Biskuit

image
Gersen

Aku sedang berani menyicipinya kembali. Biskuit-biskuit manis yang kubawa di dalm tples kedap udara. Di atas rangkaian jalur besi yang menghubungkan kota-kota di pulau jawa. Melalui gerbong bertenaga, sebuah rasa kembali mengusikku. Dengan beraninya ia mengoyak-ngoyak. Aku tak kalah berani. Dengan bayang-bayang yang tertinggal jauh karena laju. Aku mulai membiarkan sinar jingga yang makin sirna menamparku. Menghujamiku dengan segala rasa rasuk yang berjelaga. Tak bisa kupingkiri dirinya hadir, membututi di belakang, tak sadar ia sudah ada di depanku sekarang, bahkan dengan sekejap ia tertidur dengan kepala bersandar di sisi badanku sebelah kanan.

Takkan kubangunkan ia. Tak akan. Biar mimpi-mimpinya sendiri yanv membangunkannya. Bahkan ketika liurnya mengalir, wanginya yang tercium adalah rindu yang membusuk. Mungkin terlalu lama ia juga mungkin diriku terlampau diam. Hingga rindu yang harusnya menguap dan hinggap. Terlalu lama tersingkap bersama jigong sisa yang tak tersapu sikat gigi sehari-hari.

Begitu rindu yang besar bahkan lebih besar dari kata rindu itu sendiri. Ia bersandar pada kursi kereta, punggungnya. Kepalanya menyandar pada jendela retak terkena batu lemparan remaja kecewa. Ada yang berbeda rindunya terselip diantara retakkan kaca tersebut yang sangat mudah melukai tipis kulit telapak tangan manusia. Yang sangat tajam untuk.membuat darh menglir bersamanya, bersama rindu yang terjebak.

Pada biskuit yang berikut. Yang kucelupkan pada cairan kopi susu sachet-an. Yang mudah lepas dan berpisah. Yang mudah larut dan menciut. Ada saja kata yang makin tak kumengerti darinya. Dari sisi jendela yang retak. Pendingin yang bocor. Obrolan yang tak kenal lelah. Pertanyaan tentang tunggu dan nanti. Aku kembali memberanikan diri. Untuk sekali lagi tertampar olehnya. Agar aku tahu. Mungkin sekaligus sadar bahwa rinduku. Untuknya yang kini tertidur manis di sampingku. Tak lagi berarti. Bahkan sudah hampir mati. Seperti bebunyian berdecit dari rem kereta. ciit. berulang kali. hingga kuping terasa ada yang menusukkan kemoceng ke dalamnya.

Aku tak tahu harus menjawab apa. Ketika ia terbangun dan menanyakan jingga miliknya. Jingga yang sering menyerupai senyumnya. Padahal saat yang lalu, aku dan dia baru saja melepaskan, membiarkan jingga bulat itu tertelan raksasa besi berkepala lokomotif. Baru saja. Namun tertidur karena lelah menamparku. Bisa juga membuatnya lupa ingatan. Dan akan segera, sekejap dan seketika melirikku. Mengerenyitkan dahi dan menatapku curiga dengan mata yang memicing seperti telinga yang mendengar gosip.

Dan dengan segala kemampuan dan kemauannya ia menabrakn diriku pada situasi. Di mana sang rindu yang tulen bertemu dengan jingga yang bopeng bulatnya.

Dengan kereta yang terus melaju dan berderu. Aku masih saja berani-beraninya menyompan rindu untuknya. Perempuan muda dan jenaka. Yang senyumnya terbuat dari biskuit dan suaranya berasal dari kopisusu. Dan ceritanya seperti buku pembuka kepala. Aku katakkan padanya. Yang menutup mata karena rindu yang berbunga. “Aku selalu rindu padamu, nona, yang dengan senang hati merangkai senja dengan kereta, lain kali aku akan mengundangmu ke pantai, melihat bukit yang gagah dan debur ombak yang tak kalah galak. Menggerogoti senja kita.”

gerbongduaprogo, 6Sep13

*zn
anakwayang

One thought on “Biskuit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s