Bangku yang Biasa

bangku-yang-biasa
bangku yang biasa

Dia coba menebak dari sudut yang sulit meski dia tahu bangku panjang yang basah karena hujan sore hari tak bisa mendekatkannya pada pertautan pikir dan tindakan di malamnya yang pendar.

Di dekat depot makanan yang ia sambangi selepas menyanti seharian  dituliskannya sebuah pesan pendek.

“Tidakkah kau jengah?”

Tapi ia bingung harus ke mana atau lebih tepatnya kepada siapa pesan pendek itu akan dikirimkannya.
Sebagai penyanyi yang biasa-biasa saja, ia sadar bahwa kehadirannya hanya sebagai pelengkap struktural. Tak lebih. Agak janggal kalo posisinya itu digantikan dengan sosok serupa kodok saat malam berair, atau kawanan jangkrik yang bersahut-sahutan. Suaranya dibutuhkan memang untuk menyembunyikan sunyi yang lebat.

Sampai ketika ia harus duduk lagi di bangku panjang yang masih saja basah. Hingga ia pun berpikir bahwa hujan telah membangunkannya dari bengong yang jenak. Syahdan dibalik muka yang masih saja menerewang angin malam. Ia mendapat jawaban dari pertanyaan yang ia ketikkan untuk pesan singkat yang  tersimpan sebagai konsep. Diketikkan nomor yang ia hafal dan menyentuh perintah kirim.

Nomor yang ternyata adalah nomornya sendiri. Pesan yang ia kirim sebagai jawaban tidak pernah akan sampai. Dan pertanyaan yang ia ketikkan tetap tersimpan dalam kotak konsep.

“Sampai kapan?”

Sampai aku benar-benar tak mampu mengeja dan bernada bahkan tak bersuara.

Masa iya, karena dia hanya penyanyi yang biasa-biasa saja.

Pakualaman, 18/03

Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s