Celoteh Pejalan Kaki Yang Murung

Dia, pejalan kaki murung itu. Kerjanya sehari-hari hanya berjalan menyusuri pedestrian kota lalu mengumpat, karena kepanasan dan kelelahan. Bukan, bukan hanya, namun adalah. Kegiatannya sehari-hari adalah berjalan dan berjalan. Melewati tempat yang sama di dalam kota yang sudah sesak ditumbuhi pohon baru bernama papan iklan. Kepansan karena pohon lama yang lebih dinamis dikata sudah usang, tergantikan dengan paksa, mau tidak mau. Masa bergerak maju, jiwa modern memaksa pohon-pohon rindang tunduk dalam rumah baru, dalam pot-pot yang mudah pecah. Pohon lama penyebab sampah, daun-daun yang gugur disangka penyebab tersumbatnya aliran air, yang mengakibatkan banjir jika hujan. Kelelahan karena harus turun naik, masuk keluar lubang.

Sepanjang waktu, sepanjang hari. Berjalan dengan kepala tertunduk, tatap matanya menghujam langkah. Seperti sedang menghitung semua jejak yang pernah ia tinggalkan. Lalu dipaksa mengulang hitungan karena dengan sengaja menabrakan diri pada warung tenda yang dibangun sementara di pedestrian atau pot-pot pajangan, berbagai penanda larangan parkir. Mengumpatlah ia dengan sesuka-kecewanya karena hal-hal tadi bisa dijadikan alasannya mengumpat ketika ditanya orang iseng yang pura-pura peduli. Sebenarnya ia bisa saja mengumpat tanpa perlu alasan. Tapi sayangnya ia sadar betul. Ia masih sehat. Ia hanya lelah menjadi seorang pejalan. Bukan orang terganggu jiwanya, yang suka meracau, dan terjauhkan.

Setiap kali melihat lubang, ia mengumpat lagi. Semangat berapi-api. Seperti ahli pidato ia bersuara.

“hah! ingin membunuhku, membuatku bodoh karena sering terperosok” teriaknya.

“Sebenarnya siapa yang tega membodohi dan dibodohi, sengaja membiarkan lubang makin besar di pedestrian, di jalan-jalan tapak? Ini yang membuatnya pasti setengah hati, mengacuhkannya jika rusak sepenuh hati, memperbaiki seperempat hati, memerekaka itu kerjanya apa?” entah memerereka yang dimaksud itu siapa. Suaranya lalu terlelan bunyi sirine patroli pengawal.

Sering orang bilang “maka hati-hati kalau jalan” jika ku terperosok. Tak bisakah lubang itu ditutup dengan rapi? Atau kalau berfungi untuk saluran air tidak bisakah lubang itu dibuat tidak membahayakan? Kenapa harus selalu hati-hati? Kenapa tidak senang-senang? Senang-senang ya kalau menyeberang. Atau senang-senanglah di jalan.

Ketika pejalan itu sampai di depan sebuah gedung penguasa. Tertulis orang bijak taat bayar upeti. Upeti untuk membangun… berderet-deret kata manis. Pantas saja. Hanya orang bijak yang mendapat fasilitas. Karena mereka membayar upeti. Aku yang hanya orang jalan, harus menerima kenyataan bahwa hidup memang membosankan kalau hanya mulus-mulus saja. Karena pemahaman itulah, jalan-jalan untuk pejalan banyak wahana. Ada lubang, ada pot, adanyaaa itu. Jangan protes!

Sial, ia lalu meludah, dan ludahnya mengenai kakinya. Sial lagi. Dibersihkannya ludah yang kena kakinya. Ketika ia senang menundukkan tubuhnya. Sebuah motor mengklaksonnya. Tersungkur ia karena kaget. Pengendara yang mengambil jalan pintas, untuk sampai terlebih dahulu, entah dalam kejuaraan apa. Sial lagi-lagi sial. Pejalan sepertinya sudah tidak pernah dianggap lagi sebagai pengguna jalan terasing dari unsur-unsur tata letak atau tata kota. Di kota yang tumbuhannya sudah kaku dan kotak-kotak. Alih-alih minimalis. Kenyamanan hanya mimpi. Tak perlu menangis tapi silahkan jika ingin meringis. Pejalan kaki itu pun duduk manis di warung makan tanpa tenda, “bang, es teh satu ya.”

Kamarhitam, daftarmain campur, 9MEI13.

*zn

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s