Malu (Aku)

Di sosial media, seorang kawan memasang status panjang berupa satu karya Taufik Ismail di akunnya. Tak asing membaca karya tersebut, berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Karya yang pernah lekat di hari-hariku yang lalu. Saat masih menjadi peserta didik di sekolah menengah atas. Karya yang ikut mewarnai putih abu-abuku.

Pada masa itu, karya sastra seperti puisi masih menjadi “hal lama” yang seperti baru. Hal lama karena dari sekolah dasar sudah dikenalkan dengan puisi atau karya sastra lainnya, namun kenapa terasa seperti baru pada masa itu? Hal baru yang menyenangkan. Dugaanku, mungkin karena dua hal yaitu sepakbola dan musik masih menjadi santapan harian yang mendominasi. Dan membaca (karya sastra) lebih belum ikut terdaftar dalam dominasi ketertarikan.

Dengan karyanya itu aku dibuat berpikir ulang, berpikir lagi, ulang dan ulang, dibuatnya bingung. dibuatnya terkesima, lebih banyak diam dan membayangkan apa yang tergambar, mencoba menebak dari mana kata demi kata bisa terlibat. Lalu tumbuhlah ketertarikan, walau sedikit. Mulai mencoba suka dengan wewangian puisi. Terus membaca karya-karya lainya, karya-karya orang lain. Menerka pesan yang terkandung di dalam rangkaian kata-kata tersebut, mengkaitkan dengan cerita atau sejarah yang pernah tersiar. Dan belum tahu bagaimana berpuisi, apalagi membuat puisi. Dibuat malu (aku).

Masa itu, belum ada teman yang bisa diajak berbincang tentang puisi. Apalagi pergolakan tentang dunia sastra yang lebih luas, tantang dua atau lebih kubu kebudayaan yang berseteru. Tentang kritik-kritik yang menggelitik penuh intrik. Tentang godaan sosial dan budaya dalam berproses. Tentang politik-ekonomi yang mungkin turut campur dalam pengadaan buku pada perpustakaan sekolah. Tentang tangan-tangan kotor yang dengan sistemik membuat perpustakaan-bahan baca hanya dipenuhi buku-buku yang cenderung berkesempatan tinggi dan laju yang kencang untuk dijadikan pijakan sarang laba-laba, berdebu, rusak dan tak menarik.

Topik yang menjadi tren saat itu adalah sepakbola, musik, lika-liku tongkrongan, pekerjaan rumah, ulangan, juga cerita nakal dan cinta. Apalagi ketika menginjak akhir-akhir masa tiga tahun lamanya sekolah. Eksakta benar-benar menjelma menjadi teman sekelas yang manja minta menjadi karib. Namun beruntungnya aku pernah berkenalan dengan karya tersebut pernah punya cerita tentangnya dan juga perpustakaan tempat buku itu bersandar menunggu tangan untuk memberi nafas pada lembar ke lembar, halaman ke halaman.

 

Ah, Malu (aku). Musababnya bisa jadi dari sana, pasangan status dari seorang kawan. Menguak tentang cerita ketertarikan. Barulah kutengok tamanku ini dan kucorat-coret sebisa mungkin. Apa kabar buku itu? Perpustakaan sekolah? Taufik Ismail? Semoga selalu dalam lindungan Yang Maha Puisi.

Jurugsari, 200514

zanij

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s