Sekilas, Kesendirian Pikir antara Mulut yang Masih Enggan dan Telinga yang Rusak

kumasih tak dapat memahami
hanya pagi mencoba
awali semua dalam tanda tanya
sesaat namun menyiksa jiwa

Selamat malam kisah waktu. Darimu aku ingin mendengar cerita, baik dan buruk, tetap cerita. Dan aku selalu ingin mendengar ceritamu. Karena aku tahu kamulah lebih memahami bagaimana bercerita itu.

Dari pertemuan kita yang rumit di dalam sebuah ruang tanpa sekat yang sempit dan singkat. Kini kita sudah tahu, bahwa aku tak lagi akan berada di sana untuk waktu. Namun ketika kamu masih bercerita, percaya boleh tidak juga boleh. Aku sedang berada di sana. Mendengarmu dan juga meledekmu. Kamu tahu bahwa kita tercipta dari sebuah reruntuhan peradaban purba. Yang mana saat ini kamu adalah kamu dengan mulut yang sedikit bercerita. Dan Aku adalah aku, telinga yang telah sering mendengar banyak jenis cerita. Dan terkadang kamu bilang itulah mengapa telingaku rusak sebelah. Namun toh aku bisa mendengarkan bukan? Dan kini kamu telah menjadi seorang pandai—Bercerita.

Peradaban saat itu, dan harusnya juga kini, selalu mengajarkan kita untuk tidak berdiam diri. Pada hal yang tak pernah kita mengerti. Mengajak langkah-langkah kecil yang tertatih menuju pemahaman tak kurang tak lebih.

Entah besok. Bisa jadi kebalikan kamu menjadi aku, aku menjadi kamu. Dan kita tak pernah menjadi mereka, tak akan pernah. Tak akan pernah mau juga. Buat apa menjadi yang bukan kita! Katamu dan sedikit saja sepakatku pada hal ini.

Tentang semua yang pernah coba kita tukar dengan beberapa lembar kegembiran tak bisa menjawab pertanyaan juga tentang lembar-lembar keanehan yang berulang. Yang coba kita jawab seperti teka-teki silang. Yang entah mengapa hanya menurun dan mendatar? Kenapa tidak menaik atau menanjak.

Sekira hal-hal demikin itu yang suka menyanderamu dalam kesendirian pikir, mendera jiwamu yang ingin terbang melayang saat ini. Maka seperti yang sudah-sudah. Aku siap mendengarkan ceritamu.

datang dan pergi aku tak mengerti
dari jalanan sepi seperti mereka
menatap malam penuh curiga

Ceritamu waktu itu begini. Aku yang pergi terlalu sering dengan diriku sendiri, mendapati ribuan bahkan ratus ribuan pertanyaan, yang sekarang malah membuatku kenyang tapi bingung. Ketika aku mencuri kesempatan untuk menjaga jarak dengan diriku sendiri, larut di dalam suasana yang jauh dari jangkauan mulut-mulut lebar. Aku semakin menumbuhkan anak-anak itu. Ya anak-anak yang bernama biar saja, apa peduli. Dan kini aku tak bisa mengendalikan mereka, mereka menguasai imajinasiku. Untuk selalu berbuat seperti nama anak-anak itu. Inginku redam kekuatan mereka namun.

“Kamu tahu?” Kamu mengambil nafas jeda.

“Tidak.” jawabku. Kamu membuang nafas yang kamu ambil barusan.

Kamu tidak akan tahu. Karena ia bergerak di luar kendaliku. Menganggap remeh pada telingamu yang rusak. Dan kini anak-anak itu ingin mempunyai anak lagi. Mereka sudah siap menjadi banyak karena diriku sendiri yang terlampau asik membuat istana bagi bukan kita. Padahal aku sudah sering diingatkan oleh siapa saja, siapa mereka itu. Diingatkan oleh mereka yang terjaga, para penjaga. Namun aku selalu pura-pura mendengar, karena aku menghabiskan energi untuk mulutku, ya mulutku, agar pasti wanginya, agar pasti lihainya lidahku menari, ketika di hadapan mereka. Namun herannya ketika bertemu dengan telingamu yang menurutku rusak itu. Kendali kebali ada di tanganku sepenuhnya. Anak-anak itu tidur pulas. Oh ya anak-anak yang akan lahir sudah mereka berika nama biar saja tandaseru, peduli apa tandatanya tandaseru. Aku benar-benar curiga anak-anak itu akan melahirkan curiga berikutnya. Pada siapa saja, siapa mereka itu. Malam pagi, siang hari, senja pergi.

kau mencoba..
Memaksaku bicara
Haruskah dengan senjata
kumasih tak percaya

Suatu ketika cerita lainnya darimu. Masih dalam ruang yang sama. Ruang yang rumit, sempit dan tak banyak waktu. Aku berlari-lari dengan imajinasiku. Padahal jelas badanku yang duduk di balik bayanganku sedang menatap mereka bicara. Tapi mereka membawa senjata. Aku tidak. Lebih tepatnya lupa. Aku kira pertemuan itu bukan lagi percakapan. Namun sangkaku keliru. Percakapan harus dilakukan. Untuk membuatku lebih bangun, dan bangkit, agar aku tak hanya berdiam melihat, laparnya anak-anak bernama keingintahuan. Mereka tidak memaksaku bicara. Tapi memberikan kesempatan yang sebenarnya selalu aku punya untuk bicara. Diriku terus memaksaku bicara. Tapi diriku yang lainnya berlari dengan kreasiku yang nanti akan kubuat untuk membuat mereka terguncang. Aku tak percaya dua diriku ini selalu membuatku bingung.

kumasih tak dapat menjawabnya
dimana malam berada
akhiri semua lenyap tak tersisa
senjata ditangan siap melintang

Aku merasa, tak berdaya. Karena imajinasiku sendiri. Mereka selalu membawa anak-anak baru yang tak sempat lagi kuberikan nama pada mereka. Karena aku sendiri selalu larut mencari jawab pada malam-malam itu. Dalam terang yang biasa saja. Aku terus menjauh. Jauh dari yang pernah kuceritakan perihal rangkaian mimpiku padamu itu, tentang pembaharuan.

seranglah saja buktikan caranya
banyak sudah meminta jiwa
telah terpikir banyak bicara
tiba-tiba
darah dan luka di jalan utama

Kamu terus bercerita karena memang sudah semestinya. Kini aku hanya bisa berharap pada telingamu yang rusak itu untuk mendengarkan ceritaku. Aku akan berubah sekian banyak derajat ketika bertemu dengan telinga yang awam. Yang masih siap aku jejali cerita-cerita membanggakan tentang diriku sendiri. Aku akan banyak bicara pada mereka hingga mereka hanya diam dan sungkan berbicara denganku lalu akan mudah bercerita dengan orang lain. Karena aku terlalu jumawa untuk mendengar cerita “tak menarik” dari mereka. Cerita yang mudah kutebak dengan hanya melihat apa yang mereka sudah baca.

kau mencoba..
memaksaku bicara
haruskah dengan senjata
dan ku tak berselera

Diriku yang lain terus memaksaku bicara. Karena memang sudah bagianku. Namun bicara yang membuat mereka berselera lalu datang bercerita padaku. Persetan dengan diriku yang lain, yang tak berselera itu. Agar anak-anak yang tadinya menguasai imajinasiku, bisa kuredam benar. Menggantikan mereka dengan anak-anak bernama, Belajar, Main, Bersama. Agar aku tak lagi harus bercerita padamu, pada telingamu yang rusak itu karena telingaku sendiri sudah rusak sepertimu. Yang sebentar lagi akan terpisah waktu.

Jurugsari, empat di bulan April 2014.

Catatan:

Baris kalimat yang bercetak miring dan menjorok ke dalam adalah lirik lagu Sekilas milik The Sastro pada album Vol.1. Album wajib dengar dengan lirik berbahasa Indonesia yang hebat nan sederhana diperkaya aransemen musik yang menakjubkan. Cerita ini terpacu begitu mendengar lagu ini, lirik lagu yang mendorong untuk bercerita.

Pernah suatu kesempatan memutar lagu-lagu The Sastro sebagai kawan perjalanan melintasi Jalur Selatan Pacitan yang sepi, berkelok, panjang dan mulus (macam kaki model, huekekeke). Saya merasakan sensasi yang “membuat ketagihan”. Dengan kecepatan, suasana habis hujan, musik bagus, tanpa “hal aneh-aneh” saya merasa sedang “melayang-layang” hingga lubang di jalan yang tertutup genanganpun cemburu lalu menjegalku.

“Bajilak”nya dalam menggarap rangkain ini, saya harus menutup jendela kamar. “Ada” yang senang lewat dengan sekilas ternyata. Jangan-jangan Hantu TV (huehekekeke).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s