Malam Yang Berjarak

Malam terasa berjarak. Tak henti-hentinya Utara mengutuk hari yang lelah dengan umpatan-umpatan lama geletak di kepalanya. Sumpek yang menumpuk itu kini meledak-ledak, membasahi matanya. Beberapa tempo sudah ia mencoba untuk menahan sekuat ia bisa. Ternyata ia tunduk dengan rindu yang menggebu-gebu itu. Bukan lagi hal yang aneh baginya. Kertas-kertas bening hingga buram hanya berisi tentang deretan-deretan kata tentang sebuah nama, umpatan, sebuah nama, umpatan sebuah nama, sebuah napa umpatan. Cerita rindu yang mulai membuat kotak hitam misteri penuh dengan surat-surat yang gagal ia kirimkan. Karena ketakutan yang menghadangnya tak juga jatuh terkapar. Tetap angkuh berdiri di depan matanya yang mulai letih menatap terang, berkedip-kedip jika membaca kata kecewa, seakan masih saja tak percaya. Kertas-kertas itu pun pakah juga terkutuk?

Utara bukan tak ingin melawan. Utara ingin. Tapi belum mampu. Ia memilih membalikkan badan, menghindari bentrokan, ada saja alasan yang membuatnya bersembunyi di balik pintu, di balik lembar-lembar bacaan, di balik kata-kata yang menjulang. Pandangannya kosong jika menatap jendela, senja indah yang tak pernah kembali itu masih saja diharapkannya datang. Saat detik berjalan pelan menuju hampir petang, datang endap-endap mengetuk pintu beranda. Mengajaknya duduk beralas lantai dingin berteman teh atau kopi hangat sambil memuja terang yang menyingkir, menjadikan langit jingga yang mereka sebut saat-saat untuk melepas semua desakan rutin yang membuatnya tersungkur dalam kubangan rindu dan ragu.

Tapi jauh dari harapannya, menjauh dan semakin menjauh. Senja yang indah itu takkan pernah kembali. Gelap yang datang tepat waktu, selalu saja menjadi teman untuk berkeluh resah, tentang kebingungan dan ketakutan. Karena ketika siang yang membara, ada mentari yang siap membakar apa saja yang mentang-mentang dan menantang. Ketakutan yang menakutkan.

Utara merasakan malamnya semakin berjarak, Duduk ia di sudut kamarnya. Kertas-kertas yang (turut) terkutuk? bertebaran di sekelilingnya menjaga jarak. Di kamar ini kami bertiga: aku, pisau, dan kata – kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya tak peduli darahku atau darah kata*

catatan:

* sajak “Kami Bertiga” Karya Sapardi Djoko Darmono (1982)

 

kamarhitam, ditemani Nicky Astria album Tangan-tangan Setan, 15MEI13.

*zn

Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s