Tiga Tahun Sudah

“Astaga tiga tahun!” Utara bangun dari ujung mimpinya. Matanya masih mengantung kantuk. Badannya masih berbaring. “Astaga tiga tahun.. tiga tahun.. astaga..” bergegas ia bangkitkan tubuh, melangkah laju menuju dapur, memasak air, lalu ke mengisi bak mandi. Di usap matanya, di tepuk-tepuk pipinya.

“Ya.. tiga tahun sudah..”

Di bukanya kembali koran kemarin. Karena hari ini tak ada jatah untuk membeli koran. Baginya membeli koran tiap hari itu menyebalkan. Beritanya membosankan. Hanya hari-hari tertentu ia niatkan membeli koran. Karena ada beberapa rubrik yang ia gemari. Lebih santai dan menyegarkan.

Sedang tenggelam ia dalam kalimat-kalimat sebuah opini. Suara “siul” ceret menggerakkannya. Air sudah mendidih. Dituangkan air yang mendidih itu mengisi termos kecil yang kapasitasnya cukup untuk tiga kali menyeduh kopi. Seperti kebiasaanya. Kopi pagi asapnya membumbung. Menyatu dengan matahari yang terus bergeser. Tulisan opini seorang politikus itu dibaca lagi. Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu meniup kopinya dan meminum perlahan.

Tak ada pisang goreng atau roti pagi ini. Mungkin pagi-pagi berikutnya. “Langit” sedang tak berbintang. Usaha berdagang buku bekasnya sedang lesu. Hujan mengajarkannya kembali apa itu bersabar? Di musim yang basah, kantungnya harus kering. Karena lapak tempatnya berjualan harus menolak gelar kalau hujan turun. Dan yang dijual adalah buku, benda yang sensitif dengan air. Tak cukup ia menyewa tempat yang lebih oke. Karena keingingan berdagangnya adalah mencari teman, syukur-syukur dapat untung. Temannya, adalah orang-orang yang menghargai waktu. Walau tak semua pelanggannya begitu. Ada juga yang tetap mencari kesempatan mendapatkan keuntungan dari “bersahabatnya” harga buku dengan teman.

Ia mandi setelah ritual kopi pagi. Menyadarkan tubuh. Hal yag terulang setiap paginya adalah menyegarkan ingatan–menyadarkan tubuh. Bangun tidurnya sering tak mulus. Ada saja mimpi yang memaksanya mengigau dan terbangun paksa. Mimpi yang tak pernah ia inginkan, apalagi untuk diulang-ulang. Semenjak senja yang indah itu tak pernah ia lihat. Tidurnya adalah kegiatan memakan tenaga. Karena dalam tidur itu selalu memaksanya untuk berlari-lari, menyita nafasnya, membuatnya megap-megap, dan bangun dengan jantung yang berdebar. Seperti habis berolahraga. Tidur menjadi hal yang melelahkan.

Setelah mandi sebuah pesan singkat mampir ke ponselnya. “Baiklah” ketiknya singkat membalas, pesan yang masuk itu segera dihapusnya. Bukankah ini pesan singkat. Ya harusnya juga singkat mereka mampir di ponselku.”

Dia melangkah meninggalkan ruang mimpinya. Ruang yang menjadi pijakan awal ia berdaya. Hari ini ada beberapa hal yang harus diobrolkan. Ya kegiatannya selain berdagang buku bekas, waktu ingin, hingga tengah malam adalah mendisain. Baginya mendisain adalah seperti penulis. Bisa juga seperi pendongeng. Bisa juga seperti seniman. Seniman, jika ingat kata itu Utara hanya bisa tertawa kecil, ingat ia kata ayahnya. “hidupmu mau kayak apa, kalau jadi seniman” sebuah kata “profesi” yang dibenci oleh kedua orang tuanya itu. Dan dari kegiatan berkesenian, orang tuanya mulai memahaminya, tidak memaksanya, dan mereka menjadi lebih terbuka. Karena kesenian adalah “buka-bukaan” bagi Utara. Dia senang jika ada yang mengajaknya berbincang, membuka kran obrolan, yang entah akan mengalir kemana, ke laut apa ke selokan dekat kamar mandi. Dia tak pernah peduli untuk itu.

Namun Utara akan berubah total ketika senja datang. Ia selalu siaga menatap langit. Ditinggalkannya sebentar atap-atap beton, kayu triplek, apapun itu yang menghalangi pandangan luas ke cakrawala.

Ia seolah-olah sedang berbicara dengan langit. Dengan cakrawala yang kadang jingga, seringnya basah. Bibirnya mengecap, berbicara tanpa ada suara. Sebuah kesunyian yang mengambil alih semua bising riuh hari-harinya. Dalam kesenyapan diri yang membuatnya bergerak secara mandiri. Tiga tahun sudah. Senja yang indah itu harus dia “biarkan” pergi tanpa ada kesempatan berujar kata-kata kebebasan. Kata-kata yang masih tercecer di depan perpustakaan yang akan segera ditutup karena berpindah gedung. Dan ketika cahaya lampu kota menguasai malam. Dalam diam semua bergerak. Utara bergumam dalam hati. “Tiga tahun sudah!”

 

kamarhitam, ditemani kompilasi, 13MEI13

 

*zn

anakwayang

One thought on “Tiga Tahun Sudah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s