Kartu Pos Untukmu

Dua pekan berlalu sudah. Belum ada kartu pos darimu diatas meja karyaku. Mungkin besok atau besoknya lagi ucapku dalam hati mencoba bersabar. Mungkin setiap orang di rumah sudah bosan, selalu kutanyakan adakah pak pos datang? Dan mereka menjawab tak ada, tak tahu.

Kutuliskan kartu pos itu tepat tiga hari menjelang hari jadimu. Hari lahirmu. Kartu pos yang bergambar suasana kota kala senja. Kota yang pernah kita isi dengan canda tawa, obrolan keresahan, obrolan kegemaran, hingga saling diam.

Bukan. Aku bukan ingin mengungkit masa lalu. Namun sejarah tak pernah bisa dihilangkan begitu saja. Apalagi sejarah tentangmu. Aku masih ingat bagaimana kamu tertawa lepas. Aku masih ingat bagaiman raut wajahmu kala senyum gembira. Manis memang. Aku tak bisa mengingkari itu. Aku juga masih ingat ketika bagaimana kamu marah, kamu diam dan bermuram. Entah mengapa. Aku seperti terseret ingatan itu kala aku artikan waktu duduk di dekat stasiun kereta menonton matahari terbenam. Ingatan yang makin menajam. Dan kala malam semakin tajam. Lalu tertunda lagi kala terpejam. Sering mampir dalam ketidaksadaran. Dirimu dan tingkahmu. Obrolan langsung terakhir kita. Aku tak pernah tahu apa penyebabnya. Dan aku sepertinya sedang tidak mau tahu. Senja yang merah itu tak memberikan kesempatan kepadaku untuk sejenak melupakanmu. Tak pernah. Seakan ingin membuatku terperangkap. Kadang aku memilih tidur sore. Walau kata orang itu tidak baik. Namun ketika tidur sore. Setidaknya aku bisa membiarkan sejenak saja, ingatanku padamu melunak.

Kuharap kamu benar-benar menerima kartu pos dariku. Syukur-syukur kamu mau membalasnya. Ku tuliskan beberapa kartu pos lagi untukmu. Sambil ku menunggu. Kartu pos yang akan mengajakmu, kembali seperti senja yang jingga. Seperti senja yang menghitam. Seperti senja yang menguning. Seperti senja yang akan mengingatkanmu kalau kamu abai. Bahwasanya aku masih mengagumimu. Di setiap senja kulepaskan ke udara segala rindu, siapa kira kereta akan membawanya ke kotamu, siapa kira seorang yang baik budi, mengantarkan rindu-rindu itu langsung ke dirimu. Karena aku tahu bisikku selalu menjadi bisingmu. Kala kamu duduk bersamanya, memandang langit indah di pantai setiap akhir pekanmu.

Kutuliskan kartu pos untukmu, tentang kerinduan.

Kamarhitam, ditemani album Queen Live Killers, God Save The Queen. 10MEI13

 

*zn

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s