Kopi, Lesehan dan Senandung Takbir

Malam takbiran Idul Adha kali ini saya memilih menikmati kopi di luar. Setelah berkeliling, dapatlah tempat ngopi di sekitaran Tugu, bukan kedai kopi seperti biasanya. Karena nuansa layaknya angkringan. Ada yang duduk mengitari gerobak angkringan, ada juga yang lesehan di tikar yang disediakan. Dari deretan nama ragam kopi. Kopi toraja saya pilih.

a
Lalu lalang kendaraan yang entah kenapa tak berkesudahan menjadi panorama bergerak. Obrolan kawan se”kopi”an jadi suara sajian bertarung dengan musik yg diputar penyaji kopi.

Noise tercipta. Bermacam suara yang hadir seperti mengajak kita larut. Pawai takbiran yang sesekali lewat. Baik yang berjalan kaki, maupun yang menaiki kendaran bak terbuka. Juga mengambil perannya.
Namun saya memang sedang tidak hirau. Karena memang saya sedang tenggelam, mencoba hadir di rumah. Menemani makan ayah bunda di rumah. Mengurai kesedihan yang tertuliskan di pesan.

Entahlah, mungkin Rindu seperti memiliki kaki. Ialah yang mengajak saya kemari. Menikmati kopi, jalanan, dan takbir yang berkumandang, sesekali menikmati tulisan.

Meminjam syair semakbelukar: nikmat waktu luang kesehatan.

Selamat Idul Adha bagi yang merayakan.

Tugu, 24/09
anakwayang

2 thoughts on “Kopi, Lesehan dan Senandung Takbir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s