Tentang Rindu Yang Berdebu

Tercenung setelah melihat sebuah kalimat. Ingin kembali menuliskan cerita untukmu. Tentang hari-hari yang diluar kendali, tentang orang-orang yang berang dan mengerang, tentang kasih sayang yang timbul tenggelam, tentang cerita merindu dan dirindu, tentang musik dan buku, tentang kawan dan lawan, tentang siang dan malam, tentang apapun, tentang bentangan waktu yang mengalir lega. Semuanya tanpa syarat dan ketentuan berlaku. Berputar dan melaju.

Pada akhirnya ceritaku bermula. Dari pecahan kaca yang bertebaran di jalan. Diduga dari kaca kendaraan yang celaka. Tapi itu hanya duga. Aku malah menyangka itulah tetes tangis seorang tua di pinggir jalan dekat lokasi itu. tetets tangis yang membeku lalu mengeping, dan menyebar. Keping-kepingan itu tentunya bisa saja melukai. Tapi sebentar, sebab apa yang menyebabkan tetes-tangis air mata begitu bisa membeku?

Seorang tua yang wajahnya tertutup rembulan, rambutnya bercahaya. Pakaiannya seperti potongan-potongan kisah hidupnya. Ia duduk menatap kosong lalu lalang orang kota(?). Dalam hatinya mungkin bertanya, dari begitu banyaknya orang melintas adakah wajah yang kukenal? Adakah yang akan menyapaku? Misal “Hai Mbah, apa yant panjenengan sedang pikirkan? sedang rindu?” Pertanyaan yang sungguh aneh rasanya. Tapi biarlah hanya misal.

Tapi sepertinya jejak kota memang tak berpihak pada orang yang seperti dirinya. Kota yang bergegas terlampau sering melindas mereka yang renta secara usia apalagi perihal rindu yang berdebu. Yang mana rindu tak melulu tentang insan sejoli. Tapi siapa sangka di balik wajah yang tertutup purnama itu ada petuah yang bisa saja terlontar. Merambat melalui udara langsung menusuk telinga dan menjangkit hati yang sudah lama berpenyakit?

Ketika hujan turun barang sejenak. Lalu cepat rintiknya  mereda. Jalan yang basah dan cahaya lampu jalan yang terang-hangat. Membikin itu keping-keping bercahaya. Dari tetes-tangis yang membeku, cahaya itu menusuk mataku. Mengantarkanku padanya yang duduk menatap jalan. Aku hanya menunduk. Tatap matanya kuat. Bahkan untuk meruntuhkan dinding acuh yang berlapis.

Kapan tetes tangismu terakhir kali membeku sebab dan akibat rindu, atau sudah berdebu?

kamarhitam, 18Jul13.

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s