Kota Kotak

Pada malam yang entah ke-berapa. Kota yang tercipata dari berbagai ego menghancurkan membangun, yang sering sumpek dan terjebak dalam peluh keluh para penghuninya merasakan kembali suasana lengang. Tidak ramai, tidak sunyi. Karena separuh dari penduduknya memilih untuk pergi memburu angin untuk beberapa lama waktu.

Kota yang terlanjur menjadi kotak ini. Tidak juga menunjukan perbaikan yang menjanjikan. Mungkin perbaikan adalah musuh besar dari kenyamanan. Kenyamanan yang telah dibangun dengan pondasi-pondasi derita yang memakan waktu panjang. Hingga untuk membangunkan kesadaran yang telah mengapung bersama tumpukan sampah yang menggenang di sungai-sungainya adalah peristiwa besar. Padahal nyatanya sebuah peristiwa menjadi besar karena ada peristiwa yang mau menjadi kecil. Dan peristiwa itu terjadi baru beberapa menit yang lalu. Dan kini menjadi besar bahkan besar sekali karena telah direndam dicairan yang meregangkan.

Kala kau berjalan menggunakan kaki yang bukan lagi kakimu. Sampai mana kekuatan kakimu yang buatan itu akan kau ketahui? Bisa saja ditebak jika terlebih dahulu membaca buku petunjuk penggunaan kaki buatan itu. Tapi adakah waktu barang sejenak untuk merelakan kata-kata di buku petunjuk menancap di ingatan? Seberapa jangkauan mata dan pengetahuan membantu setiap raga yang berakal untuk kembali merenungkan dan membedakan yang mana sebaiknya kapan digunakan dan seharusnya kapan dijalankan.

Terlepas dari kesemrawutan kala padat bahkan saat lengang yang diinginkan. Sepertinya harapan kota berbeda dengan kesanggupan menahan laju keinginan dari raga-raga yang berpembuluh darah sempit dan teraliri minyak sisa. Kota ini tak lama lagi membunuh dirinya sendiri. Para praktisi hebat. Para pengamat cermat sudah berkoar dengan data-data yang mencengangkan. Kota memilih berdiam diri karena bingung sudah sering menerima umpatan yang bertubi-tubi. Menerima saran bahkan kritik yang menggila canggihnya. Hingga pada coletah tak berisi ini.

Sebagian dari para pemburu rela melihat kotanya yang penuh cerita akhirnya hancur karena tak ada lagi pencerita yang bersemangat dan pendengar cerita yang merapat? Astaga! Mungkin aku diam antara raga pemburu itu. Nahas bukan main.

Ramai dicerca, Sunyi dihina. Begitulah nasib kota. Bagaimana lagi? Adakah desa bisa menjadi penawar keinginan dan? penyeimbang tatanan kehidupan yang mulai meranggas dari tubuh pohon-pohon tumbuhnya?

“orang desa mencari kerja di kota. orang kota mencari kekayaan di desa.

-FS-“

kamarhitamTNG, 5Agu13

*zn
anakwayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s