Batu

Batu yang terbang kencang itu menembus tengkorak kepala, berdiam menyatu menjadi daging, menjadi bagian dari kepala. Maka dikenallah kepala itu kepala batu. Ketika pagi datang, si pemilik kepala batu, masih tidur dengan liur yang menyebar. Tidurnya pagi sekali maka dari itu bangunnya pun sekali-kali pagi, selebihnya siang sekali. Atau tidur berhari-hari.

Kepala batu yang mencintai malam, melebihi cintanya pada batu. Disaat malam datang, terompet perayaan dibunyikan. Sebuah penyambutan untuk dirinya yang menyerupai hantu. Hantu dengan darah yang mengalir penuh dendam. Hantu dengan sifat yang penasaran berlebihan. Ia terjang malam-malam dengan kegiatan yang mengerikan. Merangkai cerita tentang kesedihan dan kekalahan. Rangkaian cerita yang panjang, sepanjang ia kuat menarik nafas. Ia sematkan cerita yang berangkaian namun bertunggal, pada batu-batu kerikil yang mudah dijumpai. Terkadang mencelakai orang-orang yang kurang rasa waspada. Cerita-cerita peringatan, untuk dirinya sendiri tak ada muatan untuk menjejali orang lain, tak ada! Kilahnya. Tak perlu megah, menurutnya, cukup kecil-kecilan dan banyak jumlahnya. Tinggal penyebarannya yang diperhitungkan. Juga kestabilan waktu dijadikan titik berangkat. Semua itu bersumber dari batu di kepalanya. Yang menghasilkan batu-batu bercerita. Lebih mengerikan menurutnya jika batu-batu kerikil bertuliskan cerita-cerita karangan itu hempas menyendiri di jalan-jalan, di lapangan, di tempat terbuka tempat orang lalu-lalang. Lebih menyakitkan jika batu-batu itu tersembunyi, menempati ruang yang sepi, ruang yang kosong dan tak berpenghuni, hanya jiwa-jiwa melayang yang tak memiliki lagi rasa peduli, jangankan peduli, tapi jelas tidak memiliki rasa lagi. Di tempat-tempat seperti itulah batu membelah dirinya, memperbanyak bentuk, menyebar di penjuru waktu, menghembuskan kesedihan, kekalahan.

Si kepala batu. di kepalanya ada batu, batu yang sengaja dipeliharanya. Untuk memenuhi ruang kosong di kepalanya. Tak banyak lagi waktu untuk bergerak, namun masih ada waktu untuk berbenah. Merapikan batu kembali pada tempat asalnya. Bisa dengan berbagai metoda dijadikan batu itu untuk mendirikan bangunan kokoh yang menentramkan jiwanya atau mungkin menggubahnya menjadi cinderamata kehidupan yang tentu saja berbahan batu mulia.

kamarhitam, DDH, 15Jun13.

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s