Sudah lama aku tak melihatnya. Mungkin sudah ribuan kata lamanya. Ia yang selalu hadir dengan warna jingganya. Menggelayut di cakrawala bersama gores-gores awan. Di berbagai kesempatan ketika waktu begitu rumit dan hari begitu pelit. Sekedar untuk melangkahkan kaki menuju lantai dua dan menyambutnya adalah hal yang nihil. Padahal dulu kami selalu merayakannya berdua, bertiga, berlima, dan berdiri sendiri.

Sudah lama juga aku tak menyebut namanya. Dalam rangkaian kata-kata yang kususun. Bukannya aku lupa, hanya saja ada yang menarikku ke dalam dan payahnya aku tak mampu untuk melawannya. Aku biarkan ia mulai merasuk dalam kepala jemariku, masuk ke dalam mata telingaku. dan akhirnya hari ini aku bisa menentramkan itu semua. Setelah sepi mengurasku habis.

Sekarang sudah kusiapkan sebuah mantra untuk mengundangnya. Dalam lamunan dan aksara. Dalam ingatan dan ketakutan. Mantra yang akan men-jingga-kan semua langit-langit ruangku. Men-jingga-kan semua langit-langit tamanku. Membuatku terbang bersama pekat alunan musik tanpa vokal, dan menari-nari bersama ketukkan janggal Sang Skenario.

Sudah lama aku tak melihatnya, namun kini aku memanggilnya.

jogja 15/05
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s