Tuan Kata

Tuan, aku sedang berbaring di atas batu besar dekat kali yang airnya keruh. Pada sore yang cerah-yang akan berlalu sebentar lagi. Dalam baringku, terdengar percakapan riang dari petani yang lewat. Orang-orang muda dan tua berkendara sepeda menggunakan caping di kepalanya.

Percakapan pecah diantara mereka, hanya selintas terdengar. Angin baik mengantarkan kabar baik ke telingaku. Dari mereka yang lewat tadi ada jiwa yang tahu bagaimana menjinakkan lelah setelah seharian di ladang bergumul dengan tanah dan lumpur. ‘anakku sudah bisa berkata’. Kabar baik yang ku dengar itu.

Kebahagian itu seakan menular kepadaku. Yang masih berbaring di atas batu. Sedari pagi aku di sini, di pinggir kali ini. Aku tersenyum membayangkan anak yang bisa berkata. Rumah mereka suasananya makin ramai kiranya. Karena bertambah lagi suara di rumah itu.

Seekor lalat terbang dekat telingaku. Membangunkanku dari baring yang dingin ini. Ku melihat ke arah kali. Pelampung pancingku bergerak, akhirnya umpanku ada yang menghampiri. Mudah-mudahan ini bukan sampah lagi. Sampah plastik yang tersangkut di kailku. Dengan cemas dan cermat ku gulung benang pancingku. Tarik ulur terjadi. Dan sial, pemakan umpan lepas.

Di hari yang mulai gelap, senja baru saja lewat, aku harus pulang dan kehilangan kata. Apakah anak itu, yang baru bisa berkata itu, meminjamya?

Maaf tuan, aku harus pulang tanpa kata apalagi hasil dari memancing.

kamarhitam, ditemani RSTH, 19mei13.

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s