Rumah Kecil Ujung Jalan

Kawanan angin menari-nari di atas atap rumah kecil di ujung jalan itu. Rumah kumal yang mungkin karena sudah lama tak terjamah. Konon, sering terdengar suara alunan musik yang menyayat dari sana dari biola, gitar hingga seruling. Sejak berlakunya jam malam di kota itu. Rumah kecil yang menyimpan banyak tanya itu kini makin dihindari. Tak ada seorang tetangga sekitar rumah itu yang berani masuk jangankan untuk masuk ke dalam rumah, untuk memasuki halaman saja para tetangga dekat akan menolak dengan tangisan.

Terakhir kali. Rumah itu tampak hidup, ketika ada pertengkaran yang terdengar hingga sembilan rumah disampingnya, diseberangnya. Pertengkaran malam hari yang jadi awal dari kisah-kisah yang mulai santer terdengar sampai kini.

Dulu yang tinggal di sana adalah, lelaki dan perempuan. Dua orang yang ramah. “mereka suka bercanda” kata seorang tetangga yang gemar makan rujak itu. “Saya rasa hidup mereka penuh dengan tawa canda, pasangan yang serasi,” lanjutnya. Dua orang yang berlatar belakang pendidikan seni itu memang unik dan berselara beda. Mereka merias rumah kecil itu dengan gambar-gambar bernuansa kegelapan menggunakan cat semprot di dinding-dinding rumah. Ada sebuah topeng berukuran besar yang digantung di depan pintu. Rumah tersebut akan terlihat aneh di antara rumah-rumah yang terasa normal dan biasa-biasa saja, dengan dinding warna seragam.

Sejenak saja, ke-tidakbiasa-an mereka menguap bersama pertengkaran yang riuh. Dari peristiwa yang terdengar hingga sembilan rumah ya sembilan. Prasangka yang aneh-aneh mulai menghujam sudut-sudur rumah kecil itu.

Dua orang yang ramah dan menyukai tawa renyah itu. Kini tinggal kenangan. Kemurungan, kegelisahan, keresahanan yang menjadi gambar-gambar di dinding rumah mereka seperti hidup pada waktunya. Dan menyebabkan kenangan begitu hidup di dalam rumah memainkan musik-musik yang menyayat itu. Di balik semua keramahan yang pernah tercipta–tersimpan kemarahan yang siap meledak-ledak. Tak ada yang menyangka. Bahkan kedua orang itu kiranya.

Kamarhitam, the panasdalam, 23mei13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s