Nona

Nona yang bersamaku kini. Mungkin tak mengenalku. Karena kali ini aku sengaja tidak menyertakan diriku yang kukenalkan padanya kemarin. Kemarin itu yang hampir memakan lama waktu, kurang lebih delapan kali makan bangku sekolah. Ketika kami bertemu ketika tugas dari pak guru tentang agama dan batu. Aku mengenalnya, bersapa dengannya, bertukar kata dan mulai memupuk rindu. Berharap tumbuhan yang kami percaya sebagai peneduh tumbuh berkembang tak hanya menjadi batu. Namun bisa jadi titik temu. Sebagai tanda bahwa langkah kami pernah ingin bersama.

Karena, suatu titik. Karena saat kami pergi menebar benih mimpi kami sendiri. Ada renggang yang tercipta, ada jeda yang menganga. Pada suatu titik itu aku menempuh perjalanan malam. Dengan kereta aku mencoba.menyambut pagi miliknya. Yang ternyata pagi itu adalah bukan pagiku juga. Aku mulai tenggelam. Ketika kembali pada lahan yang kutanam. Menempuh kembali perjalanan pulang untuk mengecek kembali benih yang salah asuh itu. Kereta malam lainnya mengantarku menemukan kembali pagiku yang sempat bertukar tangan.

Lain waktu berlalu. Dari titik itulah aku menjadi pengasuh senja. Menyambut dan menyemainya. Memainkan nada-nada yang serupa kata. Mencoba sering bercerita pada kursi kereta. Mencoba sering memelihara rindu yang kadang bersedu. Menjadi sering meringkus jingga, yang sering juga tak berdaya. Aku dan dia kembali pada cerita. Saat senja tak lagi bermuka. Aku atau dia. Hanya datar dan tak terduga.

Menyudahi waktu dengan mengapung. Pada kereta malam, ada sejumput rindu yang menyembul tentang nona yang bersenyum simpul. Dari rindu itulah aku meminta izin pada malam yang dingin. Pada lampu yang berkelebat beriring. Pada desing besi-besi bundar yang tak asing. Aku masih kenal denganmu, meski aku bukan lagi ragu. Aku masih kenal dengan senyummu, yang merekah waltu pagi dan petang datang. Aku masih kenal denganmu walau aku tahu kau tak lagi pernah mengenalku. Sendu-sendu yang memuai. Ada cerita tentang deru dan semai, nona. Perihal rindu dan obrolan entah bermakna pada titik itu, yang telah termakan waktu-waktu menjadi batu.

gerbongempatprogo, 8sep13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s