Tak Ada Harganya

Semua begitu ngeri di mata.. Semua begitu tak ada harganya.. *awas neraka – seek six sick*

Pada mulanya di lautan luas seekor hiu berenang lepas menjauh dari kerumunan. Meliuk-liuk dalam. Menari-nari bebas. Mungkin, dalam benaknya, benak si hiu yang tangguh itu, “akulah kuasa laut”. Penghuni tingkat tertinggi pada rantai makanan. Tenang, cepat, bertaring kuat.

Pada suatu ketika. Saat senja tiba. Laut yang merah jingga karena cahaya. Di sudut matanya mengalir merah darah. Beberapa kail besar melukainya. Tak kuat bertahan dan melawan. Kuasa laut harus terkapar di dalam perahu nelayan. Andai kata seperti kucing yang konon katanya memiliki nyawa sembilan. Sang hiu bisa saja bangkit, menyerang balik si penangkap. Mengoyak-ngoyak isi perutnya dan meninggalkan tubuh yang berantakan.

Tubuhnya yang kuat harus terpisah-pisah. Sirip kebanggaannya menjadi buruan para penganut kepercayaan obat atau penikmat kuliner. Nilainya yang melambung dan berharga tinggi. Menjadikannya tersudut di lautan yang luas. “Semua begitu ngeri di mata.. Semua (kehidupan) begitu tak ada harganya..” menjadi lebih bernilai dengan jangkauan lembaran-lembaran rupiah. “Tak ada harganya”.

Gejayan, 1Jul13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s