Remuk

Remuk. Meninggalkan keping-keping ingatan yang tercecer di bekas kolam hunian. Tempat terbaik yang pernah dipilihkan untuknya menelungkup beberapa masa. Impi tentang bebas; mimpi lepas-liar dari keinginan untuk merangkainya; menjahitnya kembali menjadi kesatuan bentuk yang pernah tercipta. Belum pernah terjadi, belum akan tercapai. Malahan menjadi ketekunan baru dalam melantunkan lagu-lagu pemuja keheningan berdecap-decap saban terinjak keping-remukan tersebut olehnya.

Sengaja terbiarkan; tertak-terhiraukan. Huru hara handai datang silih berganti. Seperti hujan di siang hari yang kering. Menampakkan terang yang berlinang. Ia duduk beralas tikar berbahan awan. Ingatan yang cedera tersangkut di ujung dahan. tertunda jatuh karena kencang berpegangan, semakin terlalu, lalu dahan yang makin rapuh pun melepaskan kehilangan kekuatan. Deguk! Cebur juga raganya.

Tabir asap terlontar dari mulut beraroma sumpek. Seketika tak tampak ia terbang berdansa lalu lekas terjun menuju hamparan cekung tanah serupa kolam. Tenggelam. Mengapung dan berenang-renang. Di kolam berisi air mata dan keringat ketika ia bergelantungan, cairan dari tubuhnya sendiri. Tangannya basah, kakinya basah, tubuhnya basah, kepalanya basah, jantungnya? remuk hingga kering dengan mudah.

kamarhitam, ditemani Prog, 20MEI13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s