Berucap Selamat Pagi Pada Mentari

Aku tak pernah menyangka bahwa kami baru saja melewati jalan yang sepi dan mendebarkan itu. Pantas saja petugas stasiun pengisian bahan bakar menyarankan kami untuk menghindari jalur ini. Sepanjang jalan yang kami lewati jarang berpapasan dengan kendaraan lainnya, hanya orang-orang diam dengan kupluk dan mengenakan sarung. Selebihnya pemukiman tenang, kebun, ladang tebu, pemukiman sunyi.

Ketika ditengah pengarungan, rasa penasaran kami menyeruak, benar saja, yang namanya ketakutan dan kekhawatiran masih ikut menumpang bersama kami. Kami pikir dia turun di stasiun pengisian tadi ketika kami memutuskan untuk melewati jalur ini. Ternyata tidak mereka masih bergelayut di kepala kami. Pertanyaan kami masih berkisar pada benarkah jalan yang ini?

Kami berhenti di tengah perkampungan, untuk sekedar menyalakan api penghangat, dan meyakinkan diri bahwa jalan yang kami tempuh berikutnya adalah tepat. Setelah berjalan perlahan untuk menggali informasi, tak seorang pun kami temui. Lalu kami berbincang sejenak di bawah gapura masuk perkampungan lainnya. Membincangkan, melanjukan atau menangguhkan kisah kecil pengembaraan ini. Sontak saja niat itu terbang bersama kabut. Kami memutuskan untuk terus menembus malam yang makin dingin dan senyap itu. Walaupun kami hanya mendengar suara dari motor yang kami kendarai, suara obrolan berdua yang sekuat bicara memecah gelap. Kami sudah menyepakati jika saja terjadi hal buruk, kami sudah siap menghadapinya, siap melawan, siap kehilangan harta benda tak seberapa yang kami bawa.

Selepas jalan aspal pemukiman, jalan kecil yang hanya dapat memuat tak lebih dari 3 motor yang disejajarkan. Suara raungan motor menembus hutan, motor yang tangguh dan pengendara yang nekat. Dingin dan penerangan lampu seadanya manjadi penghias perjalananan. Sambil mengobrol sering kami menertawakan sunyi. Tentunya akan bermanfaat energi yang kami keluarkan untuk tertawa dan berdendang daripada kami harus mengeluh dan menyesalinya.

Melihat api kami berhenti. Kami saling memandang, jalan! Adakah kerumunan orang di sana? Kami pelan-pelan mendekati api tersebut. Tak ada! Kencang kendara kami melaju. Bayang-bayang pepohonan, bintik-bintik bintang, cahaya bulan dari kejauhan, kami puja sekali. Bagaimana dingin yang mendebarkan ini masih saja didukung dengan keramahan langit.

Di persimpangan kami berhenti, menentukan arah kanan dan kiri. Kanan kami ambil, nyatanya itu keliru. Jalan itu malah menjauhkan kami dari tempat tujuan. Fajar sebentar lagi, prediksi mengembang, kami sepertinya akan terlambat sampai tempat tujuan. Tempat yang akan jadikan situs untuk merayakan upacara seadanya dalam menyambut mentari pagi, merayakan kenekatan dan keingintahuan besar kami. Kami berbalik dengan melewati jalan yang sama, setelah ada petunjuk yang menyakinkan kami. Mentari yang pecah cahayanya perlahan mulai mengedip ke bumi, diantara dingin dan padang pasir, kami berhenti. Kami menyadari bahwa kami telah telat menyambut fajar di tempat tujuan, seperti rencana awal. Tak masalah, kami tetap berbahagia diri menikmati datangnya pagi di tengah hamparan pasir. Memakan wafer coklat yang mengeras karena dingin. Setelah puas berucap selamat pagi pada mentari. Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan. Motor yang diatur untuk berkuasa di jalan aspal dan keras, harus susah payah melewati padang pasir ini. Jatuh bangun kami dibuatnya. Setelah prosesi mandi pasir kami pun. Sampai di tempat tujuan, memarkirkan kendaraan dan berjalan mendaki anak tangga satu demi satu. Cerahnya hari menebus semua ketakutan dan kekhawatiran itu. Oh ya mereka sudah turun semenjar fajar bersiul.

Tanpa sadar kami sudah menari-nari di puncaknya. Waktupun mengalir puas. Kami pulang. Sekarang yang menumpang adalah lelah dan kantuk. Mereka menumpang diam-diam. Penumpang gelap. Dengan eskrim dan cokelat batang, mereka akhirnya memilih tinggal. Kantuk dan lelah kami tinggalkan di trotoar. Rasa penasaran dan tak percaya menyambut kami di depan pintu kamar seorang kawan tempat kami menumpang. Sinting! Mereka bilang.

 

Kamarhitam, ditemani Oasis, 7MEI13

 

*zn

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s