Aku, Kucing, Kamu Dan Taman

Kaget aku dibuatnya. Kucing penghuni taman itu datang mendekat ke kaki kiriku. Aku saat itu sedang duduk melihat matahari yang pamit pulang. Kucing berwarna tiga. Kuning hitam dan putih. Ku ambil kucing itu memindahkannya ke pangkuan. Dengan mengelusnya aku bercerita. Sambil melihat senja yang pulang. Ku katakan bahwa orang yang kau cari sedang tak ikut denganku. Dia sedang pergi sejenak. Kamu merindukannya bukan? Serupa dengan rinduku.

Aku tahu rindumu akan belaian lembut tangannya, makanan yang ia berikan padamu. Aku merindukan senyumnya, suara lembut dan teduhnya jika bercerita. Tapi jangan khawatir. Dia takkan pergi begitu lama. Berdoa saja. Setelah ia menyendiri, bolehlah ia kembali bersamaku, bersamamu juga hai kucing penjaga taman. Di bangku yang ini sama waktunya. Saat senja akan melepas matahari untuk bertugas di belahan lainnya. Kamu menikmati kasih sayangnya. Aku memperhatikan gerak geriknya. Sial, tebal sudah rinduku padanya.

Pernah waktu ketika kami berdua datang untuk bersaksi pada petang, dan kamu tak hadir. Betapa ia merisaukanmu. Hilir mudik ia mencarimu. Disisirnya taman yang luasnya tak seberapa, dibandingkan dengan rindumu sekarang. Dia perempuanku sedang kebingungan. Hatinya resah menunggu waktu. Dipilihnya pilihan keluarganya atau aku.

Maka belakangan ini. Kau, hai kucing jantan pendiam. Bersabarlah. Jangan bosan menantinya. Karena dia berjanji takkan pergi jauh. Dia sudah menitipkan ruang rindunya kepadaku. Untuk sebebas mungkin aku isi dengan berbagai macam rindu. Termasuk rindu padamu. Kucing pengantar senja. Dan dia akan kembali apapun keputusannya. Pergi atau ia pulang. Bukan lagi kehendak dan kuasaku.

Sekian aku bercerita dengan Calico. Kucing yang dinamakannya itu. Dan langit benar-benar gelap. Hanya tinggal lampu taman yang enggan menyala terang. Menjadi remang. Kusudahi saja menjamu petang. Dalam menunggu saja. Kita tak pernah benar-benar sendiri. Ada sisa jejak ingatan yang hangat karena dihangatkan terus, menjadikannya semacam kawan dalam kepala. Dan kau calico, mudah-mudah kau bisa juga bersaksi. Bahwa siapa yang berkemungkinan besar mengingkar janji. Aku atau dia, atau mungkin juga kamu.

kamarhitam, ditemani The Beatles Love Songs, 2MEI13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s