Di Jalanan

Sepi-sepi menepi
Ramai-ramai menyemai
Di jalanan kutuliskan surat berisi kerinduan pada jiwa yang tak pernah usai memberikan nasihat-nasihat, dari siang sampai siang lagi, dari malam hingga malam.lagi, dari pagi menjemput pagi, dari bangkit hingga kapan nanti.

Sepi-sepi bernyanyi
Ramai-ramai bersembunyi
Di jalanan kuceritakan kisah tentang lubang-lubang yang makin terbuka dan menyimpan banyak bara. Tercium wangi busuk semerbak, dari janji penguasa yang telah mati hati, diperdaya kehendak.

Sepi-sepi bersaksi
Ramai-ramai berlari
Di jalanan yang tak beralamat. Seorang pengembara menghentikan langkah. Menghentikan waktu. Menghentikan ragu. Ditemukannya jawaban dari pertanyaan yang lalu. Ada apa dengan rindu? Ketika lagu tedengar mendayu-dayu. Pengembara berkaki sendu. Meninggalkan jasadnya, lekas pulang, berlalu.

Sepi-sepi menanti
Ramai-ramai memuai
Di jalanan sekotak coklat terlindas jaman. Memanggil rombongan semut dan lalat berdatangan. Memuja bumi yang sedang bermuram muka. Berjejer pulang mereka, berbahagia tampaknya, memanggul gembira  kepingan-kepingan coklat itu. Untuk buah tangan bagi yang senang menunggu.

Punung, Pacitan. 24Jun13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s