Surat

Aku terhenti di ujung pekarangan rumah. Memandang kotak surat yang menganga. Sudah dua minggu lebih aku seperti ini. Terhenti di ujung pekarangan. Memandang kotak surat yang menganga. Tak ada tanda-tanda “mulut” kotak itu berisi sesuatu. Penghuni setianya adalah debu dan sarang laba-laba.

Minggu ketiga. Aku terhenti di ujung pekarangan rumah. Memandang kotak surat yang menganga. Surat darinya belum tiba juga. Tak seperti katanya. “dua minggu paling lama, surat itu akan tiba.” Di ujung pekarangan rumah. Dekat jalan. Dalam kotak.

***

Suatu siang menjelang sore. Dengan majalah edisi bulan yang lalu-lalu. Aku duduk di beranda. Membaca pertanda. Akankah seorang pengantar pos yang bermuka lelah akan tiba dan memberikan suratnya padaku. Pengantar pos itu hampit lelah karena mencari. Dan aku penerima pos hampir lelah menunggu. Dalam hal yang berbeda. Satu hal karena memang tugasnya jua. Dan aku tidak sedang bertugas. Haruskah aku juga mencari? Mendatangi kantor pos dekat kecamatan. Dan menanyakan surat untukku. Haruskah begitu?

Baiklah aku bertugas sekarang. Mencari surat yang sesuai skenarionya adalah mencariku, dengan bantuan pengantar pos. Aku tak ingin lelah. Tapi hampirku makin ke sini bisa jadi membatu. Kuselesaikan dulu membaca majalah juga pertanda. Yang diantarkannya sebuah cerita dari  senja dan dilengkapi dengan secangkir kopi petang.

Mencari surat keesokan harinya. Ke kantor pos yang bersebelahan kantor kecamatan. Kubertanya dengan nada yang mendamba berharap ada kekeliruan yang tak merusak hariku sekarang amm juga keesokannya. Setelah menunggu. Hampir tiga minggu lebih dan ditambah 2 jam menunggu lagi di kantor pos. Tetao aku menunggu juga karena yang mencari adalah petugasnya. Kudapati surat yang skenarionya adalah masuk ke dalam kotak pos. Masuk rumah. Masuk kamar. Di atas pembaringan aku membukanya. Menyobeknya dengan hati-hati. Dengan rasa yang penasaran juga bergembira. Namun skenario itu berubah. Surat itu aku jemput ke kantor pos. Membawanya pulang. Tak masuk kotak. Tapi langsung masuk rumah. Lalu masuk ke kamar. Dan di atas pembaringan aku membukanya. Perlahan dan hati-hati. Dengan rasa yang tak ku mengerti.

“Untuk ketiadaan di sore hari, sempatkah kita menikmati hening di perbatasan waktu? Dari terang yang menuju terang lainnya melalui gelap terdahulu. Jika memang masih sempat. Beruntungnya dirimu. Ketiadaanku itu sudah direnggut oleh tatapan senior di kantor yang menyebalkan. Keluhan para pelanggan yang sama menyebalkan. Seniorku itu sudah merasa seperti pelanggan. Kumenikmati keter(per)batasan waktuku dengan menulis surat ini mencuri beberapa menit. Mudah-mudah kau tidak lekas jemu menunggu. Seperti aku menunggu kesempatan menuliskan ini. Salam untuk ketiadaanmu dari ketiadaanku.”

kamarhitam, seharusnya 27jun13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s