Cerita Negeri Pencerita

Aku belum kehabisan bahan untuk menceritakan tentang negeriku. Negeri para pencerita. Negeri yang besar dengan kesederhanaannya karena ide selalu datang dengan sendirinya tanpa dicari.

Negeri yang selalu merayakan hari-demi-harinya. Bukan berarti di negeriku kesedihan tak ada. Kesedihan tetap ada namun di sana, di negeriku kesedihan seperti matahari. Hanya awan yang bisa membuatnya teduh, sehingga kesedihan tak tampak terlalu. Negeri yang selalu berbahagia dengan berbagai cara, dari yang lazim hingga yang luar biasa, karena kenapa? karena penghuni negeri selalu punya cerita bagus untuk mengobati kesedihannya.

Negeri pencerita ini, mulanya hanya dihuni oleh 3 orang begitu moyang kami bercerita. yang masing-masing orang punya kegemaran berbeda. ada yang suka akan musik. ada yang suka membaca. ada yang suka bercerita. namun ketiga orang ini mempunyai kegemaran yang sama. mereka sama-sama suka berpetualang. Jadi ketiga orang ini bertemu di tengah petualangan mereka.

Mereka sudah menempuh perjalanan yang lama. dari menembus hutan pinus di sebelah utara. melewati padang tandus di sisi barat. mengapung di perairan sebelah selatan. turun naik bukit dan gunung di sisi timur. Mereka seperti teraruskan ke tempat yang sama. Satu daerah yang luas meski tak amat. Mereka bertemu di telaga. Pertemuan yang aneh. Ya karena cerita bisa saja menjadi teramat aneh. Sang musik sedang asiknya bersiul. Sang baca tergugah dari lamunannya akan halaman yang bercerita bagaiman memancing itu menyenangkan. Sambil melihat pelampung dari alat pancingnya yang dari tadi diam. tak juga menyembul, pertanda ada yang menarik. Dan si Cerita tentu dia sedang asik berdialog dengan pohon-pohon sekitar telaga. Pohon-pohon yang menyerupai manusia karena rantingnya senang melambai-lambai tertiup. Di telaga itu ketiganya bersatu. Mereka yakin ini tempat pemberhentian yang sudah ditentukan Entah oleh siapa. Pastinya oleh Sang Maha Beda. Di telaga yang sunyi ini mereka mengumpulkan kayu dan pembuat perapian. Karena senja sebentar lagi datang. Dan kesedihan akan perlahan sedikit demi sedikit bersembunyi di balik bukit batas telaga.

Mereka bernyanyi untuk merayakan perpisahaan sementara itu. Karena mereka tahu telaga telah lama menyimpan berbagai tanda tanya. Dan mereka selalu sedia jawaban-jawaban dalam kepala. Bahkan di kantung mereka selalu tersedia pemantik api. “Untuk apa?” tanyaku Jika kita bertanya pada ketiganya kata moyang kami, mereka akan tersenyum dan menjawab. “Coba kau tanyakan pada gelap”.

Mereka mendirikan bangunan di sekitar telaga yang menjadi rumah bertetangga pertama di negeriku. Setelah bangunan berdiri mereka bertiga pergi merantau untuk kembali. Kali ini memang merantau, bukan untuk melakukan perjalanan seperti sebelumnya. Karena mereka bersepakat untuk kembali untuk bersama merawat benih itu. Lama mereka merantau. Pertanda untuk kembali adalah barang asing yang melintas di atas kepala mereka. Dan hanya itu. Merekapun menjadi pengabdi langit. Karena tak ingin terlewat begitu saja pertanda yang bisa saja orang-orang kini memberi nama padanya adalah meteor.

Kini mereka kembali bukan lagi bertiga. Namun dengan keluarga baru mereka. Itupun istilah baru bagi mereka. Karena keluarga bagi mereka bertiga adalah apa yang ada di lirik-lirik musik. Apa yang ada di teks buku. Keluarga adalah apa mereka dengar. Kini mereka pelaku utamanya. Pelaku akan cerita istilah tersebut.

Mereka berkegiatan, makin banyak dan beragam kegemaran mereka. Namun tiga hal itu yang selalu menjadi akar dari tumbuhan yang menjulang. Merantau telah menjadi cara untuk menambah jumlah baik secara fisik maupun istilah. Meteor demi meteor sering terlihat. Karena sepertinya semesta sedang merancang cara menyambut lahirnya negeriku. Keluarga baru datang dan datang lagi. Dan negeriku secara resmi telah berdiri.

Di negeri pencerita. Jangan dikira akan damai-damai saja. Dengan bertambah banyaknya kepala yang menjadi penghuninya. Konflik menjadi begitu sering. Ya seperti cerita juga. Katanya konflik memang penting. “Tapi tenang” moyang kami menenangkan. Konflik di sana selalu menggantung. “Karena kamu tahu kenapa?” tanya moyang kami. “Tidak” jawabku. “Ya karena cerita cuma ada tiga penutup. Berakhir bahagia, tragis, dan tragis komedi.” dan moyang kami tak juga memberi akhiran yang terjadi pada konflik di negeriku. Karena memang konfliknya belum berakhir. Dan bahan cerita tak akan habis-habisnya seperti yang pesan yang terlontar dari moyang kami. Kami dan moyang kami. Duduk manis di depan rumahnya yang sederhana. Rumah dengan teras yang tak seberapa lebar. Ia membaca sesekali menarik dalam sigaretnya, sesekali menyeruput kopi hitamnya. Di dalam sana, dalam rumah terdengar musik. Di teras yang sama penghuni rumah sedang bercerita dengan seksama. Atau mungkin kata yang merantau kemarin itu dan berhasil memetik daun ilmu, istilah itu dinamakan diskursus¹.

Gedung V Lt. I. 5/3/14

anakwayang_nz

——————————————–

Catatan:

¹ Menurut Foucault (2002:9) diskursus adalah cara menghasilkan pengetahuan beserta praktik sosial yang menyertainya, bentuk subjektivitas yang terbentuk darinya, relasi kekuasaan di balik pengetahuan dan praktik sosial tersebut, serta saling keterkaitan di antara semua aspek ini. Lebih detail Lubis (2004:148) menjelaskan bahwa diskursus merupakan kategori manusia yang diproduksi dan direproduksi dengan berbagai aturan, sistem, dan prosedur yang membuatnya terpisah dari kenormalan. Aturan, sistem, dan prosedur itulah yang disebutnya dengan istilah “tata-wacana”, yaitu keseluruhan wilayah konseptual tempat pengetahuan itu dikonstruksi, dibentuk, dan dihasilkan. Ini berarti bahwa ketika sebuah wacana dilahirkan, maka wacana/diskursus sebenarnya sudah dikontrol, diseleksi, diorganisasi, dan didistribusikan kembali menurut kemauan pembuatnya karena wacana tersebut dikonstruksikan berdasarkan tata-aturan (episteme) tertentu. Oleh karena itu, kebenaran memiliki mata rantai dengan sistem kekuasaan. (sumber: http://perpustakaan.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=381)

One thought on “Cerita Negeri Pencerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s