Tuan Muda

Tuan muda berjalan dengan congkak di gang suatu perkampungan dekat istana. Saat sore cerah, tuan muda melakukan kesenangannya berjalan-jalan sore hingga waktu matahari terbenam, setelah petang datang ia baru pulang ke istana. Tuan muda berjalan tanpa pengawalan, ia serasa bebas. Namun sayang, kebebasan yang dirasakannya masih saja menyertakan rasa angkuh istana. Kebebasan yang angkuh. Kebebasan yang semena-mena. Warga perkampungan yang berpapasan dengannya tetap menyapa halus lagi sopan, sapaan itu bukan karena harus bersikap begitu, namun karena takut kepala mereka dipenggal di depan khalayak. Karena telah berbuat perilaku kurang ajar dan tidak menyenangkan. Dan itu jalan-jalan sore terakhir tuan muda. Sebelum tanah kuasanya bergejolak bagai air mendidih. Yang siap tumpah membuat panas menyebar menyiram sabar.

Sikap rakyat mulai meranjak, tata krama dan penggal kepala bukan lagi momok yang menguburkan semangat berjuang mereka. Hari-hari begitu marah dalam amarah. Berawal dari keputusan tuan muda yang tidak populis dan menyakitkan, untuk menarik semua kuasa lahannya, yang ia dan kroninya pikir itu lahan yang menguntungkan, menggiurkan, yang akan menambah pundi-pundi kekayaan mereka. Menggusur, mengambil alih dengan cara yang curang, memutarbalikkan hukum yang telah dibuat oleh pendahulunya. Begitulah cara tuan muda dan para pengikutnya memuaskan nafsu.

Rakyat telah bersiap, menyebar perlawanan dari pegunungan, pesisir-pesisir, merasuk pada desa-desa, menusuk ke tengah daerah. Istana menyadari itu, dengan para pengikut setianya pun telah merancang antiperlawanan. Yang lagi mereka pikir itu mempan, karena menganggap rakyatnya masih bodoh dan gampang dibohongi. semua rencana-rencana telah putus di tengah jalan. berbalik sebelum di eksekusi.

Tuan muda makin merasa ketidakberesan ketika habis jalan-jalan sore itu. Rakyatnya yang masih ramah tapi terasa begitu iasa saja. Malam-malam menjadi penuh kegelisahan. seperti yang dirasakan rakyatnya menunggu waktu untuk menurubuhkan tiran tuan. Daerah yang di kuasai tuan muda makin lama makin hambar dan tiba-tiba mati rasa. Rakyat dan penguasa tak lagi memiliki rasa bersama. Apalagi tujuan yang serupa.

Kemakmuran yang bisa dirasakan bersama hanya mimpi belaka. Sejak tuan muda memilih jalannya tanpa belas kasih dan rasa terima kasih. Dan rakyatnya pun memilih jalan mereka untuk merebut kembali, ketidakberpihakan istana pada mereka. Bagaimana nasib mereka ketika lahan-lahan yang telah menghidupinya akan diambil alih? alih-alih menyejahterakan. ternyata tipu daya untuk menghancurkan.

Rakyat yang terlupa mengangkat senjata. Tuan muda tinggal menunggu waktu, meregang nyawa.

kamarhitam, ditemani Black Sabbath, 14JUN13.

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s