Sosok Jingga

Bumi. Aku menemukannya tenggelam di ujung barat. Tubuhnya kaku. Wajahnya merah menuju jingga, ada biru dan putih juga. Aku tak tahu siapa gerangan sosok itu? Jangan tanya namanya. Tentu juga tidak kutahu. Tangan kirinya menggemgam belati. Ditelinganya ada darah segar yang menggumpal. Rambutnya berantakan seperti teracak angin pesisir. Baru saja. Ketika petang datang merebut terang. Redup yang begini kata orang enak berpegangan. Atau mungkin berpelukan. Tapi, pandang! Aku menemukan seorang yang mungkin sedang bermain-main dengan kesunyian. Berkejaran dengan waktu yang berputar kencang bagai wahana halilintar yang dioperatori seorang pengendara kencana terbang. Mungkin habis sisa nafasnya untuk sekedar berjalan pelan. Telapak kaki penuh luka yang mengeras.

Tidak. Dia tak sedang diam. Ternyata belari itu bergerak. Perlahan tentu perlahan. Meninggalkan genggam tangannya. Menuju laut! Belati itu menuju laut. Ya menuju pengembaran yang bergelombang. Hilang! Belati itu sekilat menghilang. Ditelan debur ganas pantai selatan. Belati yang bersih dan mengkilat. Kini telah menempuh jarak dengan sosok yang mulai bergetar. Berdengung bagai lebah.

Tidak. Tak hanya belati yang melepas diri. Darah yang menggumpal itu sekarang menetes, amat pelan dan kemudian mengalir. Membasahi bulir-bulir pasir yang putih kekuning-kuningan. Pasir pantai ini mendadak kejap menjadi merah. Karena darah dari telinganya. Telinganya rusak hingga darah jua yang menyeruak. Telinganya! Tidak, telinganya keluar juga bisik-bisik berisik. Mengapa telinga itu seperti pengeras suara? Mungkinkah dulu ia seorang pendiam bertelinga luas. Hingga diamnya tertumpuk di saluran pendengarannya membentuk gunungan yang siap pecah dengan kendali picu dari mulut yang terkunci. Dan sekarang diam itu sungguh berisik. Bisik-bisik apa yang sedang diperdengarkan padaku? Tak begitu jelas. Seperti sekumpulan orang yang berteriak berbarengan. Seperti ingin paling didengar. Ternyata teriakannya tak lebih dari angin yang keluar dari dubur. Sering bau, kadang menghibur.

Langit. Aku melihatnya diam disamping sesosok tubuh yang terkapar. Ia mengenakan pakaian hitam. Celana panjang warna hitam. Kakinya telanjang. Matanya merah. Pipinya juga. Ada tetes air. Mungkin itu air mata. Mengalir begitu deras. Bagai air terjun di pedalaman. yang masih menyimpan misteri. Di derasnya air yang jatuh itu adakah kehidupan di dalamnya? Atau mungkin keramaian seperti air yang bergerombol menampar bebatuan.

Di samping tubuh yang tak lagi utuh. Ia bersiul dengan nada pedih mengantar kepulangan yang biru. Siul bersama angin menemani para nelayan menuju ladang airnya. Menjemput harap yang akan hilang tak berbekas jika sudah menyentuh darat kembali, keesokkan harinya, sering juga berminggu-minggu lamanya. Wajah jingga tadi nampak di balik punggung para petani samudera. Yang tersenyum bangga meninggalkan rindu di pesisir. Menafkahi laut dengan sejuta tabir. Hingga didapatinya waktu untuk menjemput rindu yang ditinggalkannya tadi. Dan membawanya pulang untuk yang terkasih.

Bumi. Langit. Nelayan menembunyikan senja bersama rombengnya jala. Air mata, belati, telinga yang tertusuk terik mentari berkali-kali. Tetap menyempatkan senyum untuk kembali menyiangi rindunya yang marak.

Kamarhitam, AH&SP, 20JUN13.

*zn
Anakwayang

3 thoughts on “Sosok Jingga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s