Demi Pembangunan Kamu Sebaiknya Menyingkir

Wajahnya murung, seperti memikul awan mendung yang hitam pekat. Siap menumpahkan air hujan dan mengalirkan kerisauan. Petir nampak, namun berdiam.

Bagi mereka yang sedang tidak berada di zona nyaman. Kemurungan bisa berarti kegelisahan yang mengakhawatirkan. Seorang lelaki muda yang tak lagi sepenuhnya, kawan lamaku. Hanya duduk-duduk risau di sebuah warung kaki lima. Hampir habis bingungku terlontar. Diamnya begitu menyiksa. Setelah lama diayun-ayunkan kakinya yang kecil itu. Akhirnya sebuah kata keluar sebuah kabar yang sudah kuduga tak enak didengar.

Siang itu cerita dia akan kabar yang berkembang. Tempat hiburan rakyat, tempatnya sehari-hari mencari nafkah dengan bernyanyi, akan ditutup.

Penyebabnya masih diduga. Katanya mau dibangun ini. Dibangun itu. Kabar yang belum pasti ini, tentu membuat banyak pertanyaan menumpuk. Tinggal menunggu waktu untuk meletup.
Bagaimana ia bercerita. Telah membuatku semakin seperti tak bersekat dengannya. Kemurungan yang janggal itu. Terkuak sudah.

Bisa jadi tak hanya dia yang menyimpan murung. Siang ini. Hari-hari belakangan ini. Ketika kabar tak enak itu masuk melalui telinga mengacak-acak pikiran dan hati. Banyak orang seperti dia yang akan mengayun-ayunkan kaki. Bukan karena nyaman. Seperti para penggede yang berjuta-juta simpanannya. Ayunan yang berarti kegelisahan. Mencari jawaban akan pertanyaan. Mengunduh solusi akan permasalahan. Banyak orang yang siap tumpah air mata kecewanya, kebingungan. Dan langit semakin murung. Meski musim cerah telah kembali.

Begitu dahsyatnya pengaruh pembangunan ekonomi. Ada korban yang sepatutnya tak harus jadi. Demi tahap menuju modern, sebagian dari pemangku kebijakan telah gelap mata. Tempat hiburan rakyat. Menjadi sejarah saja. Di negeri yang penguasanya cuma bisa memerintah tanpa merasa ini. Banyak sudah tempat publik menjadi barang mahal. Susah menjangkaunya. Sekalipun bisa akan mengeluarkan banyak biaya.
Seperti lelaki ini. Aku juga merasakan kehilangan. Bahwa tempat yang paling “manusia” sekalipun, harus rela menyingkir demi, lagi-lagi kebutuhan sebagian mereka yang buta, tuli.mata hatinya.

Siang itu, aku jadi saksi bagaimana kawan lamaku harus memutar otaknya lebih teramat keras lagi. Demi keluarganya. Demi nostalgia, demi anak-anak jaman. Penutupan ini yang namanya kebablasan, sungguh kemunduran.

Kamarhitam, ditemani Supertramp setelah Chrisye, 5MEI13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s