Bunga

Riuh makin riuh. Sepi tetap sepi. Di dalam ramainya jejak kota. Ada tempat asing yang tetap asing. Dan akan selalu asing. Di bangku dingin dekat pohon kamboja. Ada cerita yang berkeping mengurai senyum lalu. Bunga rasanya.

Telah lama, bunga berjauhan dengan aroma malam dekat pohon itu. Pohon kamboja yang entah berapa umurnya. Yang bunga-bunga lainnya tetap tumbuh dengan rajin dan siap sedia gugur menjatuhkan diri dalam pelukan bumi. Yang berdiri gagah menghadap siapa saja. Yang mengumbar wangi kala merkuri menyinari. Ada rasa rindu dalam pelukan yang kian malam kian tak bisa diatur. Lalu memilih gugur. Begitu juga bunga.

Gugur-gugur itu, yang segera melebur, dari kuncup-kuncup yang telah meletup. Bergumam bisu si bunga di antara raung kendaraan yang memekakkan. Memelihara suara setengah kuasa dan separuh derita. Ada banyak sosok mengerikan mengelilinginya.

Dibubarkanlah sekerumunan manusia yang memikul rindu olehnya. Karena malam telah dipesan oleh mereka yang berdaya. Walau bunga tak melulu terpinggirkan, hanya keraguan selalu menghantui jejak langkahnya.

Bunga, memang itu namanya. Berpindah dari satu kepala ke kepala lainnya. Menjadi riuh yang makin riuh. Sepi yang tetap sepi. Bunga di lautan bunga. Menyeringai merindu senja.

Vredeburg, 15sep13

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s