Awan dan Hujan

Setelah malam-malam yang hangat di sisi jalan berganti dengan riuh obrolan di warung kopi beratap distorsi. Di sana sering diam menjadi kerinduan di luar jangkauan. Saat awan dan hujan kehilangan kata-kata, menghilang sebab panas yang memuncak, sebab tarian.

Awan dan hujan yang sering berjalan dengan diam. Menyusuri sisi jalan yang tumbuh banyak hati dan jantung yang mati. Menapaki lingkar bumi yang makin letih dan menukik ngeri.

Di pundak awan sering memanggul rindu yang amat. Di pundak hujan sering pula memikul ragu yang berat. Mereka berjalan hanya dengan diam. Terdengar dalam petak-petak bata jerit yang merata.

“bagaimana bisa kata-kata itu menghilang?”

“siapa yang tega meneguknya hingga nihil?”

awan dan hujan berpegangan, mereka ketakutan. Pada telapak yang penuh lika-liku garis tangan yang berkeringat tertulis pertanyaan sederhana. Yang jawabannya bisa saja adalah masa hidup dalam bimbingan semesta. Tak pernah terjawab. Tak pernah terungkap. hanya diam tinggal diam yang berkejaran kencang dengan waktu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s