Karib yang Sore

Ada yang mati pagi ini. Dalam segelas kopi yang didapatnya dari kekasih hari. Setiap waktunya berlalu. Bergegas dan berlari. Memang atau mungkin tak banyak yang bisa dipilihnya. Ada kedahagaan yang mendorongnya untuk terpacu. Lagi dan kini.

fART simfoni 1.20
fART shemfowni 1.20

Sadar tentang apa yang akan terjadi. Pilihan itu terus menghantui. Bukan! Bukan tak ingin menginjak santun tapak yang berduri. Sudah mengadu dalam deretan angka dan sangka, sudah juga tak merubah apa-apa. Dikuburnya ingatan semakin dalam. Terus menikam dalam. Menyumbulah derik-derik yang tertata. Menantang yoni dengan lingga jati. Bergelut dengan diri. Diulanginya, lagi.

Semakin jauh dan penuh. Melangkahkan kakinya pada pematang yang rapuh. Di sekitarnya hanya lumpur yang merah layaknya darah. Hati-hati betul. Dan siapakah yang memandangnya dari selatan sini. Melihatnya dengan mencuri-curi. Karena jalannya sudah dipilih. Tak mulus dan lurus. Tak terpojok dan berkelok.

Masih terekam suaranya ini. Yang melantun ngeri, sengaja membuat bergidik nuansa dekatnya. Aroma degup tak melulu menjadi gugup. Rajang-merajang senyum yang terbelah.

Terjaga pada malam yang turut menyimpan senja di kepalanya. Irama-irama gelisah jadi melotot mata. Langit ungu, pagi dini di kepalannya. Pagi kini rampang yang coba digenggamnya. Berkariblah dengan takut dan celaka saat sore berjelaga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s