Lelaki Tanpa Telinga

Tak pernah terbayang sebelumnya. Sesuatu terjadi begitu cepat. Waktu yang berputar acuh—tak mau tahu apa yang terjadi. Utara membungkukan badan, kedua tanganbertumpu pada dengkul kaki. Nafasnya naik turun. Habis berlari-lari ia dengan luka di kepala, ada ingatan yang tercecer di jalan. Senja itu tak mau menunggu. Tak bisa menunggunya lebih lama. Setelah langit yang kelam kemarin itu memberi isyarat, memberi sepotong pesan peringatan. Tentang senja yang indah akan hadir hari ini. Hari dimana Utara harus berlari kencang. Meninggalkan semua yang menyatu dengannya. Begitu kencangnya ia berlari. Hingga didapai dirinya telanjang. Tertinggallah kata-kata yang sudah dirangkainya sedemikian rupa itu. Segala tingkah perilaku yang akan dilakukannya. Semacam skenario yang akan ia lakukan. Skenario lengkap dengan adegan-adegan yang urut. Tertinggal pula topeng yang selama ini ia kenakan. Ia menyadari itu semua, satu satu yang selalu bersamanya lepas dimana, kata-kata ia ingat jatuh di depan sebuah perpustakaan. Tempat ia sering menjaring senja dengan buku-buku ensiklopedi. Skenario yang jatuh di sekitar bioskop tua yang tinggal menunggu ambruk. Dan topeng yang jatuh di depan komplek kuburan. Ingin rasanya ia memungut keping-keping yang terburai itu. Tapi ia diingatkan dengan jarum jam yang tuli. Penunjuk waktu yang tak mau peduli. Tak akan mendengar alasan apapun. Maka ditinggalkannya serpihan-serpihan yang telah menemaninya sejak lahir itu. Dengan memegang luka di kepala ia menangis dengan hebatnya sambil berlari. Mengerjar senja yang indah itu. Yang siapapun tak akan pernah tahu, apakah senja indah akan datang lagi besok. Menyambut gelap dengan sendu. Mempersilahkan terang pulang dengan takjub yang berselimut rindu.

“Aku ceroboh. Pertanda itu aku abaikan. Mengapa aku harus terkecoh indahnya mentari yang terbit di sebelah rumahku. Harusnya aku masih tertidur dengan liur yang melebar. “Harusnya aku masih memeluk gulingku yang tepos dengan suara dengkur yang statis! Mengapa aku harus menyibukkan diri di pagi yang dini itu? Untuk menyambut mentari yang teriknya membuatku takut untuk keluar rumah. Mengapa juga aku harus meninggalkan tempat hangat itu untuk berdingin-dingin dengan udara pagi yang dini? Yang membuatku harus menggigil dengan gigi yang bergemeletak. Dan akhirnya aku harus tertidur lebih lama. Rasakan sekarang, akibat kecerobohanku memilih. Aku akan kehilangan senja yang indah yang aku sendiri tak tahu mengapa senja itu harus dibilang indah.”

Bukankah semua senja itu indah, yang jingga, merah merona bercampur dengan biru, atau yang tertutup awan mendung, malah di musim basah, senja sering kuyup terguyur hujan.

Utara makin tak mengerti mengapa ada yang harus berlari dan berjalan santai. Tak lagikah “kita”. Aku dan senja bisa saling mengerti dan saling menunggu. “Apakah senja tak lagi berpihak padaku?” Lelaki yang telinganya sudah hilang satu karena tersambar pisau oleh lelaki lain. Bermula dari kecerobohanku juga, karena duduk di pinggir pantai sambil memakan jagung bakar bersama seorang yang ternyata sudah memiliki kekasih. Apakah senja sudah mengetahui seluruh kebusukanku? Jika sudah. Mengapa ia tak memaafkanku. Lihat aku telah berlari kencang untuk mengejarnya, hingga aku telanjang sekarang. Dengan kepala yang terluka. Dengan kaki yang lecet karena tak beralas. Sudah kubekali mulutku dengan deretan penyesalan dan permohonan maaf. Namun senja sepertinya tak mau tahu seperti waktu. Berbusana apapun kamu, mau telanjang hingga terlihat tulang-tulang pun. Waktu tak akan menunggu. Tak sudi menunggu. Utara pun tersenyum miris, memegang kepalanya yang luka. Hati yang berlumur darah dendam itu pun tinggal cerita. Kata-kata maaf tak pernah terucap. Perilaku menyesal tak pernah terungkap. Senja yang indah telah meninggakannya. Dengan segala kecerobohannya. Utara kini sedang menikmati jagung bakar sambil telanjang. Melihat perahu layar yang terombang-ambing di lautan, perahu yang memelihara kecerobohannya, karena sering berlayar malam tanpa berpenerang. Di sebelahnya duduk entah siapa perempuan yang sedang bermanja di lengan atas dekat bahunya sambil memeluk erat dan berbisik.

“Siap-siap sayang.. telingamu akan lenyap disambar peluru”

“anjeenk.. dor!”

Kamarhitam, ditemani The SIGIT, 12MEI13

 

*zn

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s