Latihan

Tebaran cahaya rembulan setengah di atas kepala. Laju kendara diawasinya. Aku duduk di depan memegang kemudi. Ada sepasang mata, rasanya mata itu di sana. Di sekitaran awan malam yang mega. Yang ikut bercahaya karena tatapan mata tadi. Mata misteri yang kiranya sepanjang jalanku ini ia melirik, memperhatikan dengan mata yang memicing.

Seberapa sering kita bergumam di balik punggung seseorang?

Aku masih mendengarkan tembang teman perjalanan. Di udara malam yang tak tentu derajatnya. Tapi malam ini dingin kurasa; kakiku, punggung dan jari tangan. Mata itu masih saja memperhatikanku. Melihatku dengan tatapan yang masih serupa.

Seberapa sering telinga-mata kita dengan otomatis menolak bunyi-bunyi gambar-gambar gujingan-dugaan yang belum tentu bentuknya?

Mata itu makin tajam saja. Ketika kendara makin dekat dengan desa selatan. Tempat kami biasanya melatih diri, bermandi dengan cahaya. Mataku makin kalah saja. Memang harua kalah.

Kini aku melatih mata untuk melihat yang melihat tak terlihat. Melatih telinga untuk mendengarkan yang mendengar tak terdengar. Untuk kembali melatih rasa merasa apa yang rasanya sudah merasa kurasa? Dalam lingkaran-lingkaran ilmu dan cahaya.

Selatan, 17Jul13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s