Sejenak Menyingkir Ke Arah Selatan

Menikmati simfoni deburan ombak, deru gelombang yang bersahut-sahutan, angin pesisir yang menyisir, dengan segelas kopi pelaut, musik, dan sebuah buku, kami isi hari awal pekan dengan suasana tenang, jauh dari kebisingan mesin dan kecerewetan orang-orang. Meski sesaat, senin yang bimbang itu mulai perlahan meninggalkan risau menuju gelap.

Sejenak menyingkir ke arah selatan. Dari kota yang mulai sesak wajahnya, dari kota yang mulai aneh kebijakan penguasanya yang jauh dari kenyataan bijak, dari kota yang tumbuh bangunan-bangunan baru, bertingkat, untuk dijadikan hotel tempat perniagaan. Kami melintasi jalan yang naik turun, berkelok-kelok. Bercerita kami di perjalanan tentang kegundahan, tentang kabar-kabar dari obrolan.

Setelah sekian waktu tiba kami di dataran rendah, pesisir, pinggir pantai yang dibatasi dengan bukit-bukit karang. Kami mencari tempat untuk menggelar matras. Memasang kasur ayun berbahan tali. Beranjakku ke warung dekat, membeli dua gelas kopi hitam. Dan kembali dengan sambutan tawa. Karena sapuan air laut telah membasahkan matras, buku dan pakaian. Kami memutuskan untuk pindah, mencari tempat yang agak menjorok ke darat, berjarak dengan lidah gelombang, agar terhindar dari sapuan yang membasahkan berikutnya.

Matras kembali digelar, kasur ayun mulai dipasangkan, dan kami mulai menikmati wahana masing-masing, kawanku dengan pemutar musik, santai berayun. Aku duduk membaca buku dengan iringan dari Pink Floyd. Kata, kalimat, baris, halaman, mulai diolah. Detik mengejar menit hingga menyantap jam. Tenang, tawa, tenang, tanya, santai dan damai.

Tak terasa gelap mulai memberi tanda. Kami putuskan untuk mengakhiri vakansi awal pekan yang singkat ini. Sayang langit sedang tak berpihak sepenuhnya, senja sembunyi di balik awan-awan yang menyerupai kembang gula, hanya sedikit percikan jingga yang mengintip di samping bukit karang. Aku berujar dalam hati, besok kita berjumpa lagi, bisa di sini atau di pesisir lainnya, dengan buku dan suasana yang sama atau mungkin jauh berbeda. Yang pasti, aku dan siapa saja nantinya, akan merekam dengan tenang senja yang lebih tenang, banyak merekamnya dengan indera, sedikit dengan perangkat digital, dan membawa cerita semacam yang kutuliskan ini. Cerita yang bisa saja membosankan atau apapun nantinya. Setidaknya, cerita-ceritaa tak akan terbang begitu saja. Bisa bersama angin menuju laut mengantar para nelayan mencari peruntungan.

Di pantai yang tenang itu, kutuliskan sebuah doa di atas pasirnya yang halus agak putih kekuning-kuningan itu. Semoga air laut menyapunya dan membuat doa itu seluas lautan semesta, dan para penghuni laut dari yang mikro sampai raksasa bentuknya, ikut memohon agar terkabul. Amin. Doanya singkat saja. Untukku, pandailah bersyukur.

Dan kami kembali ke kota yang sesak wajahnya.

Kamarhitam, ditemani RATM, 6MEI13

*zn

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s