Berikutnya

XLII

Aku melekat pada rakit hidup ini, tubuhku, di aliran-aliran yang sempit tahun-tahun duniawiku. Aku meninggalkannya kala pelayaran telah usai.

Lalu?

Aku tak tahu jika di sana terang dan kegelapan itu sama.

Yang Tak dikenal adalah kebebasan abadi.

Ia buta dalam cintanya.

Ia meremukkan batok demi mutiara, bungkam dalam penjara kegelapan.

Engkau merenung dan berduka untuk hari-hari yang telah lewat, hati yang malang!

Bergembiralah karena hari-hari masih akan datang!

Jam berdentang, O pengembara!

Saatnya tiba bagimu mengambil simpang jalan!

Wajahnya akan disingkapkan sekali lagi dan engkau akan bertemu. (saduran karya R. Tagore dari bukunya berjudul Gitanjali)

Rubuh sudah. Rubuh yang sudah-sudah. Tak lagi bisa dibuat seperti (persis) semula. Demi baru dan kebaruan yang baru-baru. Jalan masih terbentang. Silahkan memilih apa yang akan kau petik. Dari sanalah, berikutnya, jiwa ini, ketidakpastian berujung pada ketidaktahuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s