Meniadakan Angin di Malam Dingin

Perbedaan dalam pandangan terjadi dalam sebuah peristiwa pertumbuhan. Semua elemen yang ada ingin berperan. Sejauh mana mereka akan serius dalam memerankan tokoh dalam peristiwa. Sebagian sudah terjawab dalam tanya jawab, dalam waktu yang tidak sebentar itu. Sebagian lagi menjadi misteri di dalam benak masing-masing pemeran. Pertanyaan yang sepatutnya timbul adalah jika memang peran itu tidak jatuh jatuh pada diri? Masihkah keinginan untuk tetap berjalan bersama mendukung peran lainnya dengan modal kesadaran belajar bersama?

Semua peran yang maju punya rencanannya. Semua peran yang ada bisa mengajukan cita-cita yang idela saat itu. Namun yang menjadi catatan. Dinamika peristiwa tidak melulu mulus dengan cita-cita tersebut. Di dalamnya sering terjadi gesekan, sering terjadi permainan tempo, sering terjadi kelabilan api semangat. Bagaiman yang sering-sering itu bisa dikelola.

Peran-peran yang ada akan berbagi tugas mengelolanya. Tidak bergantung pada satu atau dua peran saja. Saling mendukung dan saling mengingatkan. Agar lajur yang digunakan memang lajur yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Beberapa terobosan bisa dicoba. Layak dicoba. Namun juga merancang bagaimana jalan ceritanya. Jika tidak sesuai apa yang akan dilakukan. Segera atau bertahap.

Juga permainan. Bermain bersama sudah menjawab naik turunnya intensitas. Banyak yang sudah mengalami. Mereka yang telah lebih dulu memerankan itu semua telah membuktikan bahwa bermain bisa jadi cara yang ampuh “membunuh” kedataran. Agar tidak melulu bayang-bayang “paksa” menghantui. Karena ada yang bilang jika dalam melakukan sesuatunya dalam kondisi senang menjadi nilai lebih bagi pemeran.

Bicara hasil tak perlu lama-lama karena bukan itu yang menjadi tema utama. Proses adalah semangat yang dijaga. Beberapa person percaya dalam proses peran-peran tadi akan banyak simpul, emosi, daya pikir, olah imaji berpapasan untuk saling menopang. Hingga pada titik tertentu, kenikmatan berproses adalah hasil itu sendiri.

Dan pada malam yang dingin, kita tidak sedang membutuhkan hembusan sehingga mengada-adakan angin. Karena kehangatan bisa lahir dari rahim yang berbeda pandangan. Minum kopinya nikmati cerita berikutnya.

Selamat berperan. Selamat berproses.

Gedongan
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s