Kata Pengantar

TAMPAK kau sedang asik membaca. Di antara rak-rak buku kesusastraan taman bacaan kota. Duduk “melantai” di tempat yang menyerupai lorong pendek itu. Lorong yang terlalu sempit untuk dilewati dua orang sekaligus. Harus ada yang “mengalah” untuk menyingkir terlebih dahulu agar orang lain bisa menjangkau buku-buku di rak tersebut.

Wajahmu tampak kesal dengan kehadiranku. Buku yang sempat kau tutup itu, kembali kau buka dengan wajah merengut. Seperti kehilangan momentum baca. Tapi mengapa kau membaca di tempat ini—lorong sempit. Kenapa kau tidak di sana—tempat baca yang lebih nyaman— di meja dan kursi empuk. Waktu juga sudah sore, pengunjung perpustakaan sudah banyak yang pulang. Kata-kata sapa dan tanya itu tak terungkap. Hanya terangkai dalam kepala, kemudian larut dalam deretan kode urut judul-judul buku yang sedang kucari. Kamu duduk di posisi yang sama. Aku dan kamu kembali ke dunia sendiri.

Ku perhatikan sekali lagi. Kau sudah tidak ada di tempat barusan, begitu cepat kau berpindah posisi. Atau kemungkinan aku yang terlalu tidak fokus denganmu. Sudah kudapatkan satu dari dua buku yang kucari. Aku bergeser ke posisi yang kau tinggalkan. Tanpa banyak waktu aku langsung tertuju pada buku yang bukan kucari. Buku itu tidak di dalam barisan seperti yang lainnya. Ia di luar penyangga. Dengan posisi telungkup. Tidak seperti kawanannya yang berdiri jejer.

Segera ku buka buku tersebut. Terasa hangat. Seperti baru saja dari dekapan tangan. Di ruang yang dingin ini. Mudah saja menerka-nerka. Apalagi dengan suasana yang tinggal beberapa orang saja di taman baca ini. Petugas tiga orang, dua pegawai dan satu penjaga keamanan. Lima pengunjung. Salah duanya adalah aku dan kamu. Tiga pengunjung lainnya sedang menyelam dalam halaman bacaan.

Kulihat lagi dengan heran, kenapa bisa aku (ingin) tertuju pada buku ini. Adakah kode yang ku tulis tak bisa kucari keberadaanya? Tak peduli. Bukan suatu masalah, aku terlanjur suka dengan judulnya. dengan ilustrasi halaman mukanya. Lalu sesal dengan sembrono datang lagi. Kenapa kata-kata tadi tidak terlontar? Tentu menarik obrolan jika benar kau juga membaca buku ini. Ku buka-buka halamannya, ku baca dengan perlahan-perlahan sambil mengingat dirimu yang sedang duduk, tampak asik. Lalu aku datang, kau pun terusik.

Hei buku, hei kamu! Buku yang (mungkin) sama sedang ku baca. Aku menyukainya, seperti menyukai raut wajahmu yang sedang merengut. Buku yang “tidak biasa” ternyata, meski pengarangnya tak bernama. Buku itu menarikku bersama bayangmu, buku yang setiap lembarnya hanya adalah kata pengantar, dari awal halaman hingga akhir lembar. Hanya berisi kata pengantar. Mungkin aku harus mengkaji kembali bagaimana cara memperlakukan kata pengantar. Entahlah. :)

Kamarhitam, ditemani the best-nya Nicky Astria, 23MEI13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s