Dengar Dengar

Ia yang tumbuh berkembang di antara orang-orang yang pandai berbicara. Mulai kehabisan kata demi kata. Karena mulutnya sengaja dibungkam oleh telinganya sendiri. Telinga yang terlatih untuk mendengar dengan baik. Bukan hanya untuk mendengar yang baik-baik.

Lahir dari kerongkongan jaman. Saat negeri yang dihuni berbagai kelompok yang senang memasang muka di antara deretan pohon-pohon. Kelompok yang dengan amat-sangat bangga mengatakan bahwa jika kalian berteman dengan kami, maka kalian akan selamat sealamanya. Kelompok yang saban hari, saban petang bersembunyi untuk menyusun strategi bagaimana mendahului datangnya fajar. Dengan bingkisan manis dan kata-kata langit. Oh. Kelahiran yang sunguh tepat untuk menjadi orang yang terasing, bahkan dipinggirkan. Karena kata-kata sudah sedemikian rupa dihias hingga menjerumuskan sebagian dari mereka cepat sekali belajar membaca tanpa melewati proses belajar mengeja.

Ia yang suka berdiri, berdiam diri di sudut rak buku sana. Dengan halaman-halamn yang ia santap dengan nikmatnya. Melihat kursi seperti penggoda hebat. Dijauhinya. Dihindarinya. Duduk hanya ketika buku-buku itu telah membuatnya kenyang. Lalu bersandar sebentar memanjakan mata untuk melihat lebih datar. lebih Sejajar dengan temannya. Tak lebih tinggi, tak lebih rendah.

Ia benar-benar pendiam. karena memang itu yang bisa dikuasainya. Mendengar. Berbicara sekali kata, duakali kata. Secukupnya. Untuk tidak benar-benar dianggap bisu. Karena bukannya ia tak bisa bicara. Orang-orang disekitarnya lebih mahir dengan itu. Sehingga ketika mereka bersamaan berbicara. Sudah tak ada lagi yang ingin mendengar. Mendengar hanya agar tak dibilang tak sopan selebihnya. Melayang. Terbang.

Seperti air yang akan mengalir kelaut dan berubah menjadi uap ke atas langit. Lalu menjadi air kembali menghujam darat. Lalu dna lalu ke laut lagi. Mendengar-itu yang menghantarnya menuju peti mati. Karena kata-kata yang keluar dari mulut-mulut yang-entah-kenapa-selalu-menyebarkan-wangi-wangian bersekongkol menggotongnya, memotongnya, hingga kata-kata kembali keluar dari mulutnya. Bicaralah.

“Mendengarlah” kata terakhir sebelum peti mati itu ditutup dan diarungkan di sungai.

Gedung di antara yang 5 dan 7. 4 Maret 14.
nz_anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s