Antara Risau, Rindu, dan Ragu

Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Alarm dari ponsel yang hanya bisa menerima pesan dari penyelenggara komunikasi dan kokok ayam berlomba menyadarkannya. Namun ia masih sedap betul tidurnya. tampak dari liur yang membasahi bantal bergambar bunga matahari. Pagi itu sebelum ia bangun dan benar-benar tersadar. Puluhan nyamuk mati di kakinya.

Ia yang senang menggunakan sarung di rumah maupun ke warung begitu risau mendengar kawan-kawannya tertangkap. Ia pikir itu hanya akal-akalan aparat saja untuk membuat teror yang berlanjut. Semenjak negeri ini dikuasai oleh badut-badut yang tak terlampau lebih lucu dari kartun buatan negeri paman Pah. Teror begitu sering jadi berita. Dari harga kebutuhan pokok hingga ketersedian energi. Sepertinya badut-badut itu tak hanya bermuka tebal, namun telinganya tertutup riasan hingga membuat bebal. Ia sering mengumpat. ketika warung menagih utangnya yang berlipat.

“Bajingan memang badut-badut itu, otak mati!” umpatnya setelah meminta maaf kepada pemilik warung karena belum juga punya dana lebih untuk menyicil pelunasan hutangnya.

“Kembalikan kawan-kawanku!” teriaknya pada pagar reot dari kayu.

Untungnya ia hanya tinggal bersama seekor laba-laba yang pincang. di rumah bekas peninggalan orang tuanya yang hilang entah ke mana. Pamit terakhirnya ayahnya adalah ketika mengambil buku laporan pendidikan dasarnya. sedangkan ibunya yang seorang pendongeng, lenyap setelah pertunjukan di balai desa.

Kini dengan laba-laba yang hampir mati ia hanya bisa bercerita. dan laba-laba itupun mengawasinya dari sudut atap kamarnya yang berantakan. kertas di ujung sana. koran di sebelah sini. Laba-laba sudah tahu betul, ia adalah pembaca nasib. Namun sayang nasibnya sendiri tak pernah terbaca. Atau memang tak mau dibaca.

Setelah ia menyeduh kopi murahnya yang baru dibeli dari warung sebelah. Ia meneruskan cerita pada laba-laba. Yang entah mengapa juga tak mau turun menjumpainya. Semut mati kelaparan. Karena hanya meminum kopi pahit sisanya. Nyamuk hanya malam akan datang. tak sudi datang siang hari. karena tahu ia akan pandai membunuh mereka. binatang lainnya? mereka akan menyingkir segera darinya, karena insting mereka menyebut lelaki itu brengsek yang harus dijauhi.

Cerita pada laba-laba masih sama. bagaimana pendidikan tak juga merubahnya. bahkan membuat orang-orang yang ia kenal menjadi lupa siapa dirinya. ia bercerita tentang pemuka agama yang menjual ayat-ayat saja. ia bercerita tentang media yang suaranya konsonan cendenrung rusak ketika menyuarakan keadilan, namun merdu kala memuja empunya. ia bercerita tentang teknologi yang semakin gila. Seorang anak tega membunuh ibunya hanya karena kecewa tak dapat motor bang baron sehingga kehilangan calon pacar yang tak mau naik motor ayamnya. (mengacu pada motor bebek, siapa pula yang memberi nama tersebut harusnya kalau motor bebek tentu tahan banjir. karena sejatinya bebek pandai mengapung). ia bercerita banyak sekali. yang sedih-sedih. hanya penutupnya ia bangga bahwa masih ada temannya yang sering menjumpainya. meski hanya dalam mimpinya. yang sering mengalirkan liur dan membasahi bantalnya.

Jadi bantal yang bercetak liur mengering adalah. pertemuannya dengan kawan-kawannya. dalam mimpi. hanya mimpi. hingga datang suara dari pengeras penjaja makanan bernama getuk membangunkannya dengan lagu yang sama. tutupen botolmu, tutupen oplosanmu

tutupen botolmu, tutupen oplosanmu
emanen nyawamu ojo mbok terus teruske mergane orak ono gunane.

Getuk gila! Ia terbangun dengan melompat, menuju kamar mandi sambil mengumpat.

Awas kau jika ku bangun duluan. Kujadikan getuk kepalamu!

Umpatan yang tak pernah benar-benar terjadi. Karena bangunnya siang sudah pasti.

godean, Januari 6, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s