Ruang Bertahan

Tak lama berselang, 15 menit yang lalu, ujungnya yang mengeluarkan asap harus menerima kenyataan mati setelah dipaksa mencium dengan brutal dasar asbak berwarna merah itu. isi tubuhnya terburai, bergabung dengan debu-debu dan puntung lainnya . asap terakhir sekelebat raib ditelan cahaya remang ruangan. seorang yang sedang menunggu seorang sepertinya. gelagat tak tenang terlihat dari caranya memperlakukan gelas kaca yang berkeringat itu.

“lima belas menit lagi, sekiranya aku masih bisa bertahan”

Dibakarnya lagi sebatang sigaret berasap banyak untuk memenuhi ruangan yang sepi pengunjung itu. musik tanpa vokal mengalun tenang setenang ia menghisap sigaret dan menghembuskannya perlahan dengan mata yang menyempit memandang lampu “hampir usai” yang menggantung di langit kotak. pikirannya melayang–merengkuh, memeluk alat bantu penerangan seadanya itu untuk dihujam dengan pertanyaan-pertanyaan tentang seorang yang ditunggunya. lampu yang tersudut oleh pandangannya itupun hanya diam dihantam tatapan yang heran sekaligus kesal.

“hey kamu, lampu, bisakah kamu itu benar-benar redup lantas mati, dan tempat ini segera menutup diri. sehingga aku bisa pulang dengan menggenggam kecewa yang sudah-sudah sebagai buah tangan dari mengunjungimu”

lima belas menit berlalu, sigaret seperti yang terdahulu, harus mati tersungkur di dalam asbak seperti kawanan yang lain.

lewat dua menit.

“ternyata aku masih bisa bertahan” ungkapnya dengan dengus yang terdengar oleh dua ekor tikus yang sejenak memandangnnya lantas abai dan meneruskan kesenangan mereka mencicipi sisa-sisa ketersisaan di tempat sampah dekat dapur yang juga berdampingan dengan muka lorong menuju toilet.

Lewat satu jam. puntung-puntung pun sudah tak lagi menghujam dasar asbak. satu demi satu dari mereka mulai melukai kawanan puntung yang kaku terbaring tenang mendahului.

Hampir dua jam.

“Sinting aku masih bertahan.” gelas kedua datang dengan senyum lelah pengantar sajian.

“Lihat pengantar yang melayaniku itu. mukanya lelah. aku melihat senyumnya yang jatuh tercecer di atas nampan. sebagian lagi menetes–masuk–bercampur dalam minuman untukku. Nampaknya minuman ini segar namun kenapa terasa datar malah menjurus hampa.”

tiga puluh menit. tiga puluh menit yang ke-dua belas.

pengantar yang sama datang menyapanya dengan lembut dan sopan. “last order tuan, apakah mau pesan sajian yang lain?”

terjawab, seorang itu menggeleng. pengantar itu pun membersihkan meja yang lain.

“kenapa ia membersihkan meja tersebut? padahal dari senja tadi, hanya aku pengunjung ruangan ini” segala sudut sudah ia hujami dengan pertanyaan-pertanyaan. mereka tentunya akan diam. dan terus diam. dari meja, kursi hingga pendingin ruangan yang hanya menjadi motif lain dari lukisan dan ornamen-ornamen pemanis untuk menutup dinding yang bolong dan penuh luka.

lampu-lampu yang redup itu pun mulai mati satu persatu. alunan musik sudah berganti dengan lolong hewan malam. derau angin terdengar seperti sedang berkelahi di luar sana.

“terima kasih, sampai jumpa lagi tuan”, ucap kasir ramah yang dari matanya menetes air mata, disinyalir karena bosan lagi mengantuk.

Ia melangkah pasti dari ruangan itu. angin malam kata sebagian orang adalah jahat. tidak baginya angin malam yang dingin itu membekukan sebentar ingatannya tentang seorang hingga ia bisa sampai pada ruangan lainnya. Siapa bilang mengingat adalah hal yang sulit, lebih sulit kiranya adalah melupa.

Dan lolong hewan malam semakin menusuk jantung, simfoni dari siapa saja yang terbujur stagnan merawat luka disaat gelap memeluk hari, lalu istirahat dari kegiatan memeras ingatan karena terlelap sejenak karena payah. Kemudian bangun dan terus melangkah ketika hari berangsur benderang. siklus terulang, lagi dan kembali. hingga dirinya merancang keinginan untuk memiliki rasa berkeinginan pindah ke semesta sebelah, yang katanya damai walau penuh jelaga dan terka.

kamarhitam, tepat berakhir di track Individual Life dari album Jogja Istimewa, 1JUN13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s