Huni

Sebuah rumah di pinggir pantai yang didiami oleh beberapa orang terasing di negerinya sendiri. Karena pemerintah mempunyai rasa takut yang berlebih. Ketakutan akan kuasanya goyang lalu tenggelam. Cara yang dirasa bisa untuk saat itu adalah mengasingkan siapa saja yang berseberangan, siapa saja yang lantang, siapa saja, penulis, pemikir, pekerja keras, hingga para pekerja seni yang aktif berekspresi, harus ikut jadi orang yang terbuang. Di pulau yang jauh dari sorotan apa saja. Dari rumah itu suara bungkam berkelakar. Membulat dan selalu sedia melawan. Dari rumah itu lahirlah jutaan kepalan.

Apa yang menghuni hati dan pikiran para orang terbuang? Bisa saja orang yang mebuang mereka, orang yang membuat mereka terbuang. Atau mungkin orang-orang tersayang, keluarga hingga karib handai taulan.

Hunian nenciptakan orang-orang menjadi hidup atau orang-orang yang membuat hunian menjadi hidup.

Kalau saja rumah di pinggir pantai itu tak berpenghuni adakah kepalan yang lahir? Tentu ada, kepalan akan terus lahir. Di pinggir jalan, di puncak gunung, di gelap cerukan, di dalam ruang bawah tanah. Pejuang kehidupan selalu menghidupi tempat huniannya. Seperti mereka yang terbuang karena dianggap beda dab berbahaya. Kata lawan adalah senjata. Menghuni setiap denyut dan aliran darah mereka.

kamarhitam, 22Agu13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s