Lekaslah datang malam. Aku sedang tak pas dengan pagi menjelang sore. tak lagi ku sapa senja yang jingga. Dialah malam yang selalu membawaku ke tempat yang ku inginkan. Mendengar suaranya adalah cara untuk menerima keriuhan. Mendengar cerita-cerita adalah membuang kekhawatiran. Dan aku tak pernah tahu sampai kapan, ini akan terjadi.

Siang menjelang sore, ketika riuh manusia sedang menunjukkan siapa dirinya, merebut panggung di berbagai media; dari kertas, elektronik hingga dalam genggaman. Mereka tak sempat lagi menikmati pedasnya sambal nasi padang yang mulai terasa main-main. Mereka tak mempertanyakan kenapa soto lebih banyak kuahnya ketimbang isinya, atau mereka sudah tidak lagi mengantuk setelah menyantap makan siang.

Cemas yang diaduk dalam secangkir kopi, atau mungkin bercangkir-cangkir kopi, itupun terasa ketika malam sudah meninggi. Dengan hanya melihat raganya ada di sampingku. Kurasakan malam yang sedang. Meski yang terjadi adalah aku tak terlalu peduli apa yang sedang terpikirkan, tapi yang terlakukan.

Benar-benar ku dengar apa yang terceritakan, terkeluhkan. Mari malam, latihlah telingaku hingga datang letih waktu.

Jogja, 14/05
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s