Tara dan Sela

Tara yang sedang menikmati kopi siangnya ditemani cakram terhangat dari ben pendatang baru dari skena musik lokal, cakram padat pemberian Sela. Karena hari ini tak ada kegiatan yang mengharuskannya beranjak dari kamar sewa kotak tempat segala proses hidup menghidupi anak rantau macam Tara. Dapur basahnya ada di rumah makan mana saja, di sana ada kasur, hanya ada kasur di kamar itu beserta rak-rak sembarang dan dapur kering untuk menyeduh minum secara singkat dan efisien, lainnya adalah barang-barang nuansa lelaki penggemar musik aliran “bukan kebanyakan”. Kamar dengan atmosfir rumah-rumahan. Kamar mandinya berjarak sepuluh langkah malas dari pintu kamar Tara.

Sambil menunggu Sela datang. Ia membaca-baca coretan pada buku kecil sakunya. buku yang digunakan untuk menulis apa yang terlintas, dari rencana harian-bulanan, rancangan biaya, barang-barang dagangan, barang-barang belanja, buku, taman, musik, panorama, semua ada, hingga rasa yang bercerita ketika menanti. Ia hanya senyam-senyum melihat tulisannya yang paling rapi hingga yang paling susah dibacanya. Setengah jam sudah ia berkutat dengan buku catatan yang  mirip buku coretan. Sela belum datang juga.

“Ke mana Sela, mengapa belum datang juga? Ketiduran apa ya, atau jangan-jangan lupa?”

Sela adalah teman dekat Tara, seorang perempuan asli daerah tempat Tara merantau. Mereka berkenalan di sebuah perpustakaan kota. Karena sering membaca di lorong rak buku yang sama. Akhirnya sebuah buku menjadi jembatan untuk mereka berkenalan. Sela yang santai bahkan terkesan cuek. Berbeda dengan perempuan seumur yang kekinian. Sela lebih memilih menghabiskan uang bulanannya di teras-teras buku bekas, daripada disela-sela manekin toko pakaian. Namun dengan begitu bukan berarti Sela nampak ketinggalan, dari kesenangan memadu-padankan pakaian bekas layak guna ia terlihat lebih trendi dari yang paling trendi. setidaknya itu menurut Tara.

Terkaan Tara buyar dan terbayar. Sela datang dengan muka polos cengar-cengir. Terlontar permintaan maaf karena telah membuat Tara menunggu.

“seru sih bacaannya, nanggung kalo gak baca sampe abis, hehe”

“Nih buku-mu, terima kasih yak” Sela mengeluarkan buku dari tasnya dan memberikan pada Tara. Buku itulah penyebab keterlambatan Sela siang ini.

Mereka pun meninggalkan kamar Tara, berjalan menuju ujung gang untuk segera berpanas gembira di dalam mobil angkutan. Tak perlu lama menunggu kendaraan idola meminggirkan badannya ke dua orang tersebut. Sekejap Tara dan Sela seperti ditelan oleh makhluk besi bernama keren Angkot. Di dalam angkot mereka bergembira. tertawa-tertawa dan saling meledek. Hingga para penumpang lainnya yang didominasi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak melirik mereka berdua. Seperti tatapan bom kecil yang siap meledak.

“Bagaimana udah denger belum, lagu-lagunya keren?” Sela bertanya tentang cakram pemberiannya.

“Keren, aku suka sama konsep mereka, mendengarkan musik mereka seperti membaca pencer”

Sela puas dengan jawaban Tara. Benar juga kata anak-anak, ben itu memang oke.

“Selain musik mereka memberikan konsep artwork yang unik. Sebuah ilustrasi bergambar cangkir yang di dalamnya bukan air namun kata-kata yang tertulis terbalik” papar Tara

Aku merasa seperti meminum kopi sambil membaca buku/tulisan yang katanya terpenggal terbalik. Penuh tanya dan menebak-nebak. Agak susah memang pertama kali mendengarnya, namun setelah tahu bagaimana cara menikmatinya, akupun sontak menggandrunginya.

Setelah lama bermacet-macet. tiba juga mereka di sebuah toko buku besar ternama. Yang merupakan tujuan pertama hari ini. Mereka bergegas masuk dan melihat-lihat buku yang berjejer rapi. Rasa nyaman timbul jika mengunjungi tempat ini. Mereka pun berpencar sesuai dengan kehendak masing-masing. Tara lebih dulu mendapatkan buku yang diincarnya. Setelah itu ia menghampiri Sela yang masih saja membolak-balik buku dalam genggamannya.

“Sudah dapat? tanya Tara.

“Sudah, tapi semacam ragu.”

“Ragu kenapa?”

“Buku ini mengingatkanku kembali pada yang tak ingin diingat. Padahal dari buku ini pula yang membuatku sering mengunjungi perpus dan akhirnya bisa berkenalan denganmu.”

“Sudah keranjangi saja, perihal dibaca atau tidak nanti urusan lain, jika siap, baru di baca. Jika belum, setidaknya kamu tak perlu jauh-jauh menuju tempat ini, dan buku ini sudah bertengger manis, berbaris di rak bukumu.”

Sela semacam tercerahkan. Mereka pun bersama menuju kasir. dan membuat sah buku-buku tersebut. Tara melihat jam tangannya.

“Ayo segera! Kita harus meringkus senja hari ini.”

Mereka berjalan cepat meninggalkan toko buku. Menuju taman yang tak jauh dari toko buku. Harusnya sepuluh menit dengan berjalan kaki. Berhubung kota tempat tinggal mereka adalah kota yang sedang menuju kota “manusia”. Maka memakan waktu lima belas menit. Trotoar adalah barang langka untuk melangkah. Mereka harus berhati-hati dengan pengguna jalan lainnya. Agar terhindar dari senggol amuk.

Sesampainya di taman mereka duduk di bangku panjang tempat mereka biasa meringkus senja. Senja sekarang sering bersembunyi, untuk itu harus diringkus, agar bisa dinikmati. Tara memulai obrolan.

“Andai perpustakaan di negeri ini seperti toko buku besar tadi. Nyaman dan terang. Namun perpustakaan kebanyakan sudah terkesan membosankan. Harusnya para penggiat menyadari ini. Berharap pada pemerintah daerah sepertinya omong kosong. Mereka menggalakkan program wajib belajar. Namun perpustakaan malah dibuat mirip gudang. Terkesan asal dan penuh keluhan.” Tara berpendapat.

Mendengar Tara berbicara seperti itu, Sela malah asik mengunyah kudapan yang menjadi bekal acara meringkus, sambil melirik penuh ledek ke tatapan Tara.

Tara merasa dilecehkan, sepertinya di taman tak perlu ada obrolan yang menyebalkan. Dan suara renyah tawa terhambur. Suara renyah mirip kudapan. Lalu mereka diam dan cenung secara otomatis. Menikmati matahari jingga yang bersembunui perlahan di balik, pepohonan, di balik gedung bertingkat, di balik kendaraan. Senja yang tak pernah sempurna, manusia serakah sudah menjadikannya paket penarik wisata. Dan di kota ini, hanya sisa-sisa yang dirasa. Namun itulah kesenangan yang tak terganti. Ketika sisa-sisa saja bisa menawarkan bahagia.

Setelah menyala lampu taman. Di gelar lagi cerita-cerita lain dalam obrolan. Mereka menghanyutkan diri dalam dekapan malam hingga dingin memisahkan mereka. Pulang ke peraduan yang dirindukan.

Kamarhitam, DDH, 16JUN13.

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s