Mimpi

“AAA…”, teriak Kinan sambil bangun.

Sambil kelelahan serasa habis lari jauh, Kinan duduk di atas busa sambil mengingat mimpi apa yang baru terjadi. Pagi ini Kinan dibangunkan oleh mimpi yang tak asing lagi. Mimpi dikejar ular besar.

Entah mengapa mimpi itu selalu membekas di pikirannya, bahkan sampai ingat detailnya. Sempat takut sih pada awalnya, tapi menjadi biasa seiring tak ada kejadian buruk yang ada setelah mimpi itu. Tapi ada yang berbeda hari ini. Bila sebelumnya ular itu cuma mengejar, kali ini ular berhasil menggigit pergelangan kakinya.

Kinan ingat sekali, pertama dapat mimpi ini ketika akan ospek. Sekarang sudah semester tiga dan ini adalah mimpi ke-3 nya. Tidak peduli ini adalah pertanda atau hanya kebetulan, yang penting ini adalah cerita di mimpi yang berharga. Kinan segera menulis apa yang menjadi mimpinya. Tidak ingin mimpi itu terlupakan begitu saja.

Kinan berbeda dengan orang lain. Di saat yang lain ingin tidur mereka nyenyak tanpa adanya mimpi di dalamnya, Kinan justru berdoa supaya dapat mimpi. Mimpi itu bagaikan membaca cerita yang melibatkan kita di dalamnya.

Itulah Kinanti, sang pecinta mimpi.

***

“Kinan…,” panggil Rina, teman sekelasnya. Dari parkiran dia memanggil sambil melambai-lambaikan tangannya. Dia lari menyusul.

“Hai. Pagi ini kamu mimpi apa?” tanyanya. Temen yang satu ini memang orang yang setia mendengar mimpi-mimpinya.

“Dikejar-kejar ular. Kayaknya tu ular obsesi deh sama aku. Masa sampe tiga kali mimpi dikejar ular yang sama. Mimpiku tadi kejadiannya sama seperti yang sebelumnya. Tapi kali ini ularnya menggigit”.

Rina hanya bengong.

“Kok bisa sih? Kayaknya itu pertanda deh. Kalo orang Jawa jaman dulu bilang, orang yang mimpi digigit ular tu bakal ketemu jodoh…”, timpalnya dengan serius.

Mau gak mau, Kinan kepikiran juga, kenapa mimipinya bisa berulang ulang dengan kejadian yang persis seperti itu. Sampai kuliah pagi ini selesaipun Kinan masih kepikiran.

Beruntung, hari ini ada acara di aula. Itu bisa membantu melupakan mimpinya.

 

Sampai disana Kinan bertemu Edo. Dan lagi-lagi Edo. Entah siapa nama lengkapnya, yang jelas Kinan sering lihat dan ngobrol dengannya. Hampir tiap hari malah. Ada saja kejadian yang membuat Kinan bertemu dengan Edo. Kinan juga heran, kok bisa? Tiap bertemu dia, pasti dia sedang megang kamera. Katanya sih dia anggota fotografi.

Takut dikira sombong, Kinan tersenyum melihatnya. Tapi Edo cuma menatapnya tanpa ekspresi. Padahal biasanya dia selalu tersenyum kalo lihat Kinan.

“Sialan tu Edo. Udah baik-baik aku senyumin. Eh malah ngeliat aneh gitu lagi”, batin Kinan dongkol.

Dan sikap dia hari ini sunggguh aneh. Kelihatannya dia lagi gak sehat. Rambut acak-acakan gak jelas, baju kusut, dan mukanya tu, kayak orang yang semaleman gak tidur. Selain cuma memfoto beberapa kali, dia cuma duduk sambil menatapnya dengan ekspresi yang susah dijelaskan. Marah iya. Putus asa juga iya.Di pertengahan acara, dia malah duduk di samping Kinan dengan masih menatapnya tajam.

“Busyet deh ni cowok. Kenapa sih dia,” batin Kinan bingung agak takut.

Kinan kontan kikuk dipandang oleh mata setajam elang itu. Selain bingung diperlakukan seperti itu, Kinan juga agak marah. Kesannya kok Kinan ada salah bnyak banget ma dia.

“Heh, kamu kenapa? Ngomong aja kalo aku emang ada salah.” Kinan buru-buru ngomong karena sudah tak tahan lagi.

Bukannya menjawab, dia malah berdiri dan menyeretku keluar dengan paksa. Kinan tak bisa berbuat apa apa. Selain malu kalo memberontak, kesannya kok kayak adegan penculikan, Kinan juga gak bisa ngelepas pegangan tangannya yang kuat.

Kinan diem aja dibawa ke lantai paling atas. Kinan gak berani ngomong diperlakukan seperti itu. Takut dikemplang sama Edo.

“Badannya aja gede gini, bisa dijadiin penyetan aku kalo berani ngelawan,” batin Kinan putus asa. Setelah sampai, Edo mendudukkan Kinan di kursi. Dia sendiri berdiri menjulang di hadapannya. Setelah diam beberapa saat. Akhirnya Edo bersuara. Ekspresinya berubah, dari yang marah banget menjadi pasrah.

“Aku… lagi suka ama cewek Ki. Tapi cewek itu gak pernah ngerti.”

Kinan melongo seketika. Tercengang sekaligus tidak mengerti kenapa Edo bercerita. Dengan muka putus asa lagi. Edo diam lagi setelah mengatakan itu.

“Terus…?” Tanya Kinan, pelan dan hati-hati. Takut dimarahin.

“Karena aku suka, ya… aku coba kejar dia.”

Ya iyalah. Suka pasti dikejar, masa mau disiksa. Kinan membatin jengkel sekaligus bingung.

“Oh. Pasti yang jadi cewek itu beruntung banget. Dicintai orang sampai sedalam ini.” Kinan asal ngomong aja, soalnya dia bingung. Apa hubungannya Edo suka sama cewek dan membawanya kesini? Pake cerita segala lagi.

Setelah ngomong seperti itu, ekspresi Edo langsung berubah. Dia ngomong lagi. Kali ini suaranya dalem banget.

“Aku bertemu dia pertama kali ketika ospek. Dari semua cewek yang pernah aku ajak ngobrol, cuma dia yang menolak dan tidak menanggapiku. Malah teman sebelahnya yang menanggapiku. Padahal jelas-jelas aku ngomong sama dia.” Edo berhenti sejenak. Sambil menatapnya dengan ekspresi yang susah dimengerti Kinan, Edo melanjutkan ceritanya.

“Sejak itu juga aku sadar, aku bakal terus mencari tahu tentang dia.” Tambahnya dengan suara makin serius.

Diam lagi.

“Edo, sebagai cewek, aku bisa tahu kalo kamu bener-bener sayang sama dia. Jadi tenang aja. Kalo kamu ngomong seperti ini sama dia, pasti cewek itu bakal nerima kamu kok.” Kinan ngomong sambil tersenyum menenangkan Edo.

“Tapi…”

“Sst, bentar. Aku masih bingung, apa hubungan semua itu dengan membawaku kesini?” potong Kinan. “Mana main seret-seret lagi. Emangnya aku kambing?” Kinan ngomong sambil cemberut. Edo langsung marah mendengar pertanyaan itu. Sambil menarik Kinan dengan paksa dan mengguncang-guncangkan pundaknya, Edo bicara lagi dengan marah.

“Tu kan. Itu yang bikin aku marah. Kamu tau gak sih siapa cewek itu? Siapa cewek yang bikin aku jadi begini. Tiap hari aku ajak ngobrol. Tiap hari aku deketin. Tiap hari aku tanyain kabarnya. Tapi apa yang dia rasakan. Dia gak peduli”

Edo berhenti sejenak dari marahnya. Dia menatap Kinan putus asa. Diperlakukan seperti itu, Kinanpun tak tahan. Dia gantian marah. Dia memberontak dalam genggaman Edo.

“Edo, kalo mau marah ya marah aja. Tapi jangan sama aku. Sama cewek itu tuh. Eman, apa hubunganku sama kamu. Kalo lagi mau marah, lihat lihat dong orang yang dimarahin. Bisa mati aku kalo kamu begini terus. Sakit tahu!”. Kinan marah sejadi jadinya dalam usahanya melepaskan diri dari Edo.

Edo buru-buru melepaskan cengkeramannya. Baru sadar kalo kelakuannya itu menyakiti cewek di depannya.

Bukannya minta maaf, Edo malah tersenyum, menatapnya dalam, dan meraihnya begitu erat dalam pelukan. Lantas saja, Kinan tambah berontak. Tapi dasarnya kalah tinggi dan kalah gede, seberapapun keras usahanya, tak akan berhasil. Setelah tenang, baru Edo mengatakan hal yang sebenarnya.

“Kinan, tahukah kamu? Cewek itu kamu.” Edo berbisik di dekat telinga Kinan.

Seketika juga, Kinan langsung diam. Terperangah. Butuh waktu untuk Kinan memahami itu. sampai Edo melepaskan pelukannyapun, Kinan masih bengong.

“Kenapa?”

Kinan menatap Edo heran.

“Karena cuma kamu yang mau menolakku.” Edo berkata sambil tersenyum lembut kearah Kinan. Melihat Kinan masih shock, Edo membawanya duduk.

“Kinan kamu inget gak kita pertama kali ketemu di ospek. Saat itu aku jadi panitia ospek. Lalu aku duduk disampingmu. Aku ngajak ngobrol kamu, tapi kamunya males banget ngobrol ma aku. Malah temenmu yang ngajak ngobrol.”

Kinan tak memberi tanggapan. “Ohh ya. Kamu nyadar gak sih kalo kita tu ketemu tiap hari. Sebenernya aku selalu ngikutin kegiatan kamu. Aku sampe putus asa harus bagaimana lagi. Aku sudah memberikan sinyal itu, tapi kau tak segera menangkapnya. Aku sudah mengatakan jelas keinginanku, tapi kamu malah menganggapnya candaan.”

Edo diam. Kinan juga diam dalam bingungnya.

Ini beneran gak sih. Soalnya Kinan masih ragu kalo seorang Edo bisa suka dengannya. Bukan apa-apa sih. Tapi ini tu Edo. Masih banyak cewek super cantik yang mau jadi pacarnya. Emang sih, Kinan sempat GR diperhatikan Edo. Tapi rasa itu hilang ketika mikir kalo Edo juga memperlakukan semuanya sama. Makanya akhirnya dia menganggap perlakuan Edo biasa aja.

“Kinan, tunggu bentar ya.” Edo lari mengambil koleksi pribadi fotonya. Tanpa diduga, ternyata Edo menyimpan banyak sekali foto Kinan. Ketika Edo memperlihatkan dan menceritakan hasil jepretannya itu, lagi-lagi Kinan hanya diam. Bukannya tak terharu, Kinan masih bingung dan tak percaya.

Edo menyerah membuat Kinan bicara lagi. Akhirnya Edo mengajak Kinan makan.

“Kinan ayo makan dulu. Kayaknya kamu lagi laper banget.” Kasihan juga Kinan dilihatnya. Masih shock.

“Habis makan, kamu aku anter pulang ya? Aku tahu kok kos kamu?” Edo menarik tangan Kinan dengan lembut menuju parkiran.

“Oh iya, satu lagi. Kamu gak harus memberi tahu perasaanmu ke aku. Yang penting aku dah lega kamu tahu isi hatiku. Aku akan menunggumu…” Edo menambahkan dengan senyum damai.

Kinan balas tersenyum kecil.

“Apakah ini arti dari mimpiku semalam?” pikir Kinan sambil mengikuti langkah lebarnya Edo.

 

————————————————————————————————————————————————————————————–

Catatan: 

Cerita ini dikirim 30 Oktober 2013. Karya Ali Fatur Rohmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s