Senja, Masihkah Dengan Kamu Menikmatinya?

Senja. Betapa aku menyukainya, mengaguminya. Belum juga kebosanan hinggap untuk bercerita tentangnya, membaca ceritanya, mendengar kisahnya, menyaksikannya di beranda, di sekitar stasiun dekat kota, di ujung berpasir, di puncak ketinggian dataran, di manapun itu. Selagi langit berpihak pada darat. Senja yang itu dan hanya jika itu.

Berkisah semenjak seseorang membukakan jalan, mengubah cara pandangku terhadap cakrawala petang. Dulu ya, senja hanya senja. Tak lebih dari keindahan-fenomena alam. Namun kini, setelah kisah berlalu dan tubuh janggut di dagu. Di ujung darat itu, kami–aku dan dirinya, melemparkan kalimat-kalimat rindu yang (akan) mengarungi laut utara jawa hingga mendarat entah kemana, mungkin juga turut tenggelam bersama mentari. Lalu timbul di ujung lainnya sebagai kalimat-kalimat jelas. Lau tenggelam, timbul kembali, sampai pada masa di mana yang pergi takkan kembali lagi. Meski hanya tinggal cerita, akan terlupa di balik awan mega.

Di balik sekat lantai dua. Di antara digital dan barisan buku. Aku menatap jendela. Melihat rona jingga perlahan memudar. Dari sana kerinduan mempijar. Di sela-sela dedaunan, di antara atap-atap pemukiman. Kisah-kisahku terlintas. Sekejap. Mengajakku memberhentikan waktu. Memusatkan pandangan pada awan dan kombinasi warna menuju gelap.

Dalam naungan gelap, senja ku rangkai. Senja yang baru ditiriskan dari penggorengan langit. Masih renyah dan gurih. Sebelum waktu itu tiba. Waktu yang akan menyeretku membenci perihal oranye dan jingga. Aku tak berharap itu benar-benar terjadi. Aku masih ingin menikmati menjelang enam, menjemput petang, dengan sederhana. Tanpa pengaruh kekinian yang mengharuskan sesuatunya terekam dan tersebar. Biarlah, kiranya masih banyak bangku kosong untukmu. Senja. Di dalam rumah ingatanku. Aku tak ingin seperti kebanyakan dari mereka yang melepas waktu dengan mengumpat petang. Bergegas meninggalkan satu tempat menuju tempat lainnya. Sekedar untuk beristirahat, menjinakkan penat dalam kotak-kotak kaku bersuhu ruang. Aku masih ingin duduk di bangku taman, berdiri di sebelah pedagang leker. Bercerita dengan siapa saja. Perihal ini. Kekasmaranku pada senja. Yang belum usai. Semakin sering tersiram warna jingga. Makin memuncak saja rindu ini. Kepada seorang yang membuatku terperangkap dalan skenario roman dalam jurang ini.

Bagaimana denganmu yang di sana? Masihkah kau menikmati senja sesederhana dulu? atau mungkin kau sudah mencapai lantai gedung berpuluh tingkat temompat kerjamu/ apartemen tempat tinggalmu dengannya untuk menjarinh senja? Maukah kau bercerita? Kuharap begitu.

Kamarhitam, ditemani The Beatles – Rubbersoul, 3MEI13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s