Haruskah dengan senjata
kumasih tak percaya

Suatu ketika cerita lainnya darimu. Masih dalam ruang yang sama. Ruang yang rumit, sempit dan tak banyak waktu. Aku berlari-lari dengan imajinasiku. Padahal jelas badanku yang duduk di balik bayanganku sedang menatap mereka bicara. Tapi mereka membawa senjata. Aku tidak. Lebih tepatnya lupa. Aku kira pertemuan itu bukan lagi percakapan. Namun sangkaku keliru. Percakapan harus dilakukan. Untuk membuatku lebih bangun, dan bangkit, agar aku tak hanya berdiam melihat, laparnya anak-anak bernama keingintahuan. Mereka tidak memaksaku bicara. Tapi memberikan kesempatan yang sebenarnya selalu aku punya untuk bicara. Diriku terus memaksaku bicara. Tapi diriku yang lainnya berlari dengan kreasiku yang nanti akan kubuat untuk membuat mereka terguncang. Aku tak percaya dua diriku ini selalu membuatku bingung.

kumasih tak dapat menjawabnya
dimana malam berada
akhiri semua lenyap tak tersisa
senjata ditangan siap melintang

Aku merasa, tak berdaya. Karena imajinasiku sendiri. Mereka selalu membawa anak-anak baru yang tak sempat lagi kuberikan nama pada mereka. Karena aku sendiri selalu larut mencari jawab pada malam-malam itu. Dalam terang yang biasa saja. Aku terus menjauh. Jauh dari yang pernah kuceritakan perihal rangkaian mimpiku padamu itu, tentang pembaharuan.

seranglah saja buktikan caranya
banyak sudah meminta jiwa
telah terpikir banyak bicara
tiba-tiba
darah dan luka di jalan utama

Kamu terus bercerita karena memang sudah semestinya. Kini aku hanya bisa berharap pada telingamu yang rusak itu untuk mendengarkan ceritaku. Aku akan berubah sekian banyak derajat ketika bertemu dengan telinga yang awam. Yang masih siap aku jejali cerita-cerita membanggakan tentang diriku sendiri. Aku akan banyak bicara pada mereka hingga mereka hanya diam dan sungkan berbicara denganku lalu akan mudah bercerita dengan orang lain. Karena aku terlalu jumawa untuk mendengar cerita “tak menarik” dari mereka. Cerita yang mudah kutebak dengan hanya melihat apa yang mereka sudah baca.

kau mencoba..
memaksaku bicara
haruskah dengan senjata
dan ku tak berselera

Diriku yang lain terus memaksaku bicara. Karena memang sudah bagianku. Namun bicara yang membuat mereka berselera lalu datang bercerita padaku. Persetan dengan diriku yang lain, yang tak berselera itu. Agar anak-anak yang tadinya menguasai imajinasiku, bisa kuredam benar. Menggantikan mereka dengan anak-anak bernama, Belajar, Main, Bersama. Agar aku tak lagi harus bercerita padamu, pada telingamu yang rusak itu karena telingaku sendiri sudah rusak sepertimu. Yang sebentar lagi akan terpisah waktu.

Jurugsari, empat di bulan April 2014.

Catatan:

Baris kalimat yang bercetak miring dan menjorok ke dalam adalah lirik lagu Sekilas milik The Sastro pada album Vol.1. Album wajib dengar dengan lirik berbahasa Indonesia yang hebat nan sederhana diperkaya aransemen musik yang menakjubkan. Cerita ini terpacu begitu mendengar lagu ini, lirik lagu yang mendorong untuk bercerita.

Pernah suatu kesempatan memutar lagu-lagu The Sastro sebagai kawan perjalanan melintasi Jalur Selatan Pacitan yang sepi, berkelok, panjang dan mulus (macam kaki model, huekekeke). Saya merasakan sensasi yang “membuat ketagihan”. Dengan kecepatan, suasana habis hujan, musik bagus, tanpa “hal aneh-aneh” saya merasa sedang “melayang-layang” hingga lubang di jalan yang tertutup genanganpun cemburu lalu menjegalku.

“Bajilak”nya dalam menggarap rangkain ini, saya harus menutup jendela kamar. “Ada” yang senang lewat dengan sekilas ternyata. Jangan-jangan Hantu TV (huehekekeke).

 

Dengar Dengar

Ia yang tumbuh berkembang di antara orang-orang yang pandai berbicara. Mulai kehabisan kata demi kata. Karena mulutnya sengaja dibungkam oleh telinganya sendiri. Telinga yang terlatih untuk mendengar dengan baik. Bukan hanya untuk mendengar yang baik-baik.

Lahir dari kerongkongan jaman. Saat negeri yang dihuni berbagai kelompok yang senang memasang muka di antara deretan pohon-pohon. Kelompok yang dengan amat-sangat bangga mengatakan bahwa jika kalian berteman dengan kami, maka kalian akan selamat sealamanya. Kelompok yang saban hari, saban petang bersembunyi untuk menyusun strategi bagaimana mendahului datangnya fajar. Dengan bingkisan manis dan kata-kata langit. Oh. Kelahiran yang sunguh tepat untuk menjadi orang yang terasing, bahkan dipinggirkan. Karena kata-kata sudah sedemikian rupa dihias hingga menjerumuskan sebagian dari mereka cepat sekali belajar membaca tanpa melewati proses belajar mengeja.

Ia yang suka berdiri, berdiam diri di sudut rak buku sana. Dengan halaman-halamn yang ia santap dengan nikmatnya. Melihat kursi seperti penggoda hebat. Dijauhinya. Dihindarinya. Duduk hanya ketika buku-buku itu telah membuatnya kenyang. Lalu bersandar sebentar memanjakan mata untuk melihat lebih datar. lebih Sejajar dengan temannya. Tak lebih tinggi, tak lebih rendah.

Ia benar-benar pendiam. karena memang itu yang bisa dikuasainya. Mendengar. Berbicara sekali kata, duakali kata. Secukupnya. Untuk tidak benar-benar dianggap bisu. Karena bukannya ia tak bisa bicara. Orang-orang disekitarnya lebih mahir dengan itu. Sehingga ketika mereka bersamaan berbicara. Sudah tak ada lagi yang ingin mendengar. Mendengar hanya agar tak dibilang tak sopan selebihnya. Melayang. Terbang.

Seperti air yang akan mengalir kelaut dan berubah menjadi uap ke atas langit. Lalu menjadi air kembali menghujam darat. Lalu dna lalu ke laut lagi. Mendengar-itu yang menghantarnya menuju peti mati. Karena kata-kata yang keluar dari mulut-mulut yang-entah-kenapa-selalu-menyebarkan-wangi-wangian bersekongkol menggotongnya, memotongnya, hingga kata-kata kembali keluar dari mulutnya. Bicaralah.

“Mendengarlah” kata terakhir sebelum peti mati itu ditutup dan diarungkan di sungai.

Gedung di antara yang 5 dan 7. 4 Maret 14.
nz_anakwayang

Tempat Bermain

Taman bermain di tengah kota.
Tempat bercanda dan bercengkrama.
Melepas lelah, bersandar badan juga.

Tempat bermain di taman kota
Tempat bercerita dan berbagi kisah,
merangkai rasa, membentuk percaya.

Tempat bermain di taman tengah kota.
Cuma tinggal harap saja.
Setelah lahan kota tak lagi bersahaja
Tumbuh gagah gedung-gedung serakah.

kamarhitam, 26sep13

*zn
Anakwayang