Tinggal Jauh

Aku sudah meninggalkannya jauh, jauh sekali, di balik matahari yang terik-yang sering membuat bayangan menari-yang pada sisi vertikal mengecilkan bayangan-yang menjelang terbenam; di lautan, di
pegunungan, di jejalanan, di lapisan layar tipis bernama dunia digital. Di sana, di tempat yang masih sama. Suaraku sering menjadi bahan bakar api unggun canda-ditertawakan- diberikan isyarat yang makin membuat mataku panas dan ingin segera berpejam. Semakin api mencium atmosfir, suaraku makin mengalir menuju wadah bundar-bernama, kepayahan daya.

Bagaimana itu bermula, tatkala seorang tangguh yang melankolis datang padaku, mencuri semua yang kuperlihatkan padanya. Hal-hal yang pura-pura, tak sejati, hanya sementara, berbahan plastik, cuma titipan. Di kamar itu. Malam menuju hari, berulang, memunguti waktu. Dia yang tangguh mulai dengan konsisten dan patuh, menggerogoti yang berhasil dicurinya. Tanpa kenyang, tanpa puas- percik darah, petak daging, bilah jantung, cuil pikir, kelumit senyum, tetes tangis, gurat rindu- disantapnya, beringas.

Lalu ditinggalkannya, pelukan yang dingin. Telah kutinggalkan semua di jalan. Tapi jalan itu, mengikutiku. Jejakku tertinggal. Jejakku jadi sebab dari semua sembab, dan energi dari jalan yang membuntutiku.

Padahal, aku sudah meninggalkannya, jauh, jauh sekali.

TNG, SJSB, 7JUN13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s