Ketika Ku Merasa Telah Melihatnya

Pertama kali aku melihatnya dengan mata dunia. Di salah satu sudut kota. Yang ramai dan riuh dengan suara. Berbagai cerita yang berkembang tentangnya, lisan dan tulisan, yang ku dengar dan ku baca. Ku serap semuanya. Dan waktu itu apa yang kuserap seakan tumpah ruah. Coba membenarkan apa yang telah kudengar dan kubaca demikian itu. Dia begitu menarik, sangat menarik. Pertama yanh kali itu belum bisa lagi kutanyakan mereka yang bercerita itu. Semuanya kini jelas. Tahap awalnya. Ketika mata dunia dapat bentuk nyata.

Ku berkenalan, lebih jauh lagi. Obrolan-obrolan tentang dirinya. Sebaliknya juga. Pertanyaan tentang diriku pun terlontar, loncat begitu saja. Bebas dan liar. Tak bisa ku pungkiri. Buah karyanya telah membuatku mengaguminya. Seorang yang pandai merangkai rasa. Bersuara dengan nada. Tak lembut sekali tak juga kuat sekali. Sedang-sedang, kadang kuat–amat kuat, kadang lembut–amat lembut, lembut bertenaga tepatnya.

Dari obrolan terik siang hingga larut malam. Suasana kami bikin sedemikian jadi. Berupa rasa yang tak pernah putus. Mungkin orang bilang ini yang namanya kasmaran. Namun menurutku kasmaran berbeda rasanya. Ini kagum yang terbungkus. Entah sebutan apa yang tepat. Aku sedang tak peduli. Obrolan meluas hingga belah bibir dan belah jemari. Kami membuat penjara tersendiri, menjaga apa yang dititipkan. Selagi bisa. Selagi mampu. Dan memang seperti itu harusnya. Karena aku memang hina. Tak butuh penghinaan berlebiham. Karena dia memang indah. Tak perlu keindahan buatan. Kemudian obrolan kami berubah macam kerinduan. Bau tubunnya, gerak-geriknya mulai menuntut lebih. Yang dituntut pun tak tanggung-tanggung. Adalah waktu. Yang tak bisa terulang. Namun ketakutan tak perlu disematkan berlebihan pula. Adalah kesempatan. Karena memang jika saja peluang yang kita siapkan lebih siap. Maka kesempatan bisa saja datang kembali. Takkan mudah menerka. Takkan mudah hanya dengan menduga. Kesiapan itulah. Kurang lebinnya sudah dipertimbangkan. Aku dan dirinya menyadari itu. Sadar teramat sadar. Kami bersyukur akan kesiapan dan kesempatan yang tak terduga. Karena tantangan. Itualah bentuk syukur kami. Tantangan. Bisa saja karena pengujian adalah syarat untuk lanjut kemudian.

Sekarang dia di dalam genggaman sedang menari, berputar-putar. Aku dibuatnya senang, juga tenang. Masa yang kemarin itu bisa kami nikmati lagi. Dengan semangat kesiapan dan kesempatan. Entah tantangan macam apa yang siap menguji? Semuanya bisa, walau harus ada tapi.

Aku merindukannya, jelas merindukannya. Yang ada hanya kini bayangku dan bayangnya. Duduk manis di atas tikar. Dengan musik kegemaran melantun hingar. Sedemikian itu hebatnya sejarah. Membuat kami hanya senyum, menutup mata, bergelengan, terperangah.

Semoga dirimu bahagia. Kutahu bayangmu tersenyum di sampingku kini. Dia tampak gembira. :-)

kamarhitam, ditemani Dream Theater, 1MAY2013.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s