Menangis Sekujur Tubuhnya

Menangis sekujur tubuhnya, matanya sudah tak sanggup lagi menahan kesedihan. Kesedihan yang terpicu dari rusaknya mata air penghidupan. Mata air yang bisa menjadi penyegar kala abdi bumi bergelar kekuasaan menjadi semakin beringas dalam menjawab tantangan zaman. Mata air yang terusik itu. Airnya keluar bukan lagi bersumber dari dalam tanah. Namun dari mata dan tubuh yang marah. Berani melawan adalah satunya jalan. Karena kepada penguasa lalim tak bisa hanya berserah, apalagi menyerah. 

Dengan adanya berita “demi kemakmuran tingkat lanjut-kemakmuran lebih luas” yang menyebar. Telah memicu api memacu gerak, menyuburkan benih berani untuk tak bisa jika hanya berdiam diri. Berhektar-hektar lahan pertanian, tanah subur dengan cita-cita sederhana, dibuat gusar dengan rencana pembangunan. Rencana yang akan mengubah lahan produktif itu menjadi tempat mahsyur nan ciamik, katanya. Yang hanya jika dan jika kita punya rupiah barulah bisa mengaksesnya. 

Para penggarap dan sekaligus pemilik lahan bersepakat mengangkat cangkul dan alat bertani mereka lebih tinggi. Bukan lagi hanya untuk membuat tanah menjadi tanah gembur. Namun untuk melawan derasnya kebutuhan lahan untuk kemakmuran segelintir kaum, kemakmuran semu belaka, kemakmuran kaum pengeruk mega laba. Para penggarap lahan yang telah meneteskan keringat hingga darah dari generasi pendahulu demi menjadikan lahan yang “mati” itu sebelumnya, sekarang menjadi lahan yang bisa mengantar anak-anak, cucu mereka mengenyam pendidikan dan mencicipi kesejahteraan hidup, yang kesannya hanya ingin dimiliki kaum-kaum seberang desa.

Mereka harus dibuat bungkam, sumpal mulutnya dengan tebalnya lembar-lembar rupiah. Jika tak mau juga, biarkan peluru yang membungkam geraknya. Petaka lama yang terbungkus aroma baru dibuat sedemikian merdu. Agar yang mendengar bisa terbuai sebuai-buainya, lalu tergiring akan dongeng usang bahwa pembangunan adalah satu-satunya cara ampuh untuk menjadikan mereka sejahtera. Dibuatlah skenario seru untuk membuat debar para penyaksi. Dibuatlah suasana mencekam agar para pengasuh bumi menjadi gentar. Namun sayangnya skenario tersebut terbaca lain. Skenario sebenarnya bocor. Bukankah penggarap itu terus belajar? Apakah para pemaksa kehendak itu tidak membaca zaman? Skenario yang bocor sebenarnya adalah untuk membuat sebagian orang saja memiliki berderet-deret angka di rekening mereka. Lantas, para penggarap itu?

Cangkul dan alat bertani sudah meninggi. Pantang diam melihat lahannya menangis, menahan berat beban beton-beton yang akan hanya memindahkan nestapa ke nestapa lainnya. Pantang kaku, ketika darah telah mengalir, mengarus bersama nafas keresahan bahwa hak hidup bisa dimainkan begitu saja.

Yang bagaimana juga “demi kemakmuran tingkat berikutnya-kemakmuran lebih dan lebih luas” dalam catatan para terpelajar dan pandai banyak yang bertahan tak lama. Setelah lahan itu diaduk-aduk mesin dengan brutal, disedot dengan berbagai alat mengerikan, dibuat gersang, dibuat rusak dan tak berbudaya. Digali hingga tak lagi menggiurkan, lahan lalu mangkrek menjadi lahan kritis. Dan kalau sudah begitu? Tanpa perlu belajar jauh-jauh. Sekolah tinggi-tinggi. Si Mbah akan mengulangi kata yang pernah diucap Ronggowarsito “Sak beja-bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspodo“. Alam menubikan yang namanya bencana untuk bergelombang datang menegur keserakahan. Mencubit kesadaran yang telah mati bersama dengan datangnya teknologi bernama demi kemakmuran. Kalau sudah begitu? Kemakmuran macam apalagi yang ditawarkan? Mungkin itulah si Mbah mengulangi apa yang Ronggowarsito katakan. Sebab mungkin karena teknologi jugalah sebagian dari mereka mudah lupa, apalagi waspada.

Menangis sekujur tubuhnya, matanya sudah tak sanggup lagi menahan kesedihan. Darah siap mengganti air mata. Darah siap mewarnai legamnya serakah, kelamnya jejak buta. Darah akan memberi corak pada cakrawala sejarah, bahwasanya semakin pandai penguasa menutup mata. Semakin berani mereka (yang terjaga) untuk membangunkannya. Kerusakan hampir di depan mata. Sampai mana silaunya akan membutakan. Para penggarap tentunya lebih giat belajar bagaimana bersikap karena darah yang tumpah akan menghapus duka diam karena pasrah. 

 

kamarhitam, 4-5Mar14

nz_anakwayang

One thought on “Menangis Sekujur Tubuhnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s